Kumpulan Cerita Silat Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212


selamat datang teman teman di.. https://matjenuh-channel.blogspot.com..dari dusun airputih desa sungainaik.. ikuti grup Facebook matjenuh di kumpulan novel wiro sableng.. cukup agan cari saja dengan mengetikan nama grup kumpulan novel wiro sableng di Facebook... subscribe juga channel matjenuh di YouTube ..ketikan nama matjenuh channel... terimakasih..salam santun dari matjenuh channel 🙏🙏🙏🙏

Jumat, 07 Juni 2024

PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 WIRO SABLENG - TUA GILA DARI ANDALAS

 

https:0/matjenuh-channel.blogspot.com


SATU


SEORANG bertubuh tinggi besar 

berkelebat dalam gelapnya malam 

menuju lereng timur Gunung 

Singgalang. Di bahu kiri dia me-

manggul sesosok tubuh kurus 

bersimbah darah mulai dari kepala 

sampai ke badan. Di sebelah belakang 

dua orang berlari cepat mengikuti si 

tinggi besar. 

Di satu pedataran sempit di timer gunung, orang di sebelah depan hentikan larinya. Lalu 

seperti melemparkan batangan kayu tidak berguna orang ini bantingkan sosok tubuh yang 

dipanggulnya ke tanah. Dari mulutnya kemudian keluar seruan. 

"Sabai! Kami datang!" 

Belum habis gema seruan orang bertubuh tinggi ini tiba-tiba dari arah depan di mana terdapat 

sebuah goa batu melesat satu bayangan hitam putih! Yang hitam adalah pakaiannya yang 

berbentuk jubah dalam, seorang yang putih adalah rambutnya yang sepanjang pinggang. Berdiri di 

hadapan tiga orang yang bare datang di tempat itu, ternyata adalah seorang nenek bermuka putih. 

Walau wajahnya sudah keriput namun masih kentara tanda-tanda bahwa di masa mudanya 

perempuan tua ini adalah seorang gadis cantik jelita. Karenanya tidak salah orang menyebutnya 

Sabai Nan Rancak yang berarti Sabai Yang Cantik. 

Si nenek pandangi tiga orang lelaki di hadapannya seolah hendak menelan mereka. Tanpa 

memandang pada sosok tubuh yang melingkar di tanah tak jauh dari tempatnya berdiri si nenek 

bertanya. 

"Kalian berhasil?" 

"Apakah kami masih perlu menerangkan Sabai?" tanya letaki tinggi besar berusia lebih dari 

setengah abad. "Kau lihat sendiri apa yang barusan aku lemparkan ke tanah!" 

"Hemmm.... Begitu...?" Si nenek elus-elus rambutnya yang putih panjang. Dia melirik pada 

sosok tubuh kurus berpakaian putih bersimbah darah yang tergeletak enam langkah di samping 

kirinya. Lalu dia menyeringai. 

"Kau tidak mempercayai kami?" Lelaki di sebelah kanan si tinggi besar ikut bicara. Orang ini 

bertubuh cebol memiliki cambang bawuk begitu tebat hingga dari wajahnya yang terlihat hanya 

ujung hidung, sepasang mata dan sedikit bagian keningnya. 

"Dari bau anyir darahnya saja aku tahu kalau mayat yang menggeletak di depan situ memang 

bukan orangnya!" 

"Sabai..." lelaki ketiga, yang paling muda di antara tiga orang yang barusan datang itu maju dua 

tangkah ke arah mayat. "Malam begini gelap, muka mayat tertutup darah. Agaknya sulit bagimu 

untuk mengenalinya...." 

Si nenek tertawa. Dia pandangi lagi tiga orang di depannya seperti tadi seolah mau menelan 

mereka butat-bulat. 

"Katian bertiga hendak mendustaiku atau bagaimana?" Si nenek bertanya. Suaranya perlahan 

saja tapi mengandung ancaman. 

"Sabai! Kau tahu kami siapa! Setelah menerima hadiah darimu masakan kami berani menipu? 

Kau kira siapa yang kami bunuh? Kau sangka mayat siapa yang kami bawa ke hadapanmu?" 

Berkata si tinggi besar. 

"Bagus kalau kalian memang tidak punya maksud begitu!" Si nenek lalu berpaling pada telaki 

bertubuh cebol. "Alam Babegah! Coba kau bersihkan muka mayat dari noda darah yang 

menutupinya!" 

Si cebol memandang pada kawannya si tinggi besar. Setelah orang ini mengangguk si cebol 

mendekati mayat yang tergeletak di tanah. Dengan telapak kaki kirinya dibersihkannya muka 

mayat yang penuh luka dari selubung darah.

"Sudah aku lakukan Sabai! Nah apa sekarang kau mengenali dan memastikan bahwa dia 

memang orang yang kau suruh bunuh?" ujar si cebol Alam Babegah. 

Nenek berambut putih panjang itu pandangi wajah mayat. "Mata cekung dan lebar memang 

sama dengan matanya. Hidung seperti burung kakak tua juga sama dengan si keparat itu. Muka tak 

berdaging seperti tengkorak juga sama. Mmmm...." 

"Bagaimana Sabai?" bertanya lelaki tinggi besar. "Sudah jelas bagimu sekarang bahwa itu 

adalah mayat Tua Gila? Tidak sia-sia kami melakukan permintaanmu sampai-sampai dua sahabat 

kami menemui ajal dalam melaksanakannya!" 

Si nenek rambut putih menyeringai. 

"Tampang boleh sama tapi belum tentu dia orangnya!" Sabai Nan Rancak patahkan sebatang 

ranting kering lalu dekati mayat yang terkapar di tanah itu. Dengan ujung ranting ditorehnya 

punggung pakaian mayat sebelah kiri. Lalu dia memperhatikan dengan mata tak berkesip! Sesaat 

kemudian terdengar suaranya keras dan marah. 

"Kalian benar-benar telah menipuku! Bangsat ini bukan orang yang kumaksud! Tua Gila 

punya tanda sebuah tahi lalat di punggung kirinya. Orang ini tidak punya tanda itu!" 

Tiga orang di depan Sabai Nan Rancak jadi terkesiap. Si tinggi besar masih berusaha membela 

diri. "Setelah puluhan tahun berlalu bisa saja tahi lalat itu lenyap dengan sendirinya...." 

"Traakkk!" 

Sabai Nak Rancak hantamkan ranting kayu di tangan kanannya ke mulut orang yang bicara 

hingga ranting patah. Darah mengucur dari luka besar di bibir si tinggi besar. 

"Marang Tongga! Aku tak suka pada orang yang banyak mulut pandai berdalih macammu! 

Aku sudah katakan orang ini bukan Tua Gila! Kau masih mau berbanyak mulut?" 

Marang Tongga si tinggi besar dan dua kawannya yaitu si cebol Alam Babegah serta Sidi 

Kumango sesaat jadi terdiam. Lalu dengan suara merendah Marang Tongga berkata. 

"Kalau memang kami telah kesalahan tangan, itu hanya satu kebetulan saja Sabai. Kami tidak 

ada niat buruk untuk menipumu...." 

"Lalu?!" 

"Kami akan turun gunung kembali dan mencari musuh besarmu itu sampai dapat. Lalu

embawa mayatnya ke hadapanmu!" 

"Tiga bulan lalu kau juga berkata begitu. Apa hasilnya?!" 

"Sekali ini kami akan bekerja hati-hati, penuh selidik." Sabai Nan Rancak tertawa panjang 

membuat tiga lelaki di hadapannya jadi tidak enak. 

"Kepercayaanku pada kalian putus sudah. Kalian boleh turun gunung. Aku tidak akan me-

minta kalian untuk mengulangi mencari keparat itu. Marang Tongga, sebelum pergi harap kau 

kembalikan dulu kantong emas yang aku berikan tempo hari!" 

"Tapi Sabai...." 

Si nenek pelototkan matanya pada Marang Tongga. Air mukanya menjadi sangat 

menggidikkan. Kepalanya digelengkan beberapa kali. "Tidak ada tapi-tapian Marang. Lekas 

kembalikan emas itu!" Si nenek lalu ulurkan tangannya. 

Sambil gigit-gigit bibirnya sebelah bawah tanda kesal Marang Tongga keluarkan satu kantong 

kecil dari balik pakaiannya. Kantong berisi emas ini dilemparkannya ke arah Sabai Nan Rancak. Si 

nenek cepat menyambutnya dan cepat pula berkata. 

"Aku belum pikun. Seingatku dulu aku memberikan dua kantong emas padamu. Mengapa kau 

mengembalikan cuma satu?" 

Marang Tongga menyeringai. "Sabai harap kau maklum. Tugas yang kau berikan pada kami 

bukan saja menghabiskan biaya, waktu tapi juga tenaga dan pikiran. Dua orang sahabat kami 

bahkan menemui ajal. Jadi aku rasa pantas kalau cuma satu kantong yang aku kembalikan 

padamu!" 

Sepasang mata si nenek tampak memancarkan einar aneh. "Kita tidak pernah membuat 

perjanjian seperti itu! Bayaran kalian dua kantong emas kalau berhasil membunuh Tua Gila dan 

membawa mayatnya ke hadapanku! Yang kau bunuh ternyata bukan Tua Gila! Jelas perjanjian 

menjadi batal! Ayo, cepat serahkan padaku emas yang satu kantong!" 

"Emas itu tidak ada lagi padaku. Aku tinggalkan di satu tempat!" 

"Jangan berani dusta!" bentak Sabai Nan Rancak. Wajahnya yang putih merah membesi. 

"Kalau tidak percaya silahkan geledah!" jawab Marang Tongga. 

"Kalau begitu sekantong emas itu terpaksa kau ganti dengan nyawamu sendiri!" kata Sabai Nan Rancak pula. Lalu masih memegang ranting kayu di tangan kanan dia melangkah mendekati 

Marang Tongga. 

Lelaki tinggi besar ini segera mencium bahaya. Maka dia cepat berkata. "Tunggu dulu Sabai! 

Apa yang hendak kau lakukan?!" 

"Apa kau tuli? Tidak dapat kau kembalikan sekantong emas itu, berarti kematian bagimu!" 

"Jangan begitu Sabai. Bagaimana kalau kita membuat perjanjian baru? Kami bertiga 

bersumpah akan mencari Tua Gila sampai dapat membunuhnya dan menyerahkan mayatnya 

padamu!" 

"Janji dan sumpah hari ini tidak laku lagi Marang Tongga! Sekali aku bilang kau harus mati 

tak dapat ditawar-tawar lagi. Atau mungkin dua kawanmu itu bisa mewakili kematianmu?!" 

Berubahlah paras si cebol Alam Babegah dan Sidi Kumango mendengar ucapan si nenek. Se-

baliknya Marang Tongga menyeringai la!u berkata. 

"Jika kau memang suka nyawa mereka silahkan ambil!" 

"Marang Tongga! Kau sudah gila!" teriak Sidi Kumango. 

"Dia yang memimpin! Dia yang bertanggung jawab! Dia yang harus kau bunuh!" menimpali 

Alam Babegah. 

Si nenek tertawa panjang. "Daripada susah-susah menentukan siapa yang harus kubunuh ba-

gusnya kalian bertiga aku habisi saja!" 

Sabai Nan Rancak melesat ke depan. Ranting di tangan kanannya menyambar, berubah 

menjadi tebaran bayangan hitam mengeluarkan suara menderu. Tiga lelaki berseru kaget. Marang 

Tongga melihat ujung ranting menyambar ke arah keningnya. Cepat dia melompat mundur. Alam 

Babegah membuang diri ke samping begitu ujung ranting di tangan si nenek membabat ke 

perutnya. Yang terlambat menyelamatkan diri adalah Sidi Kumango. Ranting kayu menancap 

telak di batang lehernya sebelah kiri, tembus sampai ke kanan. Dari tenggorokannya terdengar 

suara seperti ayam dipotong. Ketika Sabai Nan Rancak menarik ranting, darah pun memancur dari 

lobang luka di leher Sidi Kumango! Tubuhnya terhuyung beberapa kali sebelum roboh dan meng-

geletak di tanah tanpa nyawa lagi! 

Si nenek tertawa mengekeh. °"Kalian sudah tahu! Sabai Nan Rancak tidak bisa dibuat mai main! Sekarang rasakan sendiri akibatnya!" La!u sepasang mata perempuan tua ini melirik tajam 

pada Marang Tongga. 

"Kalau kulawan tak ada gunanya! Aku masih ingin hidup!" membatin Marang Tongga. 

Sebelum si nenek kembali menyerbu dia segera berseru. "Sabai! Kita sudahi urusan sampai di sini! 

Kantong emas yang satu lagi segera aku kembalikan padamu! Ini ambillah!" 

Dari balik bajunya Marang Tongga keluarkan sebuah kantong kain lalu dilemparkannya ke 

arah Sabai Nan Rancak. Si nenek gerakkan tangan kanannya yang memegang ranting. Kantong 

kain serta merta terkait di ujung ranting. 

"Kau sudah mendapatkan kantong emasmu! Jadi tak perlu kami berlama-lama di tempat ini!" 

Marang Tongga memberi isyarat pada Alam Babegah. Tanpa tunggu lebih lama kedua orang ini 

segera berkelebat pergi. 

Sabai Nan Rancak segera ambil kantong kain dari ujung ranting. Begitu diperiksanya 

keluarlah caci maki dari mulut perempuan tua ini. 

"Batu! Jahanam betul! Berani menipu!" 

Sabai Nan Rancak bantingkan kantong kain berisi kerikil itu ke tanah. Sekali dia berkelebat 

tubuhnya lenyap dari tempat itu MARANG Tongga dan si cebol Alam Babegah lari menuruni lereng Gunung Singgalang seperti 

dikejar setan. Mereka sengaja menempuh bagian gunung yang ditumbuhi pepohonan dan semak 

belukar lebat. Jika si nenek mengejar mereka pandangannya akan terhalang oleh semak dan pohon 

serta kegelapan malam. 

"Rasanya sudah aman! Kita berhenti dulu untuk istirahat!" kata si cebol Alam Babegah lalu 

berhenti berlari dan megap-megap seperti kehabisan napas. 

"Jangan mencari mampus! Kita belum berada di tempat aman! Ayo lari lagi!" bentak Marang 

Tongga. 

Tiba-tiba terdengar suara tertawa bergelak. Nyawa Marang Tongga dan Alam Babegah seolah 

terbang. 

"Manusia-manusia tak berguna! Kalian mau lari ke mana?!" 

Itu adalah bentakan si nenek Sabai Nan Rancak. Dua lelaki di balik semak belukar serta merta 

menghambur. Namun gerakan mereka tertahan karena tahu-tahu di depan sudah menghadang 

nenek berwajah putih itu! 

Tak ada jalan lain. Kalau lari tidak bisa terpaksa mengadu nyawa. Maka Marang Tongga dan 

Alam Babegah sama-sama lepaskan pukulan tangan kotong. 

"Kraaaakk!" 

"Braaak!" 

Sebatang pohon besar tumbang. Semak belukar rambas berhamburan. Si nenek lenyap dari 

pemandangan. Lalu terdengar suara kekehannya di belakang. Lelaki tinggi besar dan kawannya si 

cebol segera memutar tubuh dan kembali hantamkan serangan tangan kosong mengandung tenaga 

dalam tinggi. Namun yang diserang telah lenyap. Kembali terdengar suara tawanya. Marang 


Tongga dan Alam Babegah menghantam ke arah datangnya suara tawa itu. Tapi lagi-lagi mereka 

menyerang tempat kosong. Ketika mereka berusaha mencari tahu di mana beradanya si nenek tiba-

tiba "Bukk! Bukkk!" 

Jeritan kaget dan kesakitan keluar dari mulut Marang Tongga dan Alam Babegah. Tubuh 

keduanya mencelat sampai satu tombak. Marang Tongga mengurut rusuk kirinya. Dua tulang 

iganya patah. Rasa sakit seolah menusuk ke seluruh tubuh. Menahan sakit dan berpegangan pada 

sebatang pohon dia bangkit berdiri. Di samping kirinya dilihatnya Alam Babegah menyangsrang di 

atas serumpunans semak belukar. Kepalanya berlumuran darah. Sepasang matanya membeliak. 

"Alam..." bisik Marang Tongga memanggil. Kepala orang yang dipanggil terkulai ke samping. 

Tubuhnya kemudian rebah, jatuh tepat di depan kaki Marang Tongga. 

Saat itu pula terdengar suara tawa panjang nenek muka putih. Tengkuk Marang Tongga 

menjadi dingin. Dia memandang berkeliling mencari tempat untuk lari. Namun jangankan lari, 

menindak satu langkah saja rusuknya yang cidera sakit bukan main. 

"Marang Tongga manusia penipu! Apa kau sudah siap menyusul teman-temanmu?!" Suara 

Sabai Nak Rancak menggema dalam rimba belantara. Di lain saat sosoknya muncul dari dalam 

kegelapan dan tahu-tahu sudah berdiri di hadapan lelaki tinggi besar itu. 

"Sreettt!" 

Marang Tongga keluarkan sebilah golok bermata dua. Walau suasana gelap, senjata ini menge-

luarkan cahaya berkilauan tanda bukan senjata sembarangan. 

"Golok Iblis Bermata Dua!" ujar si nenek begitu melihat senjata di tangan Marang Tongga. 

"Hebat namanya tapi hanya pantas untuk menjagal ayam! Hik... hik... hik!" 

"Tua bangka keparat! Kalaupun aku mati di tanganmu, setanku akan gentayangan 

mencarimu! Kau akan kucekik sampai mampus!"° 

"Hebat!" seru si nenek mengejek. 

"Rasakan golokku!" teriak Marang Tongga. 

Dia lancarkan gerakan setengah melompat. Golok di tangannya membabat dari atas ke bawah, 

membuat gerakan membelah. 

"Craaasss!Yang terbelah bukannya kepala nenek Sabai Nan Rancak melainkan sebatang cabang pohon 

yang diangsurkan perempuan tua itu. Lalu terjadilah hal yang tidak diduga Marang Tongga. 

Batang kayu yang terbelah dan ujungnya masih berada dalam genggaman Sabai Nan Rancak tiba-

tiba berputar menjepit golok iblis Bermata Dua. 

Marang Tongga tidak mau kehilangan senjatanya karena itu satu-satunya harapan untuk 

menyelamatkan jiwanya. Didahului bentakan keras lelaki itu membuat gerakan aneh sambil 

kerahkan seluruh tenaga dalamnya. Sabai Nan Rancak terhuyung sesaat. Kesempatan ini 

dipergunakan oleh Marang Tongga untuk melepaskan senjatanya dari jepitan belahan kayu. Begitu 

golok terlepas dengan gerakan kilat dia membabat ke depan. Cahaya golok berkilauan di kegelapan 

malam. 

"Breettt!" 

Si nenek muka putih terpekik dan cepat melompat mundur. Baju hitamnya di sebelah bahu 

robek besar. Dia merasa perih pertanda ada bagian tubuhnya yang terluka. 

"Jahanam!" rutuk Sabai Nan Rancak. Belahan batang kayu di tangan kanannya 

dihantamkannya ke tubuh Marang Tongga. Yang diserang cepat mengelak sambil melintangkan 

golok menangkis serangan lawan. Ujung batang kayu terbabat putus. Tangan Marang Tongga 

tergetar keras. Goloknya hampir terlepas. Pada saat itulah si nenek muka putih melesat ke depan. 

Batang kayu di tangan kanannya menderu dan berubah laksana puluhan banyaknya. Lalu, 

"braaakkk!" 

Marang Tongga hanya sempat keluarkan pekikan pendek. Tubuhnya terpental sampai tiga 

tombak. Mukanya hancur akibat hantaman batang kayu. Nyawanya tidak tertolong lagi. 

Satu bayangan berkelebat di belakang si nenek. Secepat kilat Sabai Nan Rancak membalik dan 

hantamkan batang kayu yang masih ada dalam genggamannya. 

"Guru! Tahan! Ini aku! Puti Andini!" Orang yang hendak diserang berteriak lalu melompat 

jauh menghindari serangan maut si nenek. Saat itu si nenek sendiri sudah tarik serangannya. 

Matanya dibesarkan untuk melihat lebih jelas di dalam gelap. 

"Hemmm.... Benar dia adanya.... Kembali malarn-malam buta begini. Agaknya anak ini datang 

tidak membawa kabar baik bagiku..."° kata Sabai Nan Rancak dalam hati. Lalu dia berkata. "Ikut aku!" 

Habis berkata begitu, si nenek berkelebat ke atas gunung. Puti Andini, gadis yang tadi hendak 

diserang si nenek terpaksa lari mengikuti. 

Sampai di pedataran di lereng gunung, Sabai Nan Rancak duduk di atas sebuah batu di depan 

mnlut goa. 

"Aku menaruh firasat kau kembali dengan tangan hampa! Lekas ceritakan padaku apa yang 

telah terjadi selama beberapa bulan kau berada di tanah Jawa!" Si nenek langsung ajukan 

pertanyaannya begitu gadis berbaju putih itu duduk bersi!a di hndapannya dan memberi hormat 

berulang kali. 

"Dugaan guru tidak meleset! Untuk itu, aku murid yang tolol mohon maaf dan ampunanmu!" 

"Sudah! Jangan bicara berbasa-basi pakai peradatan segala! Katakan saja apa kau berhasil men-

depatkan Kitab Putih Wasiat Dewa? Apa kau juga berhasil membunuh Tua Gila dan Pendekar 

212 Wiro Sableng?!" 

Sang murid tidak segera menjawab karena perhatiannya tiba-tiba saja tertuju pada sesosok 

tubuh kurus berpakaian putih bersimbah darah yang menggeletak di pedataran itu. Ketika dia 

melihat wajah orang itu tanpa disadarinya dia keluarkan seruan tertahan. Mukanya dipalingkan ke 

arah Sabai Nan Rancak. 

"Guru.... Bagaimana Tua Gila berada di sini dan sudah jadi mayat? Padahal aku...." 

"Buka matamu lebar-lebar. Keparat yang sudah jadi bangkai itu bukan Tua Gila!" kata si 

nenek dengan suara menyentak. "Dari ucapanmu jelas sudah kau tidak berhasil membunuh tua 

bangka berotak miring itu! Benar begitu?" 

"Murid mohon maaf dan ampun beribu ampun...." 

"Kau juga tidak berhasil membunuh Pendekar 212 Wiro Sableng!" 

Si gadis mengangguk. 

"Kau juga tidak berhasil mendapatkan Kitab Putih Wasiat Dewa!" 

Kembali Puti Andini mengangguk. 

Saking marahnya tubuh si nenek sampai terlompat. Sambil berkacak pinggang di depan 

muridnya dia mendamprat! "Lalu apa saja kerjamu berbulan-bulan di tanah Jawa? Hanya berjalan jalan mencari kesenangan sendiri?!" 

"Maaf guru. Biarkan aku menerangkan apa yang telah kualami..." jawab Puti Andini. "Tanah 

Jawa terlalu keras bagiku! Terlalu banyak orang berkepandaian tinggi. Bukan saja aku telah 

menemui kegagalan tapi bahkan hampir menemui ajal secara keji kalau tidak diselamatkan oleh 

Tua Gila musuh besarmu itu..." 

Sabai Nan Rancak memandang dengan mata mendelik tak berkesip. Hampir tidak percaya dia 

atas apa yang dijelaskan muridnya. 

"Otakmu rupanya sudah dicuci orang. Sampai-sampai kau kini merasa menaruh hutang budi 

dan nyawa pada musuh besarku!" 

"Guru, jangan kau bersalah sangka. Aku telah berusaha membunuhnya tapi gagal. Ilmu 

kepandaiannya jauh dari yang aku miliki. Jika saja guru berada di Teluk Penanjung di Pangandaran 

menyaksikan sendiri kegegeran besar yang terjadi di sana, mungkin guru akan berpikir lain. Dalam 

pada itu aku sempat mencuri dengar percakapan antara Tua Gila dengan Pendekar 212 Wiro 

Sableng. Bukan mustahil orang terlalu banyak salah duga akan tindak tanduknya dimasa lalu. 

Bukan mustahil tuduhan terhadap dirinya telah bercampur dengan fitnah yang dilancarkan oleh 

orang-orang yang iri dan sakit hati. Karena kalau murid berpikir-pikir mana mungkin satu orang 

bisa membunuh sampai tiga ratus orang seperti yang dituduhkan padanya?" 

Sabai Nan Rancak mendengus. "Otakmu benar-benar sudah dicuci orang Andini! Lidahmu 

sudah dibalik! Hingga jalan pikiranmu kini jadi berbeda dan ucapanmu berubah! Aku merasa 

menyesal telah mengutusmu ke tanah Jawa. Yang kau hasilkan hanya menambah sakit hati dendam 

kesumatku terhadap Tua Gila!" 

"Guru, aku hanya mengatakan apa yang aku lihat dan aku dengar...." 

"Ketika peristiwa itu terjadi kau lahir pun belum! Bungguh menyakitkan kalau seorang murid 

lebih mempercayai kenyataan di luar daripada apa yang dlkatakan gurunya...." 

Puti Andini tundukkan kepala mendengar ucapan gurunya itu. "Guru, sebenarnya...." 

"Diam! Jangan terlalu banyak bicara! Pikiranku sedang kusut! Saat ini aku ingin membunuh 

siapa saja! Temasuk kau!" 

"Guru, aku menyadari kesalahanku. Aku siap menerima hukuman. Dibunuh sekalipun rasanya aku lkhlas. Atau mungkin guru ingin aku bunuh diri saja untuk menebus kesalahanku?" 

Walau dirinya diselimuti kemarahan namun mendengar kata-kata sang murid Sabai Nan 

Rancak jadi terperangah juga. Lama dia terdiam. Lalu dengan nada sedih dia bertutur. 

"Puluhan tahun lalu ketika aku seusiamu, aku berkenalan dengan seorang pendekar muda 

bernama Sukat Tandika. Kami sama-sama jatuh cinta dan membina cinta sambil menambah ilmu 

kepandaian. Suatu ketika pemuda itu berangkat meninggalkan pulau Andalas menuju tanah Jawa 

guna menambah iimu kepandaian. Sebelum pergi dia telah berjanji akan segera kembali dan kami 

akan melangsungkan perkawinan. Aku sangat mempercayai dirinya. Ternyata dia adalah seorang 

pemuda mata keranjang. Aku mendapat kabar selama berguru pada seorang sakti di tanah Jawa dia 

menjalin hubungan cinta dengan seorang gadis saudara satu gurunya bernama Sinto Weni yang 

sekarang dikenal dengan nama Sinto Gendeng, guru Pendekar 212. Seperti, aku, Sinto Weni tentu 

juga mengharapkan kelak dikemudian hari bisa hidup sebagai suami istri dengan Sukat Tandika. 

Tapi pemuda itu kembali berlaku culas. Sinto Weni ditinggalkannya mentah-mentah setelah 

terpikat dengan seorang janda kembang, cantik jelita, puteri Adipati Plered.... " 

Sabai Nan Rancak hentikan penuturannya sesaat. Dia memandang ke arah kejauhan seola 

mencoba menembus kegelapan malam. Kemudia dia melanjutkan. 

"Akibat hubunganku dengan Sukat, aku mengandung. Lambat laun kandunganku semakin 

besar. Aku tidak ingin hal memalukan itu diketahu orang-orang dunia persilatan. Aku 

mengucilkan diri di satu tempat rahasia sambil meminta bantuan beberapa orang teman agar 

memberitahu keadaan diriku. Dua diantara mereka berhasil menemui Sukat Tandika. Tapi 

pemuda itu tidak mempercayai kalau aku sudah berbadan dua. Malah dia menuduh aku main gila 

dengan lelaki lain! Jahanam betul! Bagaimanapun dibujuk dan diberi pengertian namun Sukat 

Tandika tetap tidak perduli. Apalagi saat itu dia sedang mabuk asmara menjalin cinta dengan 

puteri Adipati Plered itu. Mereka akhirnya kawin. Ternyata rumah tangga mereka kacau balau. Ka-

barnya Adipati Plered dan puterinya hanya menginginkan ilmu kepandaian Sukat Tandika. Begitu 

dapat maka mereka tidak memerlukan pemuda itu lagi. Sukat Tandika diperlakukan secara hina. 

Bukan itu saja, ada yang mengatakan bahwa istri Sukat Tandika berbuat serong dengan seorang 

pemuda dari Blambangan. Tiga bulan berselang sang istri jatuh sakit terus meninggal dunia. Ada  yang menduga Sukat Tandika telah meracuni istrinya hingga menemui ajal. 

Yang jelas sejak istrinya meninggal terjadi kelainan dengan diri Sukat. Dia sering melamun, 

bicara sendiri, kadang-kadang tertawa tak tahu juntrungan. Lambat laun perilaku menantunya itu 

membuat muak Adipati Plered. Sukat Tandika diusir dari gedung besar kediaman sang Adipati. 

Terjadi perkelahian hebat. Sang Adipati yang telah memiliki hampir seluruh ilmu kepandaian 

Sukat Tandika tidak mudah dikalahkan. Setelah berkelahi puluhan jurus akhirnya Adipati itu 

tewas! Ini adalah korban pertama dari puluhan bahkan ratusan korban lainnya. 

Selama belasan tahun Sukat Tandika menghilang. Tidak diketahui apakah dia berada di pulau 

Andalas ini atau masih mengembara di tanah Jawa. Kemudian ada kabar yang mengatakan bahwa 

suatu ketika Sukat Tandika muncul di tempat kediaman Sinto Weni di puncak Gunung Gede. Dia 

mencoba berbaik-baik dan meminta Sinto Weni bersedia dijadikan istrinya. Namun Sinto Weni 

sudah terlanjur kecewa dan bersumpah tidak akan kawin dengan siapapun termasuk Sukat 

Tandika yang pernah dicintainya itu. Walau mereka berpisah secara baik-baik tapi Sukat Tandika 

mengalami goncangan batin yang hebat. Kelainan jiwanya semakin parah. Dalam keadaan seperti 

itu dia kembali ke pulau Andalas. Beberapa kali dia coba menemuiku. Mengajak menjalin 

hubungan kembali. Tapi cintaku telah berubah menjadi sakit hati dan dendam kesumat yang 

hanya bisa pupus kalau dia terbunuh oleh tanganku atau orang suruhanku! 

Untuk kedua kalinya Sukat Tandika melenyapkan diri dalam dunia persilatan. Belasan tahun 

tagii berlalu. Aku dan juga tokoh-tokoh silat yang dulu pernah muda telah menjadi tua bangka 

lapuk tak berguna. Sementara itu aku menyirap kabar bahwa Sukat Tandika menetap di sebuah 

pulau di pantai barat Andalas. Aku tidak meminta tapi ada kawan-kawan yang coba menyelidik. 

Namun setelah menyelidik ke beberapa pulau Sukat Tandika tidak ditemukan. Di pantai barat 

pulau Andalas banyak sekali bertebaran pulau-pulau kecil. Untuk mendatangi dan menyelidikinya 

satu persatu bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun...." 

"Guru, harap maafkan kalau aku memotong dengan satu pertanyaan. Kau belum 

menerangkan kelanjutan dari kandunganmu...." 

"Kita akan sampai ke sana," jawab Sabai Nan Rancak dengan suara perlahan. "Ada beberapa 

peristiwa yang perlu aku beritahu dulu padamu. Hampir bersamaan dengan lenyapnya Sukat


Tandika, dalam dunia persilatan muncul seorang tokoh aneh berotak miring. Dia membuat 

kekacauan dimana-mana dan melakukan pembunuhan semudah dia membalik telapak tangan. 

Selama belasan tahun dia malang melintang dalam dunia persilatan menebar maut. Orang-orang 

persilatan golongan putih merasa tidak senang walau kebanyakan korban yang mati di tangan 

tokoh ganas berotak tidak waras itu adalah mereka dari golongan hitam atau pejabat penjahat sesat. 

Ketika orang mengetahui siapa dirinya sebenarnya maka manusia itu dijuluki Pendekar Gila Patah 

Hati. Ada juga yang menyebutnya Iblis Gila Pencabut Jiwa. Aku lebih mengenalnya dengan se-

butan Tua Gila!" 

Berubahlah paras Puti Andini mendengar ucapan terakhir gurunya itu. Waktu gurunya 

menyuruhnya berangkat ke tanah Jawa dengan tugas mencari Kitab Putih Wasiat Dewa, 

membunuh Pendekar 212 dan mencari serta membunuh Tua Gila, sebenarnya gadis itu telah 

menduga-duga adanya silang sengketa antara gurunya dengan Tua Gila. Namun dia tidak mengira 

sehebat itu kejadian di masa lampau. Tidak salah kalau gurunya mendendam luar biasa terhadap 

Tua Gila. 

"Guru harap maafkan kalau aku berlaku kurang ajar. Tapi aku ingin menanyakan sekali lagi 

mengenai kejadian dirimu setelah kau ditinggal Sukat Tandika dalam keadaan hamil." 

"Aku melahirkan seorang anak perempuan. Karena tak sanggup memelihara bayi itu aku 

serahkan pada penduduk di kaki gunung untuk dirawat ba-k-baik. Aku setuju saja orang 

memberinya nama Andam Suri. Setelah dewasa ternyata dia tumbuh menjadi seorang gadis cantik. 

Dia kemudian menikah dengan seorang yang aku tidak pernah mengenal. Namanya juga tidak aku 

ketahui. Aku hanya tahu gelarnya. Datuk Paduko Intan. Tak lama seteiah kawin anakku 

melahirkan seorang bayi perempuan. Hanya malang karena sakit-sakitan dan juga mungkin kurang 

perawatan dan perhatian dari suaminya Andam Suri meninggal dunia sewaktu melahirkan 

bayinya...." 

"Kalau anak itu masih hidup..." ujar Puti Andini. 

"Dia memang masih hidup," kata Sabai Nan Rancak. 

"Kira-kira sebesar siapakah dia sekarang? Siapa pula namanya?" tanya sang murid. 

"Kira-kira seusiamu. Namanya Puti Andini..." jawab si nenek muka putih.Sang murid seperti mendengar halilintar di depan hidungnya. Wajahnya memucat dan 

dadanya mendadak saja sesak menggemuruh. 

"Guru...." 

"Kau memang cucuku, Andini," kata si nenek Sepasang matanya berkaca-kaca. 

Dalam hati Puti Andini berkata. "Kalau aku cucu mu berarti juga cucu Tua Gila. Pantas setiap 

bertemu dia selalu memanggil aku cucu. Tak tahunya....'° 

Melihat mata si nenek berkaca-kaca, Puti Andini ikut basah kedua matanya. Entah sadar 

entah tidak meluncur saja ucapan dari mulut si gadis. "Kalau antara kita memang ada pertalian 

darah mengapa semua hal di masa lampau itu tidak dilupakan saja...?" 

Sabai Nan Rancak usap kedua matanya. Lalu dia memandang melotot pada muridnya. "Kalau 

kau mampu mengeluarkan suara hatimu seperti itu kurasa kau tidak layak jadi muridku! Kau 

sudah tahu dan mendengar dariku bagaimana derita sengsara diriku akibat perbuatan Tua Gila! 

Kesengsaraan itu jatuh pula menimpa dirimu. Kau tak pernah melihat ibumu! Juga tidak pernah 

mengenal ayahmu! Semua gara-gara Tua Gila keparat! Pantaskah aku berbaik-baik dengan 

jahanam itu? Jika kau merasa dekat dengan dia pergilah menemuinya. Tinggal bersamanya, Bu-

kankah dia kakekmu juga? Jika itu sampai kau lakukan maka mulai sekarang putus hubungan kita 

sebagai guru dan murid!" 

"Mohon dimaafkan guru. Maksudku bukan begitu. Aku melihat sendiri antara Tua Gila dan 

Sinto Gendeng telah berbaik-baik...." 

"Kau lihat dimana?" tanya si nenek muka putih dengan mimik dan nada suara jelas 

menunjukkan kecemburuan. 

"Waktu di Pangandaran. Mereka bahkan meninggalkan tempat itu berdua-duaan...." 

Paras si nenek mengelam. Tiba-tiba dia bangkit berdiri. Di kejauhan langit sebelah timur 

tampak terang kekuningan tanda sebentar lagi sang surya akan segera terbit. 

"Guru, kau mau ke mana?!" tanya Puti Andini. 

"Tampaknya aku terpaksa turun tangan sendiri. Mungkin perlu bantuan dari beberapa orang. 

Entah kawan entah lawan aku tidak perduli. Tujuanku hanya satu! Tua Gila harus mampus!" 

"Kalau begitu aku ikut denganmu," kata Puti Andini pula.

"Tidak, kau tetap di gunung Singgalang ini. Kulihat kau kembali tanpa satu payung pun dalam 

buntalanmu! Berarti kau memang belum layak berada dalam rimba persilatan!" 

Puti Andini sedih sekali mendengar kata-kata gurunya itu. Dalam hati gadis ini berkata. "Dia 

bisa saja berkata seperti itu. Sejak lima tahun terakhir dia tidak pernah meninggalkan gunung 

Singgalang. Dia tidak tahu perubahan-perubahan yang telah terjadi` dalam rimba persilatan. Kalau 

saja dia sempat menjejakkan kaki di tanah Jawa baru dia tahu tingkat ilmu silat dan kesaktian 

orang! Pikirannya sempit hanya terbatas seputar gunung ini saja. Kalaupun ada yang hebat dalam 

dirinya, itu adalah dendam kesumatnya terhadap Tua Gila!Langit di sebelah timur semakin terang. 

Sabai Nan Rancak telah lama meninggalkan tempat itu. Perlahan-lahan Puti Andini ayunkan kaki, 

melangkah gontai mendaki lereng gunung. Tubuhnya serasa bayang-bayang. Pikirannya kosong. 

Namun anehnyaa di pelupuk matanya tiba-tiba saja muncul bayangan wajah Pendekar 212 Wiro 

Sableng.


TIGA

PENDEKAR 212 Wiro Sableng melangkah sepanjang lorong mengikuti Ratu Duyung hingga 

akhirnya sampai di sebuah ruangan berbentuk bundar. Di dalam ruangan itu ada sebuah benda 

setinggi manusia ditutup dengan sehelai kain berwarna biru gelap. Ratu Duyung memandang 

sesaat pada Wiro lalu melangkah mendekati benda itu. Dengan tangan kanannya ditariknya kain 

selubung. Begitu kain biru tersingkap dan jatuh ke lantai Wiro melihat sosok tubuhnya sendiri 

tegak di hadapannya. Walau sosok itu hanya merupakan patung namun buatannya begitu halus 

dan rapi hingga hampir tidak berbeda dengan keadaan dirinya sebenarnya.Ratu Duyung berpaling pada Wiro. "Kau kulihat mengagumi patung dirimu ini. Tapi sama 

sekali tidak ada tanda-tanda terkejut. Berarti kau sudah mengetahui atau melihat patung ini 

sebelumnya?" 

Wiro mpngangguk. "Melalui ilmu menembus pandang yang kau berikan padaku dulu. 

Bedanya sekarang aku melihat lebih jelas. Benar-benar hebat sekali buatannya. Aku sangat kagum. 

Tapi.... Kalau aku boleh bertanya Ratu, mengapa patung diriku sampai ada di sini. Lalu sejak 

kapan...?" 

Gadis bermata biru itu tersenyum. Ada bayangan rasa keperihan dibalik senyuman itu. 

"Dirimu muncul pertama kali ketika aku mengetahui dari seseorang tokoh bahwa hanya kau satu-

satunya orang yang dapat menolongku dan anak buahku dari kutukan yang telah dijatuhkan oleh 

penguasa laut di kawasan ini. Sejak itu setiap ada kesempatan dan jaraknya memungkinkan yaitu 

bila kau berada di sekitar kawasan ini, aku pergunakan ilmu menembus pandang untuk melihat 

dirimu, memperhatikan gerak gerikmu. Itu kulakukan selama hampir dua tahun. Hingga aku tahu 

betul setiap sudut dan liku tubuhmu sebelah luar. Aku lalu memanggil seorang ahli pemahat batu 

untuk membuat patungmu. Kemudian seorang ahli lainnya melapisi patung itu dengan sejenis 

mata hingga kulit muka dan tubuhmu benar-benar hidup, menyerupai dirimu. Seorang ahli 

lainnya menambahkan alis dan rambut buatan serta pakaian. Kau lihat sendiri hasilnya...." 

Wiro hanya bisa garuk-garuk kepala mendengar keterangan Ratu Duyung itu. 

"Lambat laun aku menyadari bahwa aku telah jatuh cinta dengan patungmu. Lebih jauh dari 

itu ada perasaan yang setiap saat mendorongku untuk dapat bertemu dengan dirimu. Bukan saja 

karena aku tela jatuh cinta tapi karena hanya engkau seorang yang bisa membebaskan diriku dan 

anak buah dari kutukan. Hingga kami semua terlepas dari wujud kehidupan aneh. Tubuh setengah 

ikan setengah manusia.... (Mengenai riwayat Ratu Duyung harap baca serial Wiro Sableng berjudul

Wasiat Sang Ratu). 

Lama sang Ratu terdiam sebelum dia kembal berkata. "Sekarang dengan kemauanmu sendiri 

kau datang ke sini. Aku sangat berterima kasih. Mungkinkah tak lama lagi kutukan atas diriku dan 

anak buahku benar-benar akan musnah?" 

Wiro tak menjawab. Tengkuknya tiba-tiba saja terasa dingin dan degup jantungnya mengeras.Dia lalu ingat pada pertemuannya dengan Eyang Sinto Gendeng dan Kakek Segala Tahu waktu 

berada di Pangandaran tempo harl. 

Saat itu dia mengajukan pertanyaan. "Eyang, menurutmu apakah aku harus memenuhi 

permintaannya. Tidur dengan dia agar dia bisa bebas dari kutukan itu...? Aku berhutang budi dan 

nyawa padanya. Tapi aku juga takut berdosa...!" 

Sinto Gendeng menjawab. "Urusan dosa adalah urusan manusia dengan Tuhannya. 

Urusanmu adalah antara manusia dengan manusia. Aku tidak akan mengatakan ya atau tidak. 

Semua terserah padamu." 

Karena belum puas Wiro lantas bertanya lagi pada Kakek Segala Tahu. Tokoh aneh ini belum 

dItanya malah sudah membuka mulut. "Kau tak usah bertanya. Aku siap memberikan jawaban. 

Terkadang seseorang harus mengorbankan sesuatu untuk sesuatu yang sudah didapatnya." (Baca 

serial Wiro Sableng berjudul Kiamat di Pangandaran). 

"Apa yang ada di benakmu, Wiro?" 

Pendekar 212 tersentak dari alam pikirannya oleh teguran Ratu Duyung itu. Dalam hatinya 

sang Ratu sangat khawatir kalau pemuda itu akan berubah pikiran. Dia tidak berani menatap ke 

wajah sang pendekar. Sebagai gantinya dia hanya memandang ke wajah patung. Wiro maklum apa 

yang ada di lubuk hati gadis cantik bermata biru itu. Maka sambil memegang tangan sang ratu dia 

berkata. "Mungkin semua ini sudah suratan takdir kita sebagai makhluk lemah. Saling 

membutuhkan satu sama lain sesuai kodrat-Nya...." 

"Aku gembira mendengar kata-katamu itu. Aku juga bersyukur pada Tuhan." Ratu Duyung 

membalas pegangan Pendekar 212. Lalu diambilnya kain biru d1 lantai dan diselubungkannya 

kembali ke patung Pendekar 212. 

"Ratu Duyung..." kata Wiro. "Kalau aku boleh bertanya, siapa gerangan yang memberi tahu 

padamu bahwa hanya diriku yang bisa membebaskan dirimu dari kutukan itu?" ° 

"Aku tidak pantas memberi tahu. Tapi juga tak ada larangan mengatakannya. Orangnya 

sahabat yang kau anggap seperti kakek sendiri. Si Raja Penidur!" 

"Ah!" Wiro keluarkan seruan tertahan. Sambil garuk-garuk kepala dia berkata, "Si gendut itu! 

Kerjanya sepanjang tahun tidur melulu. Bagaimana dia bisa tahu aku orangnya?Ratu Duyung tersenyum. "Kau lupa akan kesaktian tokoh nomor satu dunia persilatan itu? 

Matanya memang tidur. Namun telinga dan pikirannya bekerja seperti biasa...." Habis berkata 

begitu Ratu Duyung bertepuk dua kali. Dua orang gadis cantik anak buah sang Ratu muncul. 

"Antarkan tamu kita ke tempat bersiram. Berikan pakaian yang baik. Hidangkan segelas 

minuman. Setelah itu antarkan dia ke Puri Pelebur Kutuk." 

Dua orang anak buah Ratu Duyung membungkuk. Lalu dengan sikap hormat memberi tanda 

pada Pendekar 212 untuk mengikuti mereka. 

Yang dinamakan Puri Pelebur Kutuk adalah sebuah bangunan putih beratap merah terletak di 

puncak sebuah bukit kecil berumput hijau. Di sekeliling puri bertumbuhan berbagai pohon bunga. 

Karena bunga-bunga sedang berkembang maka pemandangan di tempat itu sungguh sangat indah. 

"Kami hanya mengantarmu sampai di sini. Kami dilarang keras masuk ke dalam Puri Pelebur 

Kutuk," Berkata salah seorang dari dua gadis cantik yang mengawal Wiro sampai di pintu 

bangunan. 

"Dilarang keras? Memangnya ada apa di dalam sana?" tanya Pendekar 212 heran. Saat itu dia 

telah mengenakan seperangkat pakaian bagus berwarna biru dan memakai ikat kepala kain merah. 

Tubuhnya terasa segar sehabis mandi. Apalagi anak buah Ratu Duyung memberikan sejenis 

wewangian pengharum tubuhnya. Dia merasa seperti seorang Pangeran saja saat itu. 

"Kami tidak tahu. Kami tidak pernah masuk ke dalam. Kami tidak diperbolehkan masuk ke 

dalam Puri Pelebur Kutuk ini. Kami harus pergi sekarang. Kami berdoa semoga kau berhasil...." 

"Berhasil apa?" tanya Wiro pula. 

"Membebaskan kami dari kutukan yang menyiksa itu," jawab si gadis di sebelah kiri. Lalu 

bersama kawannya cepat-cepat dia meninggalkan lempat itu. 

Wiro perhatikan dua gadis itu hingga lenyap di kejauhan. Dia membalikkan badan. Di 

depannya ada arbuah pintu kayu berwarna merah dalam keadaan lertutup. 

"Warna merah biasanya menyembunyikan bahaya..." kata murid Sinto Gendeng dalam hati. 

Dengan hati-hati daun pintu didorongnya. Perlahan-lahan pintu merah itu bergerak membuka ke 

arah dalam. Pada saat yang sama terdengar suara berdesir. Telinga Wiro yang tajam dan 

pendengarannya yang sudah terlatih mendengar berbagai macam suara membuat dia segera mengetahui ada senjata rahasia melesat dari dalam bangunan. Secepat kilat dia jatuhkan diri lalu 

berguling menjauhi amban pintu. 

DugaanWiro tidak meleset. Dari dalam bangunan melesat dua buah benda. Yang pertama 

lenyap dan jatuh di kejauhan. Satunya lagi menancap di batang pohon sejauh tiga tombak dari 

pintu. Benda itu ternyata adalah sebilah pisau besar, hampir menyerupai golok kecil. Badan dan 

gagang golok terbuat dari besi merah. 

"Ratu Duyung rupanya menjebakku!" kata Wiro dalam hati lalu dengan cepat bangkit berdiri. 

Sepasang matanya memandang berkeliling, khawatir kalau tempat itu dipasangi peralatan rahasia 

lainnya. "Tapi kalau dia ingin membunuhku bukankah sama saja dia mencari celaka sendiri? 

Kutukan yang menguasai dirinya tidak akan pernah lenyap! Urusan gila macam apa yang aku 

hadapi saat ini!" 

Wiro memandang ke arah pintu yang terbuka. Dari tempatnya berdiri dia bisa melihat jelas 

bagian dalam bangunan. Berlantai merah lalu ada perm dani panjang berwarna biru di sebelah 

tengah. Ujung permadani ini berakhir pada sebuah tempat tidu tembaga berlapis emas yang bagus 

sekali. Di kanan tempat tidur terletak sebuah kursi juga terbuat dari tembaga berlapis emas. Bau 

harum semerbak menghambur keluar dari dalam ruangan. Murid Si Gendeng jadi tercekat. "Jadi 

ini tempatnya? Dan Ranjang Pelebur Kutuk...?! Apakah aku harus masuk ke dalam ruangan itu 

atau lebih baik tetap di sini dulu? Jangan-jangan tempat tidur itu dipasangi alat rahasia. Begitu aku 

nangkring di atasnya putus anuku!" Wiro garuk-garuk kepala. Saat itulah tiba-tiba dinding sebelah 

kiri ruangan seperti bergeser. Lalu tampak Rutu Duyung melangkah anggun mengenakan jubah 

merah darah. Mahkota kerang warna biru yang biasanya bertengger di kepalanya kini berganti 

dengan sebuah mahkota besar terbuat dari emas bertabur intan berlian. 

Di tangan kanannya Ratu Duyung memegang sebuah piala terbuat dari perak. Wiro tak tahu 

apa isinya. Dari dalam piala ini keluar kepulan asap merah kekuningan. 

"Pendekar 212 Wiro Sableng, aku mengundangmu masuk ke dalam Puri Pelebur Kutuk...." 

Ratu Duyung berkata. Suaranya menggema di dalam ruangan itu. 

Wiro tak bergerak. Belum pernah dia melihat sang Ratu seanggun dan secantik seperti saat ini. 

"Tidak usah ragu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Silahkan masuk Wiro.'°"Ratu, barusan dua golok yang digerakkan oleh senjata rahasia hampir saja menembus 

tubuhku! Aku tidak mengerti...." 

"Itu hanya satu ujian kecil Wiro. Dan kau berhasil lolos." 

"Kalau aku gagal berarti apa yang kau inginkan tak akan pernah terkabul!" ujar Wiro. 

Ratu Duyung tersenyum. "Apakah kau telah menemui kegagalan?" 

Wiro tertawa lebar. "Memang tidak," katanya sambil garuk-garuk kepala. "Kalau aku bertanya 

apa maksud ujian itu?" 

"Untuk membuktikan bahwa kau betul-betul masih perjaka." 

"Apa?!" seru Wiro kaget dan mukanya menjad merah. 

"Seorang yang tidak perjaka lagi tidak akan mampu menyelamatkan diri dari due golok 

terbang tadi. Kau berhasil menyelamatkan diri. Berarti apa yang pernah kau katakan dulu padaku 

bukan kedustaan." 

Wiro hanya bisa menarik napas dalam da garuk-garuk kepala lagi. 

"Kalau tidak ada yang kau khawatirkan lagi silahkan masuk ke dalam sini. Duduklah di kursi 

sebelah kiri. Aku memilih kursi sebelah kanan." 

Wiro langkahkan kaki melewati ambang pintu. Dia merasa lega begitu masuk ke dalam 

ruangan tanpa terjadi apa-apa. Seperti yang dikatakan Ratu Duyung dia duduk di kursi sebelah kiri 

tempat tidu Ratu Duyung menyusul duduk di kursi sebelah kanan. Pada saat itu pintu merah yang 

tadi terbuka perlahan-lahan menutup. 

"Sebelum datang ke tempat ini aku telah mengumpulkan semua anak buahku. Kukatakan 

pada mereka apa yang akan segera terjadi. Mereka menyambut penjelasanku dengan mata berkaca-

kaca. Banyak yang menangis. Begitu aku meninggalkan mereka, semuanya mulai berdoa memohon 

pada Yang Kuasa agar kita berhsil...." 

"Gila! Urusan begitu masakan harus diberitahu pada anak buahnya segala!" kata Wiro dalam 

hati. 

"Wiro, di dalam piala perak ini ada cairan beras dari tetesan embun murni yang dikumpulkan 

selama tiga tahun. Selama tiga tahun pula piala dan isinya diletakkan di satu tempat dan 

dikeluarkan pada setiap kali sang surya keluar dari ufuk terbitnya. Sentuhan sinar merah kekuningan sang mentari telah membuat tetesan embun di dalam piala secara wneh bergejolak 

lembut seperti mendidih dan mengepulkan asap merah kekuningan. Air dalam piala sendiri terasa 

sejuk dalam peganganku dan akan lebih sejuk begitu masuk ke dalam tubuh kita...." 

Setelah berkata begitu Ratu Duyung lalu meminum air tetesan embun dalam piala sampai se-

tengahnya. Lalu tangan yang memegang piala diengkatnya ke atas. Ketika jari-jari tangannya 

dilepas piala perak itu tampak seperti menggantung di udara. Ratu Duyung dorongkan dua jari 

tangannya. Perlahan-lahan piala perak bergerak di udara, melewati sebelah atas tempat tidur dan 

sampai di hadapan Wiro. 

"Aku telah menghabiskan setengah air sejuk itu. Silahkan kau menghabiskan setengah 

sisanya...." 

"Ratu, mengapa kita harus minum air embun ini segala?" tanya Pendekar 212. 

"Air embun murni itu akan menyejukan hati, darah dan tubuh kite, sehingga segala nafas 

kotor dan keji akan lenyap, yang ada hanyalah hasrat untuk saling menolong, rasa cinta kasih 

murni yang tidak tercemar oleh nafsu kotor. Sehingga kita berbuat sesuai dengan yang 

dikehendaki, bukan sekedar pemuas nafsu belaka." 

"Aneh... aneh... aneh!" kata Pendekar 212 berulang kali dalam hati. Dia memandang ke dalam 

piala perak. Dilihatnya air embun bening putih bergejolak perlahan seolah mendidih. Dia 

berpaling pada sang Ratu. Ratu Duyung anggukkan kepala dan tersenyum. Wiro dekatkan piaia 

perak ke mulutnya lalu meneguk habis isi piala itu. Dia merasakan satu kesejukan luar biasa dalam 

tubuhnya. Ruangan itu dilihatnya lebih terang. Tubuhnya terasa ringan. Dia berpaling pada Ratu 

Duyung. 

"Angkat ke atas piala perak itu. Lepaskan peganganmu. Biarkan piala melayang ke udara...." 

Terdengar Ratu Duyung berkata. 

Wiro ikuti apa yang dikatakan orang. Begitu piala perak dilepaskannya, benda itu melayang 

sendiri ke atas. Tepat ketika piala berada di pertengahan ruangan yaitu di atas tempat tidur, Ratu 

Duyung jentikkan jari tangan kanannya. Terdengar satu letupan halus. Piala perak berubah 

menjadi asap dan lenyap dari pemandangan. 

Wiro berpaling kembali ke arah sang Ratu. Gadis cantik bermata biru itu balas menatap kearahnya. "Mulai saat ini diriku adalah milikmu, Wiro..." kata Ratu Duyung perlahan hampir 

berbisik. 

Ruangan harum semerbak itu tiba-tiba menjadi suram. Suasana di tempat itu laksana di bawah 

langit cerah malam hari diterangi sinar rembulan empat belas hari dan taburan bintang gumintang. 

Ketika Wiro menoleh lagi ke arah Ratu Duyung, gadis itu, ternyata telah membaringkan dirinya di 

atas tempat tidur. Sepasang matanya terpejam. Dadanya tampak berdegup turun naik. 

Wiro garuk-garuk kepala. "Apakah ini saatnya aku harus melakukan...?" pikir Wiro. Semakin 

dipandangnya wajah sang Ratu semakin cantik paras itu kelihatannya. Wiro bangkit dari kursi. 

Lututnya bergetar ketika dia melangkah mendekati tempat tidur. Dia menjadi semakin tegang 

ketika duduk di tepi tempat tidur dan berada demikian dekat dengan Ratu Duyung. 

"Ratu... apakah...." 

"Wiro! Jangan memikirkan apa-apa selain diri kita berdua. Jangan pikiran menguasai hatimu! 

Kita sudah masuk di dalam takdir. Tak satu pun diantara kita boleh mundur." 

Ratu Duyung memegang bahu Wiro. Sang pendekar merasakan satu getaran hangat menjalari 

tubuhnya. Perlahan-lahan dia membungkuk merangkul tubuh gadis itu. Sang Ratu balas memeluk 

erat. Demikian eratnya dua insan ini berangkulan hingga mereka dapat merasakan kerasnya 

denyutan jantung masing-masing. 

Pada saat itulah di luar Puri Pelebur Kutuk tiba-tiba terdengar suara menggelegar seperti suara 

halilintar. Bersamaan dengan itu pintu merah terpentang lebar. Lalu satu cahaya kuning melesat 

masuk ke dalam ruangan


EMPAT


DUA INSAN yang tengah berpelukan mesra tersentak kaget dan lepaskan rangkulan masing-

masing. Wiro melompat ke tepi tempat tidur. Ratu Duyung dalam keadaan masih terbaring cepat 

menutupi auratnya dengan pakaian lalu bersurut ke kepala tempat tidur. Satu bau aneh 

menggidikkan memenuhi ruangan, seolah menelan bau harum semerbak yang ada di situ 

sebelumnya. 

"Bau kembang kenanga!" desis Wiro. Lalu dilihatnya wajah Ratu Duyung pucat seperti 

ketakutan. Sepasang matanya yang biru membelalak besar ke arah pintu. Dari mulutnya keluar 

bentak keras. 

"Siapa kau?" 

Wiro memandang ke arah pintu. Dia tidak melihat siapa di situ. Tetapi mengapa Ratu 

Duyung seolah melihat seseorang di sana? 

"Ratu.... Ada apa! Apa yang terjadi? Siapa yang barusan kau bentak...?" 

Ratu Duyung menunjuk ke arah pintu. "Gadis berbaju kebaya putih panjang itu!" teriaknya. 

Wiro kembali berpaling ke arah pintu. 

"Aku tidak melihat siapa-siapa!" 

"Wiro! Awas! Dia bergerak mendekatimu!"° jerit Ratu Duyung. Lalu dia pukulkan tangan 

kanan ke arah pintu. Selarik sinar biru berkiblat. Sebalik dari arah pintu melesat sebuah benda 

kuning kehijauan, berbentuk bintang, menebar bau mengidikkan. Sinar pukulan sakti yang 

dilepaskara Ratu Duyung menghantam benda kuning kehijauan tadi. Terdengar letusan keras 

menggeledek di tempat itu. Pintu Pui Pelebur Kutuk hancur berantakan. Beberapa bagian dinding 

ruangan bobol. 

Di atas ranjang Ratu Duyung duduk tersandar dengan mata melotot. Dari sela bibirnya mengucur darah kental. Wiro sendiri saat itu tergeletak di lantai dalam keadaan tak sadarkan diri. 

Benda kuning hijau yang hancur akibat pukulan sakti Ratu Duyung tadi bertabur ke arah 

mukanya. Begitu tersedot jalan pernapasannya tak ampun lagi Wiro oboh pingsan. 

"Jangan!" tiba-tiba Ratu Duyung berteriak. Darah menyembur dari mulutnya. "Jangan bawa 

dia! Demi Tuhan jangan bawa dia!" 

Sang Ratu tak mampu berbuat lebih dari itu. Sekujur badannya seolah terikat ke tempat tidur 

sehingga dia tak bisa bangkit ataupun bergerak. Di depannya sosok makhluk berwajah gadis cantik 

tapi bermuka pucat dan mengenakan kebaya panjang putih berkelebat lenyap setelah sebelumnya 

meyambar tubuh Pendekar 212. 

"Kembalikan dia! Jangan! Kembalikan dia!" teak Ratu Duyung lagi. Napasnya sesak. Darah 

makin banyak keluar dari mulutnya. Matanya yang membeliak perlahan-lahan mengecil. 

Enam anak buah Ratu Duyung menghambur masuk ke dalam ruangan. Mereka terpekik 

ketika melihat keadaan pemimpin mereka. 

"Kejar!" teriak Ratu Duyung. Lalu kepalanya terkulai ke samping. 

Tiga orang anak buahnya segera keluar dari Puri Pelebur Kutuk itu. Yang tiga lagi cepat 

menutupi tubuh Ratu Duyung, melakukan beberapa kali totokan lalu cepat-cepat membawa sang 

Ratu kelua, dari tempat itu. 

*** 

Pendekar 212 Wiro Sableng membuka kedua matanya. Memandang berkeliling dia dapatkan 

dirinya berada dalam sebuah goa. Udara dalam goa it g sejuk pertanda berada di satu tempat 

ketinggian. Mungkin gunung atau bukit. Di kejauhan terdenga suara kicau burung. 

"Apa yang terjadi dengan diriku? Di mana aku berada saat ini?" pikir Wiro. Dia bangkit dan 

duduk sambil memandang berkeliling. Penglihatannya tak kurang suatu apa, begitu juga 

pendengarannya. Namun sosok tubuhnya terasa lemas. Mulutnya terasa kering. Tenggorokannya 

sakit. Dirabanya bibirnya. Kering. Dengan beringsut Wiro bergerak menuju cahaya terang yaitu 

dimana mulut goa terletak.Begitu sampai di ambang mulut goa Wiro menyaksikan satu pemandangan yang sangat indah. 

Saat itu masih pagi. Sang surya baru saja menyingsing. Titik-titik embun masih menempel di 

dedaunan. Seperti diduganya goa itu memang berada di satu tempat ketinggian, menghadap ke 

sebuah lembah subur di bawah mana terbentang sebuah sungai. Jauh di sebelah barat kelihatan 

menjulang sebuah gunung hijau kebiruan. 

Melihat titik-titik embun yang melekat di dedaunan Wiro ingat pada piala perak berisi air 

embun murni. 

"Ratu Duyung..." desis Wiro. "Sebelumnya aku berada di tempat Ratu Duyung. Bagaimana 

tahu-tahu aku berada di sini? Apakah aku telah berhasil menolongnya? Apakah dia telah terbebas 

dari kutukan Itu?" Wiro memandangi dirinya. Tak ada luka atau cidera. Pakaian yang 

dikenakannya adalah pakaian bagus pemberian Ratu Duyung. "Aku ingat betul.... Waktu aku jatuh 

pingsan aku sama sekali tidak berpakaian. Siapa yang telah mengenakan pakaian ini ke tubuhku?" 

Wiro berusaha mengingat lebih jauh tapi mendadak perutnya terasa perih. 

"Lapar.... Perutku keroncongan. Mungkin sudah berhari-hari aku tidak makan. Berarti aku 

pingsan lama sekali. Siapa yang membawaku ke sini...? Waktu itu aku ingat.... Ya, aku ingat." Ratu 

Duyung berteriak memperingatkan ada seseorang mendekatinya. Lalu ada suara letusan dan dia 

tak ingat apa-apa lagi. 

"Gila! Aku tak bisa mengingat cepat. Perutku lapar sekali!" Sambil berpegangan pada batang 

pohon di sampingnya Wiro bangkit berdiri. Dia coba menarik napas dalam-dalam, menghirup 

udara pagi yang segar. Tiba-tiba dia memegang tubuhnya di bagian pinggang kiri kanan. Hatinya 

lega. Kapak Maut Naga Geni 212 dan batu hitam pasangannya ternyata masih ada padanya. 

"Seseorang telah menolongku. Mungkin bukan menolong. Yang jelas orang itu yang telah 

membawaku ke tempat ini. Aku dibawanya ke sini. Untuk apa? Jika dia berniat jahat pasti aku saat 

ini suda jadi mayat. Kalau dia berniat baik mengapa aku ditinggalkan sendirian di tempat ini? Di 

mana orang nya sekarang? Sakit kepalaku memikirkan semua ini! Usus dalam perutku mungkin 

sudah lengket tak pernah disentuh makanan atau air." Memandang ke arah sungai di bawah sana 

rasa haus membuat Wiro seperti mau gila. Dengan langkah tertatih-tatih dia tinggalkan goa, 

berjalan menuruni lembah. Namun baru bergerak sekitar sepuluh tombak, telinganya mendengar sesuatu berkelebat di belakangnya. Bau harum kembang kenanga memenuhi tempat sekitar situ. 

Dengan cepat murid Sinto Gendeng ini menyelinap ke balik serumpunan semak belukar. Dari 

balik semak belukar dia memperhatikan ke arah mulut goa. Dia yakin barusan ada seseorang 

menyelinap masuk ke dalam goa itu. 

Dugaan Wiro benar. Dia tidak menunggu lama. Satu sosok putih keluar dari dalam goa. 

"Astaga!" ujar Wiro. "Aku cuma melihat baying-bayang. Belum sempat memperhatikan 

dengan baik tahu-tahu sudah lenyap! Atau mungkin pandanga, mata menipuku? Karena lemah 

dan lapar?" Wiro menghirup dalam-dalam. "Bau itu bau kembang kenanga. Mengingatkan aku 

pada seseorang...." Wajah Pendekar 212 mendadak sontak berubah. Dia memandang berkeliling. 

Lalu berseru. "Bunga! Kau ada di sini...?" 

"Wuuttt..!" 

Satu bayangan berkelebat. Harumnya kemba kenanga semakin menjadi-jadi. Wiro tersurut 

beberapa langkah ketika bayangan itu tahu-tahu muncul di hadapannya. Mula-mula sangat samar-

samar. 

Kemudian perlahan-lahan berubah membentuk sosok seorang gadis cantik berpakaian kebaya 

putih panjang berenda-renda. Celananya juga putih. Rambutnya yang panjang setengah digulung 

dan dibentang di depan dada. Sesaat wajah itu masih tampak pucat. Perlahan-lahan baru berubah 

kemerahan. 

"Bunga, benar kau rupanya...!" ujar Wiro seperti mau menghambur ke depan. Tapi 

kekuatannya tidak menunjang. Tak ampun tubuhnya jatuh terperosok ke depan. Sebelum dia 

jatuh tersungkur di tanah, dua tangan halus memegang bahunya. 

"Bunga...." 

"Wiro...." 

Pendekar 212 peluk erat-erat gadis di hadapanya. Ketika hendak diciumnya gadis itu jauhkan 

wajahnya lalu melepas pelukannya. 

"Mungkin dia malu karena lama sekali tidak bertemu tapi mungkin ada sesuatu yang 

mengganjal dalam hatinya," pikir Wiro. Lalu dengan tunjukkan wajah ceria Pendekar 212 

bertanya."Lama sekali kita tidak bertemu, Bunga. Bagaimana kau bisa berada di tempat ini? Apakah kau 

yang membawa aku ke sini?" 

"Memang lama sekali kita tidak pernah bertemu Wiro. Kau di alam duniamu yang serba 

mudah. Aku di alam gaibku yang serba kelam. Kau tak pernah mengingat diriku lagi.... Waktu dan 

pikiranmu tersita oleh segala macam urusan dunia. Agaknya kau merupakan orang paling bahagia 

dalam duniamu. Disukai dan dicintai banyak gadis...." 

"Jangan-jangan gadis ini cemburu pada Ratu Duyung," pikir Wiro. Untuk menggembirakan 

hatinya, Wiro lalu berkata. 

"Ah, memang aku merasa bersalah. Tapi aku selalu dan sering ingat padamu...." 

"Hanya sekedar ingat apa artinya. Kau ingat terakhir kali kita bertemu? Lebih dari setahun 

lalu. Agaknya kau tidak pernah menginginkan pertemuan lagi denganku...." 

"Bunga, aku mungkin bersalah. Tapi dengan jujur aku katakan jangan kau bersalah duga. 

Setiap aku ingin bertemu denganmu aku merasa aku hanya akan menyusahkanmu saja. Karenanya 

kalau tidak perlu benar aku tidak ingin mengganggumu." 

"Apakah saat ini kehadiranku mengganggumu Wiro?"

"Ah! Ada apa sebenarnya dengan gadis cantik dari alam gaib ini," membatin Pendekar 212. 

"Dia seperti tidak suka padaku. Tapi mengapa membawaku ke sini? Dia seperti...." 

"Aku senang bertemu denganmu Bunga. Benar-benar senang. Lebih dari itu aku berterima 

kasih kau telah membawaku ke sini. Kau telah menolongku.... 

Bunga gelengkan kepalanya. "Aku tidak menolongmu Wiro. Aku hanya menolong diriku 

sendiri..., 

"Aku tidak mengerti maksudmu," kata Wiro pula. 

"Aku menolong diriku sendiri dari himpitan perasaan yang membuatku seperti mau gila. 

Setiap aku mengingat dirimu aku ingin keluar dari alam gaibku menemuimu. Tapi aku khawatir 

kau tidak menerima kehadiranku dengan senang. Kalaupun kau memperlihatkan sikap suka 

mungkin hanya karena terpaksa...." 

"Semua dugaanmu itu salah belaka Bunga...." 

"Mungkin Wiro, tapi aku melihat dengan mata kenyataan. Seorang makhluk gaib sepertiku ini yang oleh orang banyak disebut makhluk jejadian apa menguntungkannya bagimu dibanding 

dengan seorang gadis dalam sosok asli manusia sejati?" 

Wiro mendekati Bunga, memeluk gadis itu dan berbisik. "Kau tahu perasaanku terhadapmu 

Bunga. Sejak dulu aku ingin selalu dekat denganmu. Banyak jasa dan budi yang telah kau tanam 

dan tak mungkin aku balas. Kalau aku boleh bertanya, perasaan apa yang selama ini 

menghimpitmu?" 

"Kau sudah tahu jawabannya Wiro. Kau tahu isi hatiku terhadapmu..." jawab Bunga alias Suci 

yang dalam dunia persilatan dijuluki Dewi Bunga Mayat. (baca serial Wiro Sableng berjudul 

Misteri Dewi Bunga Mayat). 

Wiro pejamkan kedua matanya. "Aku tahu kau mencintai diriku Bunga...." 

"Kau juga tahu selama dunia terkembang, selama alam gaib dan duniawi tidak bisa bersatu, 

aku tak akan pernah bisa memiliki dirimu...." 

"Kau telah memiliki diriku sejak pertama kali kita bertemu..." bisik Wiro sambil membelai 

rambut panjang hitam si gadis. 

"Berlakulah jujur Wiro. Hal itu tidak akan pernah terjadi," kata Bunga pula. "Aku hanya bisa 

berusaha ke arah itu walau aku sadar tak akan pernah menjadi kenyataan. Itu sebabnya aku 

menyerbu masuk ke dalam Puri Pelebur Kutuk. Di alam gaib aku tidak tahan melihat dirimu 

berdua-dua dengan Ratu Duung. Aku tak ingin ada seseorang memilikimu. Aku..." 

"Ratu Duyung tidak memilikiku. Kalau kau arif, kau tentu tahu apa sesungguhnya yang ada di 

balik hubunganku dengan Ratu Duyung. Aku memang bingung menghadapi kejadian itu. Itu 

sebabnya aku bertanya pada beberapa tokoh dunia persilatan, Termasuk guruku sendiri...." 

"Aku tahu hal itu. Dan mereka membenarkan apa yang hendak kau lakukan. Itulah duniamu 

Wiro. Jauh berbeda dengan duniaku.." kata Bunga pula. 

Wiro menarik napas dalam. "Apapun yang telah terjadi kau telah membuat aku tidak dapat 

menolong gadis itu. Aku tidak sempat membebaskannya dari sumpah kutukan...." 

"Kau telah melakukannya. Kau telah menolong dirinya bebas dari alam kutukan." 

Wiro memandang lekat-lekat pada gadis cantik berwajah pucat di hadapannya. "Tidak, aku 

belum sempat melakukan apa-apa!" kata Pendekar 212.Bunga tersenyum. 

"Kau tidak percaya? Aku berani bersumpah!" 

"Baiklah jika kau berkata begitu. Tapi satu waktu kau akan melihat kenyataan bahwa kau 

benar-benar telah menolong gadis yang malang itu...." 

"Maksudmu kelak... kelak jika dia nanti hamil?"


LIMA


BUNGA tersenyum. "Hal yang satu itu sulit aku jawab." 

Wiro jadi garuk-garuk kepala. Dalam hati dia bertanya-tanya. "Apa betul yang dikatakan 

Bunga barusan? Aku yakin aku belum sempat memenuhi permintaan Ratu Duyung. Aku belum 

melakukan esuatu untuk menolongnya. Tetapi mengapa Bunga begitu yakin...." 

"Kau masih memikirkan hal itu Wiro?" Teguran Bunga menyadarkan Wiro. 

Ketika Pendekar 212 diam saja Bunga lalu mengngsurkan sebuah bungkusan. 

"Apa ini...?" tanya Wiro. 

"Buah-buahan hutan untuk makanmu. Juga ada beberapa potong tebu untuk kau minum 

airnya. Kau telah pingsan selama enam hari. Kau tentu lapar dan haus sekali...." 

"Pingsan enam hari? Aku pingsan selama enam hari?" ujar Wiro dengan mata mendelik. 

"Pantas perutku perih keroncongan, tenggorokan dan mulutku kering. Sekujur tubuhku lemah." 

Wiro segera melahap beberapa jenis buah-buahan yang dibawakan Bunga. Sebentar saja semua buah itu termasuk potongan tebu amblas masuk ke dalam perut Wiro. 

"Masih lapar?" tanya Bunga. 

"Kalau belum ketemu nasi rasanya belum kenyang!" jawab Wiro lalu tertawa tergelak-gelak. 

Tiba-tiba ia hentikan tawanya. 

"Ada apa?" tanya gadis dari alam gaib itu. 

"Kau bilang enam hari aku pingsan. Berarti enam hari aku tidak pernah mandi! Celaka! 

Pantas bau badanku sedap amat! Aku terpaksa meninggalkanmu Bunga. Di lembah sana aku lihat 

ada sungai. Aku mau mandi dulu, kau tunggu di sini. Jangan kemana mana. Jangan mencoba 

mengintip!" 

Bunga tertawa. "Mana ada ceritanya perempuan mengintip lelaki. Justru lelaki yang suka 

mengintai perempuan!" 

"Aku pergi!" ujar Wiro. 

"Pergilah. Selesai mandi segera kembali ke sini. Ada hal penting yang akan kubicarakan 

denganmu." kata Bunga. 

"Eh, hal apa?" tanya Wiro. 

"Nanti saja. Sekarang mandilah sepuasmu. Kalau kau sudah bersih dan segar cepat kembali 

sini...." 

Wiro hendak melangkah pergi tapi mendadak dia hentikan langkah dan memandang pada si 

gadis." 

"'Ada apa?" 

"Sepertinya percuma saja aku mandi. Sudah bersih dan segar seperti katamu, aku tetap saja -

memakai baju bagus tapi sudah bau ini!" 

"Ah! Aku lupa!" ujar bunga. Dia masuk ke data goa lalu keluar lagi membawa seperangkat 

pakaian putih. "Selesai mandi kau boleh mengenakan baju dan celana ini." 

Wiro menyambuti pakaian yang diserahkan Bunga dengan perasaan haru. "Lama sekali aku 

tidak pernah mengenakan pakaian serba putih. Terima kasih Bunga." 

Cukup lama menunggu akhirnya. Wiro muncul di depan goa. Pakaian putih yang dikenakan, 

tampak basah oleh keringat. Dadanya turun naik tanda napasnya sesak sehabis menaiki lembah."Kau sudah bersih dan segar sekarang!" sambut Bunga. 

Wiro menarik napas panjang. 

"Ada sesuatu yang tidak beres dengan diriku!" kata Wiro sambil duduk bersila di tanah 

mengambil sikap siap untuk mengatur jalan napas dan peredaran darah. 

Bunga pandangi pemuda itu dengan perasaan tedih. "Dia mulai mengetahui perubahan yang 

terjadi atas dirinya. Kasihan dia. Rasanya tidak tega untuk memberitahu," kata gadis ini dalam hati. 

"Apa maksudmu Wiro. Apa yang tidak beres?" bertanya Bunga kemudian. 

"Waktu mendaki bukit ini aku tak mampu berlari. Berjalan cepat saja membuat napasku 

sesak. Aku cepat berkeringat. Sekujur tubuhku letih begitu sampai di atas sini. Tubuhku seolah 

tidak bertulang lagi...." 

"Wiro, itu sebabnya aku tadi memintamu agar lekas datang ke sini begitu selesai mandi." 

"Aku sudah duduk di sini. Kau mengatakan ada sesuatu hal penting yang ingin kau bicarakan 

dengan diriku." 

"Atur dulu jalan napasmu. Kalau kau sudah agak tenang baru nanti kita bicara." 

Wiro melakukan apa yang dikatakan Bunga. Besaat kemudian dia berkata, "Aku sudah siap 

Bunga. Ayo bicaralah...." 

"Kau menyadari ada suatu kelainan dalam dirimu pat ini Wiro?" 

"Hemmm.... Kalau perasaan lemah aku rasa wajar-wajar saja karena enam hari aku pingsan. 

Begitu sadar cuma makan buah dan tebu," jawab Wiro sambil tersenyum. 

"Tubuhmu terasa lemah, napasmu sesak. Kau telah mengatur peredaran darah serta jalan per-

napasanmu. Apakah kau merasa kekuatanmu sudah kembali?" 

"Aku tidak mengerti apa maksud semua ucapanmu itu Bunga. Kalau malam nanti aku bisa 

tidur nyenyak besok pagi pasti aku sudah pulih seperti semula." 

"Wiro, aku segan mengatakan hal ini padamu. Tapi kalau tidak aku jelaskan aku khawatir kau 

bisa mengalami malapetaka yang bisa merenggut jiwamu." 

"Bunga, apa sebenarnya yang kau bicarakan ini?!" tanya Wiro. Tambah tidak mengerti tambah 

terbayang rasa jengkelnya. 

"Wiro, ketahuilah. Akibat apa yang kau lakukan dengan Ratu Duyung kau telah kehilangan kekuatan luar dan dalam, juga semua kesaktian yang kau miliki. Itu akan berlangsung selama 

seratus hari." 

Wiro tidak tampak terkejut malah tertawa lebar. "Kau ini ada-ada saja! Memangnya aku telah 

berbuat apa dengan Ratu Duyung? Tadi sudah kujelaskan bahkan sampai bersumpah! Aku belum 

memenuhi apa yang dimintanya! Aku memang senang kau bergurau. Tapi jangan yang aneh-

aneh...." 

"Aku tidak bergurau Wiro. Jika kau tidak percaya coba kau pukul dan patahkan cabang pohon 

ini." 

Sosok gadis dari alam gaib itu berkelebat ke atas. Terdengar suara "Kraakk!" Begitu turun ada 

sebatang cabang pohon sebesar betis sepanjang lima jengkal. Bunga pegang patahan cabang pohon 

itu pada ujung-ujungnya. 

"Kerahkan tenaga luarmu. Hantam cabang ini dengan tangan kosong." 

"Ini namanya permainan anak-anak," kata Wiro pula. Dengan sikap acuh tak acuh dia 

pukulkan pinggiran telapak tangan kanannya. 

"Kraaakk!" 

Cabang pohon itu patah. 

"Kau lihat sendiri!" ujar Wiro sambil mengusap dengan kanannya. "Cabang pohon itu dengan 

mudah dapat kupatahkan!" 

"Kenyataannya begitu. Tapi aku melihat kerenyit kesakitan pada wajahmu. Lihat tangan 

kananmu. Merah! Sebentar lagi pasti membengkak! Hal itu tidak akan terjadi jika kau masih 

memiliki ilmu kesakItlan...." 

Pendekar 212 jadi terdiam. "Jangan-jangan apa yang dikatakan gadis ini benar..." pikir Wiro 

sambil perhatikan tangan kanannya yang kemerahan dan berdenyut sakit. 

"Sekarang kerahkan tenaga dalammu, pukul batlang pohon itu! Kau boleh mengeluarkan ilmu 

pukulan apa saja! Jika kau memang masih memiliki kesaktian dan tenaga dalam tinggi, batang 

pohon yang tak seberapa besar itu pasti dapat kau hancurkan hingga tumbang!" 

Merasa diperlakukan seperti orang bodoh atau seolah seorang yang baru belajar ilmu silat 

Wiro segera kerahkan tenaga dalamnya ke tangan kanan. Dia siap untuk menghantam batang kayu  itu dengan pukulan segulung ombak menerpa karang! Saat itulah dia menyadari bahwa dia tidak 

bisa menghimpun tenaga dalamnya di bagian pusar, apalagi mengalirkannya ke tangan yang 

hendak melepas pukulan sakti itu. 

"Gila! Aku tidak percaya!" kertak Wiro dalam hati. Dia melompat sambil hantamkan tangan 

kanannyal ke batang pohon. 

Pukulannya menghantam telak. Batang kayu itu, tidak bergeming sedikit pun. Hanya kulit 

kayunya yang sudah lapuk pecah berjatuhan. Wiro berteriak kaget dan kesakitan. Tubuhnya 

terlempar beberapa langkah. Untung tidak sampai terbanting jatuh punggung. Terbungkuk-

bungkuk menahan sakit dia pegangi tangan kanannya. Dalam keadaan seperti itu dia memandang 

tak percaya pada tangan kanannya. Tangannya pecah dan mengucurkan darah. Wiro berpaling 

pada Bunga, hendak bertanya tapi tak kuasa membuka mulut. Dengan kain pengikat kepalanya 

Wiro membalut luka di tangan kanannya. 

"Sulit kupercaya..." kata Pendekar 212 perlahan. Diam-diam dia coba mengerahkan tenaga 

dalamnya ke perut. Seperti tadi tidak terjadi apa-apa. Dia ticlak mampu melakukan. 

"Coba kau kerahkan aji kesaktian menyiapkan pukulan sinar matahari," kata Bunga. 

Wiro segera melakukan apa yang dikatakan si gadis. Beberapa saat berlalu. Tangan kanannya 

bergetar. Namun tidak terjadi apa-apa. Biasanya jika dia siap mengeluarkan pukulan sinar matahari 

maka tangannya sebatas siku sampai ke ujung jari akan berubah menjadi seputih perak. 

"Aku tidak mampu melakukannya!" kata Wwo setengah berteriak. Mukanya tampak sangat 

pucat 

Bunga masih belum puas menguji dan membuktikan apa yang terjadi dengan Pendekar 212. 

Maka dia pun berkata. "Cabut kapak saktimu. Tebas batang pohon di depan sana!" 

Kembali Wiro melakukan apa yang dikatakan Bunga. 

Ketika Kapak Maut Naga Geni 212 dicabutnya dari balik pinggang dia merasa heran dan 

berkata, Aneh, kenapa senjata ini yang biasanya ringan kini terasa begitu berat... 

Wiro mulai kerahkan tenaga dalamnya. Biasanya begitu tenaga dalam mengalir ke tangan 

sepasang mata kapak akan mengeluarkan sinar terang menyilaukan disertai membersitnya hawa 

panas. Tapi kini hal itu sama sekali tidak terjadi. Wiro memaksakan dengan segala daya. Tetap sia sia sia malah tubuh dan mukanya jadi mandi keringat sedang senjata yang dipegang terasa bertambah 

berat. 

Dalam keadaan seperti itu Wiro masih belum dapat menerima kenyataan yang terjadi atas 

dirinya. Didahului teriakan keras yang kini tidak memiliki gema hebat karena tidak disertai aliran 

tenaga dalam dia melompat dan hantamkan Kapak Maut Naga Geni 212 ke batang pohon di 

hadapannya. 

"Kraaakk!" 

Kepingan kayu berpelantingan. Kapak amblas ke batang pohon sedalam seperempat jengkal 

tapi tidak terduga senjata itu terlepas dari pegangan Wiro dan mental lalu membalik dan 

menghantam ke arah kepalanya. 

"Gila!" maki Pendekar 212. Dia cepat jatuhkan diri untuk menghindari senjata makan tuan 

yang bisa membunuhnya. Tapi astaga! Gerakannya begitu lamban. Kapak Maut Naga Geni 212 

menyambar lebih cepat daripada gerakannya mengelak. "Aku tak mampu mengelak! Kepalaku...!" 

Sesaat lagi salah satu mata kapak akan menancap di keningnya tiba-tiba dari samping bea ke-

lebat satu bayangan putih. Wiro merasakan sambaran angin yang sangat keras. Sebenarnya 

sambaran angin itu biasa-biasa saja dan tidak ditujukan ke arahnya. Namun karena dia kini tidak 

memiliki kekuatan dan kesaktian apa-apa maka sambaran angin tadi sempat membuatnya 

terpelanting da jatuh duduk di tanah. Ketika dia memandang ke depan dilihatnya Bunga tegak 

sambil memegang senjata mustikanya. Gadis ini lalu melangkah mendekati Wiro dan 

mengembalikan kapak itu. Wiro meletakkan Kapak Maut Naga Geni 212 di pangkuannya. Untuk 

beberapa lamanya kedua matanya memandangi senjata mustika itu tanpa berkedip. 

"Apa yang terjadi dengan diriku..." desisnya perlahan. Matanya dipejamkan. Tubuhnya 

bergetar mnahan goncangan perasaan. "Eyang guru! Tuhan! Apa yang terjadi dengan diriku!" 

teriak Wiro sambil mengangkat kedua tangannya. Lalu kedua tangan itu terkulai lemah ke bawah. 

"Apa semua ini karena dosaku menggauli Ratu Duyung?! Tuhan, Kau tahu apa yang aku lakukan 

hanya dengan niat menolong semata. Tidak ada nafsu keji dan kotor! Lagipula bukankah aku 

belum melakukan apa-apa...." 

"Wiro." Satu suara menegurnya dan satu tanga yang lembut membelai rambut di belakang kepalnya. 

"Bunga.... Aku tidak mengerti semua ini! Mengapa aku jadi begini? Tenaga luarku lenyap. 

Tenaga dalam musnah! Kesaktian hilang! Aku merasa seolah seperti mati saja!" 

"Wiro, dengar ucapanku. Aku akan memberitahu apa yang aku ketahui," kata Bunga pula. 

"Kau tahu, aku tahu dan Tuhan pun tahu maksud baikmu menolong Ratu Duyung yang telah 

menanam budi dan jasa serta menyelamatkanmu dari maut. Namun dalam dunia Ratu Duyung 

berada, bersentuhan badan tanpa terhalang oleh pakaian akan membuat orang luar mengalami 

malapetaka. Jika dia seorang biasa saja yaitu tidak memiliki tenaga luar yang kuat, tidak 

mempunyai tenaga dalam serta kesaktian maka malapetaka itu bisa membuat dirinya menemui ajal. 

Jika dia tidak tewas maka dia akan menjadi lumpuh seumur hidupnya. Sebaliknya jika orang luar 

itu keadaan seperti dirimu yakni memiliki tenaga dalam dan tenaga luar yang tinggi serta berbagai 

kesaktian maka semua apa yang dimilikinya itu akan lenyap...." 

"Ya Tuhan!" seru Wiro. Pemandangannya menjadi kelam. Tubuhnya menghuyung. Bunga 

cepat enahan bahu Pendekar 212. "Tenang Wiro, keteranganku belum selesai." 

"Aku saat ini tak lebih dari seorang manusia tidak berguna. Apa gunanya hidup...?" 

"Dengar Wiro, semua yang kau miliki itu akan lenyap. Tapi tidak untuk selama-lamanya...." 

Wiro seperti tidak mau mendengarkan lagi. Kealanya digeleng-gelengkan. 

"Tenaga luar dan dafam serta kesaktianmu haya lenyap selama seratus hari Wiro. Setelah itu 

pn1ua itu akan kemba!i dengan sendirinya. Hanya saja mungkin kau perlu untuk melatihnya 

kembali barang sebulan dua bulan...." 

"Apakah Ratu Duyung mengetahui akibat yang bakal terjadi atas diriku?" 

"Tentu saja dia mengetahui," jawab Bunga. 

"Gadis setan! Dia tidak memberitahu padaku!" 

Bunga terdiam sesaat lalu berkata dengan suara perlahan. "Terus terang aku cemburu 

terhadapnya.Cemburu terhadap hubunganmu dengan dia. Tapi dalam hal ini jangan kau salahkan 

dirinya. Dia tidak mungkin mengatakan hal itu padamu. Karena kalau dikatakannya kau pasti 

tidak akan mau menolongnya...." 

"Tapi...." Wiro menarik napas dalam-dalam. Kedua tangannya dikepalkan. "Aku merasa

ditipu!" 

"Tidak ada yang menipumu Wiro. Apa yang terjadi memang pahit. Mungkin sudah begitu 

jalan nasibmu...." 

"Ini bukan jalan nasib! Ini gila!" kata Pendekar 212 pula. 

"Wiro, dalam keadaanmu seperti ini kau harus segera menghilang dari dunia persilatan. Paling 

tidak selama seratus hari sebelum kekuatan luar dalam serta kesaktianmu kembali pulih...." 

"Aku harus menghilang dari dunia persilatan? Apa maksudmu Bunga?" 

"Apa kau tidak menyadari? Tanpa kemampuan apa-apa kau berada dalam bahaya besar. Jika 

satu saja dari sekian banyak musuhmu mengetahui apa yang terjadi dengan dirimu maka kau pasti 

akan dicarinya dan dibunuh dengan mudah! Kau tak mungkin menyelamatkan diri!" 

Berubahlah paras murid Sinto Gendeng. Lama dia terdiam, sebelum bertanya dengan nada 

putus asa. "Bunga, apakah tidak ada satu cara untuk dapat mengembalikan kekuatan dan 

kesaktianku tanpa harus menunggu sampai seratus hari?" 

Bunga menggeleng. "Aku ikut sedih atas apa yang kau alami. Tidak seorang pun bisa 

menolongmu Wiro. Juga aku...." 

Apa yang harus aku lakukan sekarang? Otakku sepertinya tak bisa berpikir lagi.' 

"Aku sarankan kau pergi ke tempat kediaman gurumu di Gunung Gede. Itu tempat paling 

aman bagimu...." 

"Kau benar. Tapi dalam keadaanku seperti ini tidak mudah bagiku mengadakan perjalanan 

sejauh itu...." Wiro memandang berkeliling. "Kita berada dimana saat ini? Apa nama tempat ini." 

"Kita berada di Bukit Jatianom. Jauh di sebelah tenggara Gunung Merapi. Jika kau mengira 

tempat ini aman bagimu, aku tidak bisa menjamin...." 

"Apapun yang akan terjadi dengan diriku di tempat ini, rasanya aku tidak akan mau pergi ke 

mana-mana. Kalaupun aku harus mati biar saja aku menemui ajal di sini...." 

Jika itu keputusanmu dan tak bisa dirubah aku tak bisa berbuat apa-apa. Saat ini aku harus 

kembali ke duniaku...." 

Wiro terdiam. Dia merasa lebih aman jika Bunga berada bersamanya di tempat itu. 

"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Sayang aku tidak bisa melakukan. Aku sudah terlalu lama berada dalam duniamu. Aku harus pergi Wiro.... Jaga dirimu baik-baik." 

Wiro mengangguk. 

"Apakah kau masih menyimpan kembang kenanga yang pernah aku berikan dulu?" tanya 

Bunga. Wiro seperti tersentak. Dia meraba pakaian putihnya. 

"Kau tak bakal menemui bunga itu di sana. Aku juga telah memeriksa pakaian yang kau 

kenakan sebelumnya. Bunga itu pasti tertinggal di tempat Ratu Duyung...." 

"Berarti jika aku memerlukanmu aku tidak bisa memanggilmu. Apakah kau bisa memberikan 

satu lagi padaku?" 

"Bunga sakti yang mampu memanggilku itu hanya muncul sekuntum dalam tujuh tahun...." 

Wiro seperti dihenyakkan. Jelas kalau terjadi apa-apa dengan dirinya dia tidak mungkin 

memanggil gadis dari alam gaib itu untuk menolongnya. 

"Aku akan berusaha memperhatikan dirimu dari alamku. Mudah-mudahan saja tidak terjadi 

apa-apa selama seratus had mendatang. Aku harus pergi sekarang Wiro...." 

Pendekar 212 Wiro Sableng berdiri. Dia melangkah mendekati si gadis dan ulurkan 

tangannya untuk merangkul. Namun dia seperti lenyap dari pemandangan. 

Untuk beberapa lamanya Wiro tegak tertegun. Lalu dia ingat sesuatu dan sekaligus 

mengorrael menyesali diri. 

"Mengapa tadi aku tidak meminta tolong pada Bunga agar menemui Eyang Sinto Gendeng. 

Memberitahu keadaanku saat ini. Ah, otakku seolah tidak bisa bekerja lagi! Untung Pangeran 

Matahari sudah tewas di Pangandaran. Kalau dia masih hidup dan mengetahui apa yang terjadi 

dengan diriku, niscaya aku akan menemui ajal secara mudah di tangannya!" 

Wiro menghela napas dalam berkali-kali. Dia balikkan tubuhnya dan memandang ke arah 

goa. 

Apa aku harus mendekam bersembunyi selama seratus hari di goa itu? Belum apa-apa rasanya 

sudah seperti mau mati! Daripada mati di dalam goa ini lebih mati di tempat lain!" 

Wiro alihkan pandangannya ke lembah. "Astaga!" Tiba-tiba murid Sinto Gendeng ini ingat 

akan ilmu "Pukulan Harimau Dewa". 

"Bukankah ilmu kesaktian itu bisa dikeluarkan tanpa mengandalkan tenaga dalam?" pikir Wiro. Tanpa tunggu lebih lama dia segera tiup tangan karannya. 

Lalu telapak tangan dikembangkan lebar-lebar. Matanya membeliak dan tengkuknya menjadi 

dingin ketika pada telapak tangan kanannya sama sekali tidak muncul gambar kepala harimau 

putih bermata hijau. "Datuk Rao Bamato Hijau,... Datuk Rao Basaluang Ameh. Apakah kalian 

juga telah meninggalkan diriku?" ujar Wiro dengan suara bergetar. Dia tidak ingat kapan terakhir 

sekali mengeluarkan air mata. Yang jelas saat itu dirasakannya kedua matanya berkaca-kaca. "Se-

besar apakatt dosa yang telah aku perbuat hingga jatuh kutuk begini hebat terhadapku?" Perlahan-

lahan Wiro duduk di tanah. Sekujur tubuhnya terasa lemah. Terbayang olehnya wajah Eyang Sinto 

Gendeng dan Kakek Segala Tahu. Setengah mengumpat dia berkata. 'Kalian berdua memberi 

dorongan agar aku menolong Ratu Duyung. Kalian seharusnya tahu apa akibatnya! Kalian 

menipuku! Menipuku!" Kata terakhir diucapkan Niro dengan berteriak dan tubuh bergetar!


ENAM


LANGIT biru disaput awan kelabu di sana-sini. Walau purnama memancarkan sinarnya yang 

putih terang namun tiupan angin membuat sebentar-sebentar awan kelabu menutupinya. Walau 

sesekali angin bertiup kencang namun air laut tampak setenang air danau. Sebuah perahu kayu 

yang layarnya baru saja digulung kelihatan meluncur perlahan memasuki Teluk Siburu. 

Penumpangnya seorang kakek berambut putih duduk melunjur, enak-enakan menyandarkan punggung dan kepalanya ke bagian haluan. Sulit untuk diketahui apakah orang tua ini tengah 

terlelap tidur atau bagaimana. Sepasang matanya membentuk lobang dalam di atas pipinya yang 

cekung. Wajahnya yang tidak berdaging seolah sebuah tengkorak hidup. 

Sayup-sayup di kejauhan terdengar suara ombak memecah. Suaranya agak aneh karena bukan 

memecah di pasir pantai tetapi memecah setelahmenghantam gugusan batu-batu karang tinggi 

runcing laksana barisan raksasa penjaga pulau. 

"Terima kasih Tuhan! Akhirnya kau selamatkan aku sampai ke pulauku kembali!" Orang tua 

muka tengkorak usap wajahnya yang ditumbuhi kumis dan janggut putih. Perlahan-lahan dia 

bangkit dan duduk di lantai perahu. Dia menyeringai ketika melihat deretan batu-batu karang 

tinggi itu. Apa yang dilihatnya itu membuat dia teringat pada Pendekar 212 Wiro Sableng yang 

kini jauh berada di tanah. 

Beberapa tahun yang lalu dia telah menggembleng Wiro di salah satu puncak batu karang itu 

hingga si pemuda memiliki daya tahan yang hebat pada kedua kakinya, bertambah tinggi ilmu 

meringankan tubuh dan tenaga dalamnya. 

"Anak setan itu rejekinya besar sekali. Setelah memiliki Kitab Putih Wasiat Dewa sulit dicari 

manusia yang bisa menandinginya. Siapa menyangka semudah itu dia bakal menjadi dedengkot 

nomor satu menguasai dunia persilatan... Tapi lain sang murid lain sang guru. Sinto Gendeng tua 

bangka konyol. Tak kuikuti kemauannya pergi ke Gunung Gede dia merajuk marah! Tua bangka 

masih seperti anak-anak! Jangan harap aku akan menjejakkan kaki lagi di tanah Jawa. Jangan harap 

aku mau ketemu dia lagi!" 

Sepasang mata si orang tua yang cekung lebar tampak tambah lebar dan menggidikkan ketika 

dia memandang jauh-jauh ke arah deretan batu-batu karang di pantai. Sementara angin kembali 

meniup awan kelabu menutupi bulan. Keadaan di sekitar pantai menjadi redup gelap. 

"Air laut pasang besar. Tak sedap rasanya mendarat di tempat itu. Kalau dulu mungkin aku 

masih suka berbuat gila. Bermain-main dengan ombak dan batu karang! Sekarang aku harus tahu 

diri. Tenaga sudah banyak terkuras oleh usia. Hik... hik! Biar aku mencari tempat mendarat yang 

empuk. Di bagian pantai sebelah timur. Di antara pohon-pohon bakau...." 

Seperti tak acuh kakek ini dorongkan tangan kanannya ke samping perahu. Air laut tampak

bergelombang. Perahu kayu itu bergerak ke kiri lalu meluncur menuju bagian pantai di sebelah kiri 

barisan batu-batu karang. 

Semakin dekat ke pantai yang ditumbuhi pohon-pohon bakau semakin gembira orang tua itu. 

Dari mulutnya melengking tinggi suara nyanyian. 

Jauh berjalan ke tanah Jawa 

Kembalinya ke Andalas juga 

Bertemu kekasih di masa muda 

Sudah tua tapi masih mau bermanja 

Ha... ha... ha! Hik... hik... hik! 

Di tepi pantai, di antara kerimbunan pohon bakau dan kegelapan malam seorang perempuan 

tua bermuka putih keluarkan ucapan merutuk dalam hati. 

"Tidak meleset dugaanku! Lelaki bangsat itu pergi ke tanah Jawa untuk menemui gendaknya 

si Sinto Gendeng!" 

Baru saja perempuan ini menggerendeng begitu rupa tiba-tiba ada seseorang mendatanginya 

dan berbisik. "Sabai, kau lebih mengenali suara musuh! besar kita. Aku yakin yang datang naik 

perahu itu memang orang yang kita tunggu-tunggu!" 

"Keyakinanmu tidak keliru. Siapkan teman-teman. Tunggu sampai aku memberikan tanda 

baru menyerbu!" 

"Agaknya dia datang hanya sendirian. Tidak membawa muridnya yang jadi musuh besar 

kami?!" 

Sabai Nan Rancak, si nenek muka putih berjubah hitam yang adalah guru Puti Andini si Dewi 

Payung Tujuh menjawab. "Itu lebih memudahkan bagi kita untuk membantainya. Setelah dia 

mampus baru kita cari muridnya. Sekarang lekas pergi. Atur siasat dengan teman-teman seperti 

yang sudah kita bicarakan! Jangan sampai setan tua itu lolos!" 

Orang yang berdiri di samping si nenek anggukkan kepala. Tanpa banyak bicara lagi dia segera 

meninggalkan tempat itu dan lenyap di kegelapan malam.atas perahu, kakek berpakaian dan berambut putih kembali menyanyi. 

Bagus cantik negeri orang 

Buruk kusut negeri sendiri 

Lebih baik negeri orang.... Eh! Salah! Hik... hik... hik! 

Lebih baik negeri sendiri! 

Berlayar kepalang jauh 

Tubuh dan tulang yang akan mengumpat 

Bercinta dengan orang jauh 

Walau sakit terasa nikmat Ha... ha... ha...! 

Air pasang di keliling pulau 

Air terjun di tengah rimba 

Senang sungguh pulang ke pulau 

Walau rindu menanggung cinta Siapuh! Ha... ha... ha! 

Perahu kecil itu meluncur perpahan, berkelok mencari jalan di antara akar-akar pohon bakau 

yang bertumbuhan sepanjang pantai. 

"Tek... tek... trek... tek... tek." 

Tiba-tiba ada sesuatu menyentuh badan perahu, mengeluarkan suara aneh. Semakin jauh 

perahu kayu itu masuk mendekati tepi pasir semakin sering suara itu terdengar. Orang tua di atas 

perahu buka matanya lebar-lebar, perhatikan air laut di sekitarnya. Tampangnya yang angker 

tampak tercekat ketika melihat benda apa yang telah menyentuh badan perahunya hingga 

mengeluarkan suara berkepanjangan. 

"Tengkarak manusia...! Begini banyak! Darimana asalnya kata orang tua tadi. Dia memandang 

berkeliling. Perasaan heran berubah menjadi galau tidak enak. Puluhan tengkorak kepala manusia

mengambang di permukaan air laut. Bergerak kian kemari lalu membentur badan perahu. Ada juga 

yang terapung-apung di sela-sela akar pohon bakau. 

"Tampaknya ini satu penyambutan yang direncanakan. Siapa yang punya pekerjaan...." Orang 

tua di atas perahu lalu ingat peristiwa hampir setahun silam. Dadanya berdebar keras. "Jangan-

jangan ini ulah Datuk Tinggi Raja Di Langit. Tapi bukankah dia sudah dipendam dalam makam 

tanpa nisan itu? Mana mungkin dia bisa lolos dan masih hidup...!" (Siapa adanya Datuk Tinggi 

Raja Di Langit harap baca serial Wiro Sableng berjudul Makam Tanpa Nisan). 

"Tua Gila! Selamat kembali ke pulaumu! Malam ini pulau ini akan menjadi pulau 

kematianmu!" Satu teriakan menggema di tempat itu. 

Orang tua di atas perahu terkesiap. "Itu bukan suara Datuk Tinggi Raja Di Langit..." katanya 

dalam hati. 

"Jahanam! Siapa berani berbuat gila di pulau kediamanku!" bentak orang tua di atas perahu 

yang ternyata adalah tokoh silat si Tua Gila yang paling ditakuti di seantero pulau Andalas, 

menyandang beberapa julukan. Diantaranya Pendekar Gila Patah Hati dan Iblis Gila Pencabut 

Jiwa. Bentakan Tua Gila begitu kerasnya hingga air laut tampak beriak dan daun-daun pohon 

bakau terdengar berdesir. 

Sebagai jawaban dari sepanjang tepi pasir yang gelap terdengar suara tertawa. 

"Kami malaikat maut utusan dari neraka yang ngin mencabut nyawamu!" 

"Mengorek jantungmu!" 

"Membedol isi perutmu!" 

"Cacing-cacing malam! Tanganku jadi gatal! Jangan bertindak pengecut! Perlihatkan diri 

kalian! Atau aku si Tua Gila akan memecahkan kepala kalian satu persatu!" 

Kembali dari arah daratan terdengar suara tertawa. Lalu ada seseorang berseru. "Kami belum 

merasa perlu memperlihatkan diri. Kehadiran kami audah diwakili oleh puluhan tengkorak yang 

mengapung di permukaan air laut! Itu adalah tengkorak orang-orang yang kau bunuh dimasa lalu!" 

Tua Gila sempat terkesiap tapi segera pula dia tertawa gelak-gelak. "Kalau yang menyambutku 

sudah jadi tengkorak, kalian rupanya adalah setan-setan kesasar yang gentayangan minta mati dua 

kali! Ha... ha... ha!""Sudah mau jadi bangkai masih saja bicara sombong!" 

Suara orang kali ini datang dari sebelah atas. Tua Gila cepat mendongak ke atas pohon bakau. 

Sesosok tubuh berpakaian hitam yang mendekam di atas pohon itu secepat kilat melompat ke 

pohon bakau lainnya. Tua Glla angkat tangan kanannya, siap untuk melepas satu pukulan sakti. 

Tapi niatnya dibatalkan. Malah seperti orang tidak beres ingatan dia kembali bernyanyi. 

Malam gelap malam gulita 

Pulang ke pulau disambut bala 

Boleh saja main gila bersama 

Asal siap serahkan nyawa 

Ha... ha... ha...! 

Tiba-tiba terdengar satu suitan nyaring. Bersamaan dengan itu laksana ketelawar-kelelawar ga-

nas dari atas pohon-pohon bakau melayang turun enam sosok tubuh. Tiga senjata berkiblat dalam 

kegelapan malam. Tiga pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi menderu melepas 

hawa panas. Dari arah tepi pasir tiga macam senjata rahasia berbentuk paku, pisau terbang dan 

jarum hitam menggebubu. 

Tua Gila berteriak kaget dan marah. 

"Pengecut-pengecut jahanam!" 

Tubuh berpakaian putih itu melesat ke udara lalu jungkir balik, mencelat ke arah rumpunan 

pohon bakau lebat di sebelah kiri. Dua pekikkan menggelegar. Dua orang yang barusan menyerang 

dari atas pohon bakau terpental satu tombak lalu tercebur ke dalam laut. Tak muncul lagi karena 

amblas dengan kepala pecah!


TUJUH


KESUNYIAN seperti menghantu di tempat itu walau di kejauhan suara ombak yang menghantam 

batu karang terdengar tidak putus-putusnya. Kematian dua kawan mereka dalam gebrakan 

pertama mau tak mau membuat para penyerang yang berada di tempat itu jadi terkesiap walau 

hanya seketika. 

Di atas pohon bakau yang gelap Tua Gila bergelantungan tak bergerak. Sebilah pisau terbang 

menancap di lengan kirinya. Darah mengucur. Beberapa buah jarum hitam berhasil menyusup di 

pakaian putihnya. Walau tak sempat melukai tubuhnya tapi cukup membuat dedengkot rimba 

persilatan Andalas ini jadi dingin kuduknya karena dia tahu betul jarumjarum itu pasti beracun. 

Dengan mendengus sambil menahan sakit Tua Gila cabut pisau terbang yang menancap di 

lengan kirinya. Matanya yang cekung lebar memandang beringas memandang liar ke arah 

kegelapan. Dia tidak dapat melihat penyerang gelap yang berada di tepi pasir namun dia ingat betul 

kalau tadi ada enam orang yang menyerang dari atas pohon bakau. Dua berhasil dibunuhnya. 

Empat lagi lenyap selamatkan diri. 

"Yang empat itu tidak terjun ke dalam laut. Mereka pasti mendekam di pepohonan bakau 

sekitar sini!" Tua Gila memperhatikan terus kegelapan di sekelilingnya lalu mulut kakek bermuka 

tengkorak ini kelihatan menyeringai. Dia berhasil melihat salah seorang penyerangnya. 

Bergelantung di balik rerumpunan pohon bakau. Tangan kanan Tua Gila yang memegang pisau 

bergerak. 

Orang yang diserang baru sadar kalau maut mengancamnya ketika pisau terbang itu hanya 

tinggal sejengkal di depan matanya. Dia berteriak keras. Coba menghindar sambil memukul ke 

depan. Namun pisau terbang lebih dulu menancap di tenggorokannya. 

"Hekkk!"

Dua tangan yang bergelantungan di pohon bakau terlepas. Tubuh orang ini jatuh ke dalamila 

menggelepar-gelepar beberapa kali lalu lenyap da permukaan air. 

Saat itu pula kembali terdengar suara suita keras. Dari arah pantai menderu tiga gelomba 

pukulan sakti. Di bawah kakinya Tua Gila melihat tiga senjata tajam berkilauan membabat ke ata 

mengarah kaki, paha dan pinggangnya. pisau terbang dan jarum-jarum hitam tak ketinggalan 

mencari sasaran di tubuh kakek muka tengkorak inil 

"Jahanam! Dendam apa yang membuat mereka benar-benar hendak membantaiku?!" kertak 

Tua Gila. 

Batang-batang pohon bakau tiba-tiba berputa berserabutan. Secara aneh melindungi sosok 

Tua Gila dari serangan yang datang dari arah pantai. Batang pepohonan itu hancur berantakan 

begitu terkena tabrakan angin pukulan sakti. Tua Gila sendiri tergontai-gontai. Mungkin dia 

sanggup bertahan dan tetap bergelantungan namun bahayanya terlalu besar. Dia harus 

menyelamatkan diri dari serangan senjata rahasia berupa pisau terbang dan jarum hitam. Belum 

lagi tiga senjata yang membabat sebelah bawahi. 

"Benar-benar Jahanam." maki Tua Gila. Dia kerahkan tenaga dalam dan terpaksa biarkan 

tubuhnya tersapu salah satu angin pukulan lawan. Meski bisa selamatkan nyawa namun orang tua 

ini tidak dapat menghindari cidera akibat pukulan jarak jauh itu. Tubuhnya terpental dua tombak 

ke kiri. Pinggul kirinya serasa memar. Sekujur kaki kiri laksana lumpuh. Pisau terbang dan jarum 

hitam berkesiuran di atas kepala dan kiri kanannya. Dua tebasan senjata tajam di sebelah bawah 

berhasil dielakkannya. Sen-iata ketiga membabat ke kaki kanan. Tua Gila cepat angkat kakinya 

yang diserang namun, "Breet!" Ujung lubah putihnya masih sempat dimakan ujung senjata lawan 

hingga robek besar. 

"Edan! Kalian main gila! Apa kalian kira aku tidak bisa main gila?" 

Tubuh Tua Gila melesat ke kiri. Bergelantungan di serumpunan pohon bakau lalu melesat ke 

kanan, setelah itu melesat lagi ke jurusan lain. Setiap tubuhnya berkelebat terdengar jeritan-jeritan 

mengerikan. Dua dari tiga penyerang bersenjata menemui ajal dimakan tendangan kaki kanannya. 

Yang ketiga disergapnya dari atas. Selagi dia memuntir kepala orang ini dari arah pantai melesat 

enam buah pisau terbang. Tua Gila cepat balikkan tubuh dan pergunakan badan orang yang. dipuntir kepalanya sebagai tameng. Empat pisau menancap telak di kepala, dada dan perut orang. 

Dua lainnya melesat menghantam udara kosong! 

Tua Gila cepat kerahkan tenaga dalamnya ke lubuh sebelah kiri yang terasa lumpuh. Baru saja 

rasa sakit hendak sirna tiba-tiba dari arah tepi pasir menyambar satu sinar merah. 

"Wuuuss!" 

Mula-mula sinar itu membentuk garis lurus. Setengah jalan melebar seperti kipas, terus 

menggebu ke arah mana Tua Gila berada. 

"Brakkk!" 

Dua batu besar yang ada di tepi pasir hancur berentakan dan mengepulkan asap dihantam 

sinar merah. 

"Kraaaakkk.... Wuuusss...." 

Pohon bakau di balik mana Tua Gila berusaha selamatkan diri hancur lebur, langsung 

dikobari api. Kalau Tua Gila tidak cepat jatuhkan diri ke laut niscaya dia ikut lumat dimakan sinar 

merah yang luar biasa panasnya itu. Terbakarnya daun dan pohon bakau membuat laut di mana 

Tua Gila berada menjadi terang benderang hingga para penyerang gelap lebih mudah melihatnya. 

Kembali dari arah tepi pasir sinar merah menderu. 

Pukulan Kipas Neraka!" seru Tua Gila yang sejak hantaman pertama sudah mengenali. "Tak 

bisa kupercaya! Apa benar dia ikut hendak menjarah nyawaku? Oooo benar-benar gila! 

Dendamnya di masa lalu tak kunjung habis! 

Tebaran sinar merah menderu. Di laut dangkal sedada Tua Gila terpaksa menyusup menyelam 

ke dalam air, berlindung di balik perahu kayu. 

"Hancurkan perahu itu!" Seseorang berteriak. 

Lalu, "Wuuuut!" Satu gelombang angin melesat di atas permukaan air laut. 

"Braaakkk!" 

Perahu kayu milik Tua Gila hancur berkeping-keping. Air laut muncrat setinggi dua tombak. 

Tua Gila lenyap dari pemandangan. 

"Lenyap! Dia lenyap!" Ada orang berteriak. 

"Dia belum tentu mati! Lekas ke muara!" Seseorang berseru berikan perintah.Baru saja seruan itu lenyap dari arah laut tampak melesat benda-benda bulat. Dalam kegelapan 

terdengar suara mengekeh. 

"Dajal-dajal tolol! Aku kembalikan hadiah penyambutan pada kalian!" 

"Awas serangan tengkorak! Saat itu di udara yang gelap berlesatan benda-benda bulat putih 

yang bukan lain adalah tengkorak-tengkorak yang sebelumnya bertebaran di permukaan laut, 

sengaja disebar oleh orang-orang yang hendak membunuh Tua Gila. Kini si kakek pergunakan 

tengkorak itu sebagai alat penyerang yang berbahaya hingga orang-orang yang ada di tepi pantai 

sesaat jadi kalang kabut. Satu orang roboh muntah darah begitu dadanya dihantam sebuah 

tengkorak. 

"Brakk.. brakkk... braakkk." 

Beberapa rangkum angin pukulan menderu ke udara. Belasan tengkorak hancur bermentalan. 

"Lepaskan buaya di muara! Seseorang berteriak dalam kegelapan malam. 

Dua sosok berkelebat ke arah timur dimana terdapat sebuah sungai kecil. Dengan cepat 

mereka menarik sebuah jaring lebar terbuat dari bambu yang sengaja dipasang di mulut muara. Di 

belakang jaring bambu ini mendekam lebih dari selusin buaya laut yang lebih dari sepuluh hari tak 

pernah mendapat makan. Begitu jaring penghalang dibuka binatang-binatang yang kelaparan dan 

telah mencium bau bangkai segera meluncur ke laut. 

Tua Gila melengak kaget ketika melihat munculnya begitu banyak buaya di permukaan laut. 

Binatang-binatang ini dengan ganas melahap mayat-mayat para penyerang yang telah dibunuh Tua 

Gila sebelumnya. Namun beberapa ekor di antara mereka segera melesat ke arah si kakek. 

"Aku pemilik pulaul Aku penguasa pulau' Kembali ke tempat kalian!" teriak Tua Gila. 

Dua ekor buaya tampak seperti menahan gerakan mereka mendengar bentakan Tua Gila. 

Namun yang tiga ekor lagi tidak mau perduli. Mereka terus saja menyerbu ke arah orang tua itu. 

"Makhluk tolol!" teriak Tua Gila. Tangan kanannya ditepukkan ke atas permukaan air laut. 

Air laut menggelombang muncrat. Tiga ekor buaya terhempas ke belakang. Tapi segera pula 

menyerbu kembali dengan lebih ganas. Dua menyusup ke dalam air. Yang ketiga melesat di 

permukaan. Tua Gila kerahkan tenaga dalam dan melesat ke udara setinggi satu tombak. Dia 

selamat dari serangan dua buaya yang hendak membantainya di bawah permukaan air. Namun buaya ketiga datang menyerbu dengan mulut terbuka dan hantaman ekor. Disaat yang sama dari 

arah tepi pasir melesat sinar merah. Pukulan Kipas Neraka! 

"Oo ladalah! Celaka diri tua keropos ini!" keluh Tua Gila. Salah satu dari dua serangan yaitu 

serangan buaya atau Kipas Neraka tak dapat tidak akan melabrak tubuh kurus si kakek. 

"Bukkk!" 

Tua Gila memutuskan lebih baik dia menerima hantaman ekor buaya. Kakek ini terpental 

sampai enam tombak. Dari keningnya mengucur darah. Tulang pipinya sebelah kiri retak dan 

terluka dalam akibat hantaman ekor buaya. Sesaat tubuhnya terkapar di atas pasir. 

"Lekas ringkus manusia jahanam itu!'' Seseorang berseru berikan perintah. 

Empat sosok tubuh tinggi besar melompat menyergap ke arah Tua Gila yang saat itu tengah 

mengusap darah yang menutupi pemandangan mata kirinya. Tiba-tiba Tua Gila dorongkan kedua 

tangannya ke depan. 

Empat lelaki yang hendak meringkusnya menjerit keras. Tubuh mereka terpental dan 

berguling-guling di atas pasir pantai. Dua orang langsung tak berkutik lagi, putus nyawa. Dua 

lainnya dengan megap-megap mencoba bangkit berdiri. Namun muntahkan darah segar lalu 

terjungkal roboh. 

Tua Gila dengan cepat meneliti wajah keempat orang itu. "Tak satu pun aku kenal. Pasti 

mereka hanya cecere-cecere yang dijadikan umpan dan korban!" membatin Tua Gila. "Siapa yang 

jadi dedengkot mereka? Satu aku sudah bisa menerka, tapi di ujung sana kulihat lebih dari sepuluh 

keparat mendekam dalam kegelapan. Menginginkan kematian diriku! Gila betul! Hik... hik... hik! 

"Tua Gila! Jalan lolos tidak ada bagimu! Jika kau mau serahkan diri, kami berjanji akan 

mengurus mayatmu secara baik-baik!" Ada seseorang yang berteriak dari arah pantai. 

Tua Gila tidak mengenali siapakah yang barusan bicara. Sambil mengusap darah di mukanya 

yang cekung dia tertawa mengekeh. 

"Bagaimana mungkin kalian akan mengurusi mayatku! Kalian akan mampus lebih dulu 

darikul Ha...h a... ha! Hik... hik... hik!" 

Beberapa orang terdengar menyumpah dalam kegelapan. Lalu, "Wuuut!" Sinar merah melesat 

dari arah pantai. Bersamaan dengan itu Tua Gila melihat beberapa orang berkelebat ke arahnya.Masing-masing lepaskan pukulan tangan kosong berkekuatan tenaga dalam tinggi. Pantai laksana 

disapu topan, pasir beterbangan. Air laut bergelombang dan batu-batu yang ada di tepi pantai 

bergetar keras. Beberapa diantaranya terbongkar dan menggelinding jauh. 

Tua Gila jatuhkan diri sama rata dengan pasir pantai. Sambil menelentang di pasir dia balas 

menghantam ke depan. Tenaga dalamnya yang tinggi bentrokan dengan gabungan beberapa tenaga 

dalam yang serempak menggempurnya. Terjadilah hal yang hebat. Tubuh Tua Gila laksana sehelai 

daun dihantam angin puting beliung melesat ke udara. Pakaian putihnya robek hampir di setiap 

sudut. Dari mata, telinga, hidung dan mulutnya mengucur darah, dalam keadaan seperti itu 

tubuhnya jatuh terhantar di balik lamping batu karang. 

Di arah pantai delapan orang terjengkang di pasir. Dua tak bangun lagi, dua bangkit 

terhuyung-huyung. Yang empat cepat melompat berdiri seolah-olah tidak menderita atau cidera 

apa-apa. 

Di balik batu karang Tua Gila cepat mengatur jalan darah, pernapasan dan tenaga dalam. Dia 

hanya sanggup menghentikan kucuran darah. Namun rasa sakit seperti menguliti sekujur 

badannya. Terbungkuk-bungkuk dia melangkah tertatih-tatih, masuk lebih dalam ke balik batu 

karang. Denyutan luka akibat hantaman ekor buaya di kepalanya seolah palu godam yang hendak 

menghancurkan batok kepalanya. Di satu tempat yang dirasakannya aman, di antara celah dua 

batu karang orang tua ini jatuhkan diri. Dia cepat duduk bersila. Kembali mengatur jalan napas, 

peredaran darah dan tenaga dalam. 

"Ada yang tak beres dengan diriku. Tenaga dalamku sulit dialirkan. Seolah urat-urat besarku 

terbendung di beberapa bagian. Pukulan Pembendung Tenaga! Kalau bukan karena itu tak 

mungkin aku begini! Celaka! Apa benar ada pukulan sehebat itu? Siapa diantara mereka yang 

memiliki? Perempuan celaka itu pasti bukan! Sialan gila! Kalau tahu bakalan begini lebih baik aku 

mengikuti kata-kata Sinto Gendeng. Jangan buru-buru kembali ke Andalas ini." 

"Tua Gila! Kami tahu kau mengalami cidera berat! Apa masih belum mau serahkan diri?" Dari 

arah pantai terdengar teriakan orang."Jahanam!" Tua Gila merutuk. Perlahan-lahan dia bangkit berdiri dan mengintai dari balik 

batu karang. Baru saja kepalanya muncul sedikit dari arah pantai menyembur sinar merah Pukulan 

Kipas Neraka! 

"Wuusss!" 

Sinar itu dengan dahsyatnya menyebar laksana kipas satu tombak di depan batu karang. 

"Braakkk! Byuumr!" 

Batu karang setinggi empat tombak itu laksana ditebas petir. Bagian atasnya yang terkutung 

mencelat masuk ke dalam laut! Tua Gila merasakan kakinya bergetar dan cepat menjauh dari batu 

karang yang kini menyerap panas sinar Pukulan Kipas Neraka hingga tak ubahnya seperti bara api. 

Tua Gila cepat menyingkir ke balik gugusan batu karang lainnya. Dalam kegelapan dia 

keluarkan senjata yang paling diandalkana yakni segulung benang yang disebut Benang Kayangan. 

"Tua Gila! Kami memberi kesempatan sampai tiga hitungan! Jika kau tidak keluar dari balik 

batu karang menyerahkan diri! Kami akan menyerbu dan membunuhmu!" 

"Masuki Silahkan masuk! Pintu neraka sudah kubuka lebar-lebar untuk kalian!" teriak Tua 

Gila lalu masih bisa tertawa gelak-gelak. 

Di tepi pandai dalam kegelapan beberapa orang segera berunding. Kebanyakan mereka tidak 

setuju untuk menyerbu ke balik balu karang dimana musuh bersembunyi. Walau lawan diketahui 

sudah terluka tetapi terlalu besar bahayanya untuk menyerbu. 

"Saatnya kita menjalankan siasat yang sudah diatur!" berkata seseorang di antara mereka. 

"Aku setuju!" jawab orang di sebelahnya. Mereka yang ada di situ sama memandang pada 

nenek bermuka putih mengenakan jubah hitam seolah menunggu putusan. 

"Kurasa memang sudah saatnya kita menjalankan siasat." nenek muka putih Sabai Nan Rancak 

akhirnya angkat bicara. Matanya melirik ke arah gugusan batu karang. Tiba-tiba dia melihat 

sesuatu. Serta merta perempuan tua ini berteriak, "Awas serangan Benang Kayangan!"


DELAPAN


SATU benda halus berkilat melesat dalam kegelapan malam. Sabai Nan Rancak cepat berkelebat 

menyingkir. Tiga orang di sebelahnya melakukan hal yang sama, berpencar mencari selamat. Dua 

orang lagi yang tadi cidera akibat bentrokan tenaga dalam dengan Tua Gila bernasib sial. Cidera 

yang mereka alami membuat mereka bertindak agak lamban. Ujung Benang Kayangan laksana 

kawat baja menusuk ke tenggorokan orang di sebelah kanan. Lehernya kemudian terpuntir 

melintir dan robek besar. Dari mulutnya terdengar suara seperti ayam dipotong. Sebelum 

tubuhnya roboh ke tanah Benang Kayangan berkelebat ke kanan. Korban ke dua menyusul. 

Benang sakti itu menusuk kepalanya. Masuk dari pelipis kiri tembus sampai ke pelipis kanan! Tua 

Gila sentakkan gulungan benang kayangan. Sentakan ini seolah tebasan senjata tajam yang 

membuat kepala orang hampir terbelah. 

Empat orang yang ada di tempat itu termasuk Sabai Nan Rancak berteriak marah. Tua Gila 

tertawa mengekeh. Gulungan Benang Kayangan kembali disentakkannya. Benang sakti ini 

menderu ke arah nenek muka putih. 

"Tua Gila! Jangan berani menjajal diriku!" teriak Sabai Nan Rancak, Sambil dorongkan tangan 

kanannya perempuan tua ini melesat setinggi dua tombak. Dua sinar merah menderu. Tua Gila 

cepal tarik benang saktinya. Ujung senjata ini kemudian meluncur ke arah kedua pergelangan kaki 

Sabai Nan Rancak. Tapi si nenek tak kalah cepat. Berlaku cerdik, sambil melipat kakinya ke atas 

dia kirimkan serangan Kipas Neraka ke arah batu karang dibalik mana lawan berada. 

Tua Gila terpaksa sentakkan benang saktinya dan cepat-cepat menyingkir dia gerakkan 

senjatanya demikian rupa hingga benang sakti itu melibat ke arah pinggang si nenek muka putih. 

"Wusss! Braakkk!"

Batu karang di depan sana hancur berantakan dihantam Pukulan Kipas Neraka. Tua Gila 

jatuhkan diri sama rata dengan tanah. Tangannya digerakkan. Ujung benang sakti yang tadi 

menyambar ke arah pinggang si nenek kini membeset ke dadanya. 

"Siapa takutkan benang keparat ini!" teriak Sabal Nan Rancak. Aji pukulan sakti di tangannya 

menyambar ke ujung Benang Kayangan. 

"Wuss... wussss!" 

Benang Kayangan yang putih berkilat berubah menjadi merah lalu berubah menjadi jalur apit 

Tua Gila tersentak kaget ketika melihat senjata saktinya terbakar. Cepat dia menarik gulungan 

benang lalu memutusnya sebelum api menjalar lebih jauh. Di sebelah sana si nenek muka putih 

keluarkan pekikan keras ketika dapatkan lengan jubah hitamnya robek dan putus sedang 

tangannya sendiri tersayat mengucurkan darah. Saking geramnya perempuan ini keluarkan 

bentakan keras lalu hantamkan Pukulan Kipas Neraka dengan tangan kiri kanan sekaligus! 

Pantai itu laksana dilanda badai dan gempa. Tiga ujung batu karang hancur lebur. Pasir dan air 

laut muncrat ke udara. Di balik batu karang Tua Gila gulingkan diri cari selamat. Darah kembali 

mengucur dari hidung dan telinganya sedang kedua matanya mendenyut sakit. 

Dalam keadaan tubuh kuyup oleh air laut dan kotor oleh pasir Tua Gila bangkit berdiri. Saat 

itulah di atas hancuran tiga batu karang tampak berdiri tiga sosok tubuh manusia. Sosok pertama 

yang sangat dikenali oleh Tua Gila adalah sosok si nenek muka putih Sabai Nan Rancak yang tegak 

dengan kedua telapak tangan terkembang dan memancarkan sinar merah pertanda dia kembali 

siap melepaskan dua Pukulan Kipas Neraka sekaligus! 

"Jadi memang kau rupanya yang punya pekerjaan Sabai!" ujar Tua Gila seraya tegak dan 

bersandar ke dinding karang. 

Si nenek tertawa panjang. "Untung kedua matamu tidak kuhancurkan hingga kau masih bisa 

mengenali diriku, mengetahui siapa yang membunuhmu sebelum nyawamu kukirim ke neraka!" 

Tua Gila ganda tertawa. "Mati di usia setua ini bukan lagi satu hal yang menakutkan bagi 

diriku!" jawab orang tua itu sambil meludahkan darah yang memenuhi mulutnya. "Kau sendiri apa 

yang membuatmu masih betah hidup di dunia ini berlama-lama?!'"Saat penantian memang aku butuhkan. Aku akan tenteram berada di liang kubur kalau kau 

sudah mampus di tanganku dengan jantung terbongkar, otak berceceran dan isi perut berbusaian!" 

Tua Gila tertawa gelak-gelak. "Kukira kau sengaja hidup menanti berlama-lama menunggu ke-

hadiranku untuk melamarmu! Ha... ha... ha...! 

Paras putih Sabai Nan Rancak berubah menjadi merah. Lelaki tinggi besar yang tegak di atas 

hancuran batu karang sebelah kanan keluarkan suara menggembor lalu berkata. 

"Sabai Nan Rancak, jangan terlalu serakah. Kalau kau membongkar jantungnya, menjebol isi 

perut dan membuat berantakan otaknya lalu aku dapat apa?! Hanya kebagian tahinya? Ha... ha... 

hal Sabai Nan Rancak sahabatku, kau bahkan belum memberi kesempatan padaku untuk 

mengeluarkan Ilmu Hawa Neraka? 

"Perlu apa kau bersusah payah kalau Pukulan Kipas Nerakaku sudah cukup membuatnya 

terkencing darah!" jawab Sabai Nan Rancak, membuat dua lelaki yang tegak di dua gugusan batu 

karang tertawa gelak-gelak. 

Tua Gila melirik ke arah orang yang barusan bicara. "Hemmm.... Tubuh tua bangka tinggi 

besar, berkulit hitam seperti arang. Berdestar tinggi merah. Mengenakan pakaian gombrong serba 

hitam. Janggut dan kumis selebat hutan. Aku tidak kenal siapa adanya keparat ini!" 

"Anjing hitam kau siapa?!" Tua Gila membentak. 

Orang tua di atas runtuhan batu karang menggereng keras. Kedua tangannya segera 

digosokkan. Sabai Nan Rancak cepat mengangkat tangan sambil; berseru. "Sobatku, jangan 

terpancing oleh ucapani tua bangka keparat ini! Bukankah kita sudah berjanji] untuk tidak 

membunuhnya secepat membalikkan telapak tangan? Nyawanya akan kita korek sedikit demi 

sedikit! Sebelum dia mampus ada baiknya kau terangkan siapa dirimu dan mengapa kau juga 

menginginkan kematiannya!" 

Walau hatinya panas dan geram bukan main, si tinggi besar berdestar tinggi merah ini ikuti 

juga kata-kata Sabai Nan Rancak. 

"Tua bangka calon bangkai tak berguna! Kau dengar baik-baik penuturanku! Beberapa tahun 

lalu kau dan muridmu bernama Wiro Sableng Pendekar 212 menyerbu Istana Sipatoka di 

Tambun Tulang. Kalian membunuh Datuk Sipatoka dan mencuri harta kekayaan yang ada ditempat itu termasuk empat puluh gadis muda dan cantik! Kabarnya kau juga telah mengubur 

hidup-hidup di satu tempat Datuk Tinggi Raja Di Langit. Mereka berdua adalah adik-adikku yang 

malang. Berdasarkan apa yang telah kau lakukan itu apakah aku Datuk Angek Garang tidak punya 

cukup alasan untuk membunuhmu? Sayang muridmu pendekar sableng itu tidak ada di sini! Tapi 

dia tak bakal lolos. Cepat atau lambat aku akan memburu nyawanya!" 

Tua Gila tertawa lebar. "Ceritamu hebat amat. Sebelum aku bicara lebih banyak aku ingin 

bertanya. Siapa yang membuatkan pakaian hitam itu untukmu? Orangnya pasti tolol membuatnya 

kegombrongan seperti itu hingga kau juga tampak tolol seperti pohon hangus diberi pakaian! Ha... 

ha... ha!" 

"Tua bangka sinting! Kalau kau masih hendak terus bicara keluarkan isi perutmu cepat! Kema-

tianmu tidak mungkin ditunda-tunda lebih lama!" bentak Datuk Angek Garang dengan darah 

mendidih. 

"Soal kematian Datuk Sipatoka dan Datuk Tinggi Raja Di Langit memang aku yang punya 

pekerjaan. Manusia-manusia bejat seperti mereka pantas cepat-cepat disingkirkan dari muka 

bumi...." Si kakek ulurkan tangannya. Lalu memandang ke kuku ibu jari. Setelah itu dia 

mendongak pada Datuk Angek Garang. "Dari gambar yang kulihat dalam kukuku, rasanya kaupun 

bakal tak lama lagi menyusul kedua orang itu! Ha... ha... ha! (Mengenal Datuk Sipatoka harap baca 

serial Wiro Sableng berjudul Banjir Darah di Tambun Tulang sedang mengenal Datuk Tinggi 

Raja Di Langit baca Makam Tanpa Nisan) 

"Sabai! Aku akan melumat tua bangka keparat ini sekarang juga!" teriak Datuk Angek Garang 

tak dapat lagi menahan amarahnya. 

"Sabar sedikit lagi sobatku!" kata Sabai Nan Rancak dengan cepat. "Kawan kita yang satunya 

ini belum diberi kesempatan untuk bicara!" Nenek muka putih berpaling ke arah lelaki yang tegak 

di atas runtuhan batu karang di samping kirinya. 

Di sini tegak seorang lelaki berusia enam puluh tahun mengenakan pakaian sangat bagus 

terbuat dari beludru merah campur hitam diberi umbai-umbai benang emas. Di pinggangnya 

melingkar sebuah ikat pinggang dari rantai berwarna kuning. Pada ikat pinggang ini terselip 

sepasang rencong terbuat dari besi berwarna biru pertanda mengandung racun amat jahat. Di atas kepala orang ini bertengger sebuah topi kuning. Satu batu permata hitam yang memancarkan sinar 

angker menempel di pertengahan topi sebelah depan. Orang ini memiliki kumis panjang menjulai. 

Pada keningnya ada dua benjolan besar berwarna coklat. 

Tua Gila tiba-tiba keluarkan tawa bergelak begitu dia melihat orang berpakaian mewah Ini. 

"Sabai Nan Rancak, sobatmu yang satu ini memang hebat. Siapa yang kerbau atau sapi diantara 

kedua orang tuanya? Bapaknya atau ibunya?! Ha... ha... ha?!" 

"Jahanam Tua Bangkai Apa maksudmu dengan pertanyaan itu?" bentak si nenek muka putih. 

Tua Gila tertawa mengekeh. Lelaki yang keningnya ada dua benjolan tampak mendelik. 

Pelipisnya bergerak-gerak. Kumisnya yang panjang menjulai berjingkrak ke atas. Tua Gila hentikan 

tawanya. Sambil menunjuk pada orang di samping si nenek dia berkata. "Kulihat ada dua benjolan 

seperti tanduk tumpul di keningnya. Orang yang ibu bapaknya manusia biasa mana mungkin 

bertanduk seperti dia. Pasti kalau tidak ibunya ya bapaknya yang sapi atau kerbau!" 

"Tua bangka bermulut keji! Terima kematianmu saat ini juga!" teriak lelaki bertopi kuning. 

"Magek Bagak Baculo Duo!" teriak Sabai Nan Rancak. "Tahan!" Si nenek berusaha mencegah 

tapi orang itu tidak perduli lagi. Dari atas gugusan batu karang dia melompat ke bawah. Dua sinar 

biru membersit angker dalam kegelapan malam pertanda dia telah mencabut sepasang keris sakti 

beracunnya. 

Melihat hal ini, takut bakal keduluan maka Sabai Nan Rancak lak mau tinggal diam. Dia 

jejakkan kedua kakinya ke atas batu karang. Tubuhnya melesat ke bawah laksana tombak melesat 

di kegelapan malam. Dari tangan kanannya menderu cahaya merah. 

Orang bernama Datuk Angek Garang tersentak kaget. "Hai! Bangsat tua itu jangan kalian 

libas berdua!" teriaknya lalu diapun melesat turun ke bawah sambil gosokkan kedua tangannya. 

Sinar hitam menderu ke arah Tua Gila. Serta merta di tempat itu menghampar bau busuknya 

mayat membuat Tua Gila menjadi sesak bernafas. Inilah yang disebut Hawa Neraka. 

Tua Gila berteriak keras lalu jatuhkan diri berguling ke batik batu karang terdekat. Tangan 

kanannya cepat membedal gulungan Benang Kayangan sementara sementara tangan kiri 

dihantamkan menahan serangan tiga lawan.

Ketika ujung benang sakti melibat puncak runcing salah satu batu karang di tempat itu, Tua 

Gila menyentakkan tangannya, tiga serangan lawan sampai dengan dahsyatnya. Hanya terpisah 

oleh kejapan mata saja tubuh Tua Gila melesat membal ke udara. Untuk kesekian kalinya 

hancuran batu pasir dan batu karang serta air laut muncrat ke udara. Lalu terdengar suara "bretttl" 

Walau dia selamat dari serangan Hawa Neraka Datuk Angek Garang dan hanya terkena 

sambaran tipis pukulan Kipas Neraka Sabai Nan Rancak, namun pakaian putih Tua Gila yang 

sudah penuh dengan robekan-robekan kini kembali robek ditoreh salah satu keris biru di tangan 

Magek Bagak Baculo Duo. 

"Jangan biarkan dia lolos!" teriak Sabai Nan Rancak begitu sosok Tua Gila lenyap laksana ter-

bang dan raib di langit malam. Namun orang tua itu benar-benar lenyap setelah menyelamatkan 

diri dengan melentingkan diri mengandalkan benang saktinya. 

"Jahanam kurang ajar! Dia tak bakal bisa hidup tamat Kerisku telah melukai tubuhnya!" kata 

Magek Bagak Baculo Duo sambil perhatikan ujung keris di tangan kirinya yang bernoda darah. 

Di pantai sebetah timur teluk Siburu, Tua Gila melayang turun. Dengan cepat dia 

menggulung benang saktinya. Saat itulah dia merasakan perih di perutnya sebelah kanan. Ketika 

baju putihnya yang robek disibakkan terkejutlah kakek Ini. Di situ ada luka memanjang. Walau 

luka itu tampaknya tipis saja seolah hanya luka di permukaan kulit namun Tua Gila maklum 

bahaya apa yang akan dihadapinya. Dengan cepat dia meremas bagian perut yang luka hingga darah 

merah kehitaman mengucur keluar. Lalu dia menotok badannya di beberapa bagian. Setelah itu 

dengan cepat dia menelan sebutir obat. 

Dengan dada turun naik dan nafas memburu Tua Gila memandang berkeliling. 

"Jahanam! Tiga manusia keparat itu memiliki kepandaian bukan main-main! Sulit bagiku 

untuk menghadapi mereka bertiga sekaligus. Aku harus mencari akal! Atau mungkin untuk 

sementara aku menyelinap kabur saja.... Mencari kesempatan sampai aku dapat menghajar mereka 

satu persatu!" Lama Tua Gila termenung. "Sabai Nan Rancak.... Kau benar-benar gila! Otakmu 

lebih miring dari aku! Kalau mau membunuhku mengapa tidak dari dulu-dulu? Apa kau lupa aku 

ini bapak dari anak yang pernah kau lahirkan?!" 

Tiba-tiba di udara terdengar suara teriakan di kejauhan."Tua Gila! Kau boleh kabur atau sembunyikan diri! Tapi harap lihat dulu apa yang akan 

terjadi dengan muridmu!" 

Tua Gila tersentak kaget. 

"Itu suara si Sabait Setan, apa yang hendak dilakukannya! Muridku.... Muridku yang mana?! 

Astaga! Jangan-jangan! Otakku benar-benar sudah sinting! Bagaimana aku bisa lupa dengan anak 

itu!" Serta merta Tua Gila keluar dari tempat persembunyiannya. 

Ketika dia kembali ke bagian pantai dimana Sabai Nan Rancak beserta Datuk Angek Garang 

dan Magek Bagak Baculo Duo berada terkejutlah Tua Gila menyaksikan pemandangan di 

hadapannya.


SEMBILAN


DATUK Angek Garang tegak dengan kaki terkembang, tangan kanan terkepal sedang tangan kiri 

menjambak rambut seorang anak lelaki berusia sekitar sepuluh tahun. Anak ini merintih kesakitan. 

Kedua matanya terpejam dan mukanya lebam babak belur tanda telah dianiaya sebelumnya. 

"Jahanaml Apa yang telah kalian lakukan pada muridku!" teriak Tua Gila dan melompat ke 

hadapan ketiga orang itu. 

Mendengar suara Tua Gila si anak paksakan membuka kedua matanya yang bengkak. "Guru..." 

hanya itu ucapan yang bisa dikeluarkan si anak. 

"Malin Sati! Aku bersumpah akan membunuh ketiga jahanam ini!" teriak Tua Gila. Dia maju 

beberapa langkah tapi Magek Bagak Baculo Duo bergerak lebih cepat. 

"Silahkan maju satu langkah lagi tua bangka keparat! Kutembus leher muridmu!" kertak 

Magek Bagak dan keris beracun di tangan kanannya ditempelkan ke leher Malin Sati murid Tua 

Gila. 

"Apa salah anak itu! Jangan kaitkan urusan kalian dengan dirinya!" teriak Tua Gila. "Lepaskan 

dia! Hadapi diriku! Bangsat pengecut! Beraninya menganiaya anak kecil!" 

"Tua Gila! Kau tidak berada dalam kedudukan mengatur! Kami yang menentukan semuanya!" 

kata Sabai Nan Rancak dengan seringai mengejek bermain di bibirnya. 

"Sabai! Aku mungkin manusia paling jahat di dunia Inlt Tapi aku tidak menyangka kalau 

begini busuk perilakumu!" Mendamprat Tua Gila. 

Si nenek muka putih dongakkan kepala dan tertawa panjang. "Aneh, baru hari ini kau 

menyadari bahwa dirimu manusia paling jahat di dunia. Hari ini pula kau menuduhku berperilaku 

busuk. Hik... hik...hik! Pernahkah kau menyadari bahwa kebusukan yang telah kau lakukan 

terhadapku, terhadap puluhan perempuan lainnya, terhadap orang-orang yang kau bunuh tanpa 

pasal, tanpa lantaran adalah sejuta lebih busuk daripada apa yang aku lakukan saat ini!" 

"Aku memang berbuat jahil terhadap beberapa perempuan. Termasuk dirimu. Aku memang 

membunuh manusia-manusia seenakku. Tapi itu semua bukan tanpa alasan. Musuh-musuhku 

membuat fitnah, menuduh aku membunuh ratusan manusia] tidak berdosa! Mereka semua gila!" 

"Kau yang gila tua bangka keparat!" teriak Datuk Angek Garang sambil hentakkan 

Jambakannya di rambut Malin Satl hingga anak ini kembali merintih kesakitan. 

Tua Gila hendak merangsek menghantam orang ini tapi terpaksa membatalkan niatnya ketika 

dilihatnya Magek Bagak Baculo Duo menggerakkan tangan kanannya yang menempelkan keris 

beracun ke leher si anak. 

Saat itu sesosok bayangan merah berkelebat muncul di tempat itu. Melihat siapa yang datang 

Sabai Nan Rancak membentak marah. 

"Puti Andini! Aku sudah bilang jangan datang ke sini!" 

Puti Andini, murid Sabai Nan Rancak yang bergelar Dewi Payung Tujuh melangkah mundur. 

"Kalau guru memang tidak suka saya kemari, harap maafkan. Saya akan menunggu di tempat yang 

guru katakan...." 

"Cucuku, jangan pergi dulu!" Tua Gila berseru. 

Puti Andini hentikan langkahnya dan berpaling ke arah Tua Gila. Sabai Nan Rancak kembali 

membentak. "Kau berani mendengarkan ucapannya Puti? Lekas pergi dari sini!" Lalu pada Tua 

Gila dia menghardik. "Jangan kau berani bicara dengan muridku. Dia bukan cucumu!" 

Tua Gila menyeringai. "Siapapun adanya diriku, kau tak bisa mengingkari kenyataan. Gadis itu 

adalah cucuku. Cucumu juga. Di tubuhnya mengalir darah kita berdua...." 

"Bangsat! Jangan bicara yang bukan-bukan!" bentak Sabai Nan Rancak dengan muka kelam 

membesi. 

"Cucuku, aku tidak meminta balas jasa karena lelah menyelamatkan dirimu waktu di 

Pangandaran dulu. Tapi tolong kau beri pengertian pada gurumu agar membebaskan anak tidak 

berdosa itu. Setelah itu dia boleh membunuhku!"Puti Andini pandangi wajah Tua Gila sesaat. Tiba-tiba dari mulutnya dia keluarkan ludah lalu 

cepat-cepat tinggalkan tempat itu. 

Sabai Nan Rancak tertawa mengekeh. Tua Gila, betul tadi itu cucu darah dagingmu? Hik... 

hik... hik! Mengapa dia malah meludahimu, bukan menolongmu?! Hi... hik... hik!" 

"Sabai. sebaiknya kita mulai saja. Tak lama lagi matahari akan terbit. Aku ingin menyelesaikan 

urusan ini lalu istirahat, lalu pergi dari sini!" 

Sabai Nan Rancak memandang pada Magek Bagak Baculo Duo lalu anggukkan kepala. "Tua 

Gila, pertama sekali lekas kau serahkan Benang Kayangan itu padaku!" 

"Apa maksudmu?" tanya Tua Gila dengan mata mendelik. 

"Apa kau tuli tidak mendengar apa yang diucapkan Sabai?" bentak Datuk Angek Garang. 

Tangannya berputar memperkeras jambakannya. Kembali Malin Sati merintih kesakitan. 

"Aku akan berikan apa yang kau minta. Bahkan nyawaku! Asal anak itu kau lepaskan!" teriak 

Tua Gila. 

Si nenek tertawa. Magek Bagak dan Datuk Angek Garang mendengus. 

"Berikan benang sakti itu lebih dulu. Soal nyawamu bisa diatur kemudian!" kata si nenek muka 

putih pula. 

Tua Gila menggeram dalam hati. Dia terpaksa mengeluarkan gulungan Benang Kayangan dari 

balik pakaiannya yang robek. Sabai Nan Rancak cepat menyambar benda itu. 

"Sekarang kalian harus lepaskan muridku!" 

"Sabar Tua Gila. Tenang saja. Permainan belum selesai!" jawab Sabai Nan Rancak sambil buka 

gulungan Benang Kayangan, "Ingat baik-baik, kalau kau berani bergerak nyawa muridmu tak akan 

tertolong!" 

"Jahanam! Apa yang ada di otak kotormu?!" teriak Tua Gila. 

Sabai Nan Rancak tertawa panjang. Tiba-tiba dia gerakkan tangan kanannya. "Settt... settt... 

sett...!" 

Tua Gila memandang ke depan. Magek Bagak Baculo Duo tekankan mata keris ke leher Malin 

Sati.Mau tak mau terpaksa dia tak berani bergerak. Sabai Nan Rancak melibat sekujur tubuhnya 

dengan Benang Kayangan miliknya sendiri hingga dia berada dalam keadaan tidak berdaya sama 

sekali! 

Magek Bagak Baculo Duo tertawa gelak-gelak. Dengan tumit kirinya didorongnya tubuh 

bungkuk Tua Gila hingga kakek ini jatuh terguling di tanah. Datuk Angek Garang bantingkan 

tubuh Malin Sati ke tanah. 

"Sesuai rencana kita menunggu sampai matahari terbit," kata Sabai Nan Rancak. 

"Bagaimana kalau orang yang kita tunggu tidak muncul?" bertanya Datuk Angek Garang. 

"Apa susahnya? Bangkai tua itu langsung kita pesiangi. Hukum picis akan dimulai terhadap 

dirinya! Hik... hik... hik!" 

"Kalau begitu kita bertiga bisa mencari tempat yang baik untuk istirahat sekedar melunjurkan 

kaki." kata Magek Bagak pula. 

"Hemmm.... Terserah kalian saja," jawab Sabai Nan Rancak. Sebelumnya mereka telah 

menunggu delapan hari delapan malam sampai Tua Gila muncul. Tidak heran kalau sebenarnya 

saat itu mereka merasa sangat letih. 

*** 

LANGIT di teluk Siburu mendadak gelap berat padahal kedatangan pagi masih lama. Hujan 

lebat mengguyur teluk. Angin dari tengah laut menderu kencang. Gelapnya malam dan lebatnya 

hujan menutup pemandangan. Ketika terakhir sekali Sabai Nan Rancak memandang ke tepi pasir 

sosok Tua Gila yang terikat dalam keadaan tidak berdaya masih terlihat menggeletak di kejauhan. 

Muridnya juga tampak terkapar tak jauh dari situ. Namun ketika hujan mulai reda dan 

pemandangan mulai terang dua sosok tubuh guru dan murid itu tidak kelihatan lagi di tempat itu. 

Sabai Nan Rancak berteriak keras membuat Datuk Angek Garang dan Magek Bagak Baculo 

Duo tersentak dari tidur-tidur ayam mereka. 

"Ada apa Sabai?" tanya Magek Bagak sambil keluar dari tempat keteduhan dan mengusap 

mukahnya yang segera basah oleh air hujan.

"Bangsat tua itu melarikan diri! Muridnya juga lenyap!" teriak Sabai Nan Rancak. 

Mana mungkin Tua Gila bisa kabur! Kita telah mengikatnya dengan Benang Kayangan!" kata 

Datuk Angek Garang. 

Keparat itu punya seribu akal! Kita bertiga telah berlaku ayal!" ujar si nenek muka putih. 

Lekat lakukan penyelidikan. Kita berpencar. Beri tanda dengan suitan jika salah satu dari kita 

melihat mereka! Kalaupun keduanya lari pasti belum jauh! Jika kita bergerak sekarang pasti 

keduanya bisa terkejar!" 

Tiga orang itu segera berkelebat di bawah hujan dan gelapnya malam menjelang pagi. 

Apakah yang terjadi?


SEPULUH


KETIKA hujan mulai turun, dari arah pantai yang gelap tampak sesosok tubuh bertiarap bering-

sut-ingsut mendekati Tua Gila yang terguling di atas pasir dalam keadaan terikat tidak berdaya. 

Orang tua ini tengah menggigil menahan sakit dan dingin serta deraan air hujan ketika tiba-tiba di 

sampingnya ada satu suara perlahan. 

"Kek... kau pingsan atau bagaimana...?" 

"Setan dari mana yang bertanya!" desis Tua Gila sambil buka matanya lebar-lebar. Hanya 

terpisah satu jengkal di depannya dia melihat wajah cantik bercelemong pasir dan basah oleh air 

hujan. "Hemmm. cucu kualat. Kau rupanya...." kata Tua Gila begitu dia mengenali yang ada di 

dekatnya adalah Puti Andini murid Sabai Nan Rancak. "Ada apa kau kemari?!" 

"Jangan bicara keliwat keras. Aku datang untuk menolongmu...." 

"Aku tidak butuh pertolongan. Aku sudah siap untuk mati. Kalau hatimu memang baik tolong 

saja muridku...." 

"Kalau aku menolong dia apa yang kemudian dia bisa lakukan? Jangan tolol Kek!'' 

"Sialan! Tadi kau meludahiku! Sekarang memakiku tolol!" 

"Itu namanya akal Kek! Agar apapun yang terjadi guruku tidak curiga padaku!" jawab si gadis. 

"Bagus. Kalau begitu lekas kau buka ikatanku!" 

"Aku tidak tahu bagaimana caranya. Ini bukan benang biasa dan ikatannya juga bukan 

sembarang ikatan!" kata Puti Andini pula. 

"Kau telusuri salah satu ujungnya. Begitu bertemu kedut tiga kali. Setelah itu kau tarik 

perlahan-lahan. Benang akan meluncur lepas dari tubuhku!" 

Puli Andini membuka matanya lebar-lebar memperhatikan ikatan benang sakti di tubuh si 

kakek "Kau tak bakal menemukan ujung benang kalau hanya mempergunakan mata. Urut dengan 

tanganmu. Ayo lekas sebelum setan-setan itu ada yang melihat ke sini!" 

Andini lakukan apa yang dikatakan si kakek. 

"Lama betul kau mencari! Sudah ketemu belum...?" 

"Su... sudah Kek...." 

"Kalau begitu kenapa tidak kau betot?" 

"Aku tak bisa Kek!" 

"Ujung benang yang kau maksud berada bawah pusarmu. Masuk ke balik celanamu...." 

Menerangkan Puti Andini. 

Tua Gila terkesiap lalu hampir saja dia hendak tertawa bergolak. "Bilang saja kau takut 

tanganmu menyentuh anuku hah?" 

"Bu... bukan begitu Kek." jawab Puti Andini bingung sendiri. 

"Sudah, mengapa kau jadi tolol. Tarik bagian yang menyembul di atas bajuku. Ujung benang 

pasti akan keluar! Kalau sudah dapat baru kau sentakkan tiga kali. Mengerti?" 

"Mengerti Kek." Lalu Puti Andini lakukan apa yang dikatakan Tua Gila. Perlahan-lahan 

benang putih ditariknya ke atas sampai dia berhasil menyentuh ujung benang sakti itu. Seperti 

dikatakan si kakek, Puti Andini segera menyentakkan ujung benang tiga kali berturut-turut. Benar 

saja, setelah ditarik begitu benang sakti itu meluncur lepas secara mudah. 

"Cucu pintar, kau lekas pergi dari sini! Aku akan menarik muridku ke tempat yang aman...." 

"Aku sudah menyiapkan sebuah perahu untuk kalian di pantai sebelah barat. Aku 

menunggumu di sana. Ini aku kembalikan benang sakti bekas ikatanmu...." 

Tua Gila cepat menggulung Benang Kayangan itu. Setelah Puti Andini meninggalkan tempat 

itu dengan cepat dia menarik tubuh Malin Sati. Anak sepuluh tahun yang jadi muridnya itu. 

Ketika sampai di pantai sebelah barat Puti Andini telah menunggu sambil memegangi sebuah 

perahu yang siap diluncurkan ke laut. 

"Aku sangat berterima kasih dan berhutang nyawa padamu. Andini!' kata Tua Gila sambil me-

letakkan tubuh Malin Sati ke atas lantai perahu 

"Jangan sebut hal itu. Kau pernah menyelamatkan nyawa dan kehormatanku! Apa kau kira 

aku tidak memikirkan untuk membalasnya?" 

"Tapi kalau gurumu tahu kau akan dibunuhnya!" kata Tua Gila mengingatkan. 

"Akal Kek. Kita harus pakai akal!" jawab si gadis pula. 

"Apa maksudmu?" 

Lekas kau pukuli beberapa bagian mukaku. Lalu totok hingga aku tak bisa bersuara, tak bisa 

bergerak Setelah itu lekas naik ke atas perahu dan pergi dari sini.' 

"Siapa tega memukuli mukamu. Aku tahu akalmu. Biar kucubit saja! Kau hanya akan merasa 

sakit sedikit. Tapi bengkaknya seperti bekas digebuki! Hi... hik... hik...!' Tua Gila lantas mencubit 

wajah Puti Andini di bagian pipi, kening serta dagu. Sesaat kemudian bagian-bagian wajah yang 

dicubit itu kelihatan biru membengkak. "Hik... hik... hik! Wajahmu jadi tambah cantik! Aku pergi 

sekarang! Kalau kelak terjadi bentrokan lagi antara aku dan gurumu kuharap kau jangan memihak 

siapapun!" 

"Itu urusan nanti saja Kek. Tapi satu hal aku peringatkan padamu. Kau tak bakal dapat 

menghadapi ilmu Pukulan Kipas Neraka yang dimiliki guruku Sabai Nan Rancak...." 

"Aku tahu hal itu. Itu sebabnya sekarang lebih baik aku mengalah saja. Aku pergi sekarang. 

Terima kasihku untukmu... " 

"Hati-hati Kek!" 

Tua Gila acungkan dua jari tangannya untuk menotok si gadis. Namun tiba-tiba dia ingat 

sesuatu. 

"Cucuku, apakah kau tidak berkirim salam pada seseorang?" 

"Seseorang siapa maksudmu?" tanya Puti Andini agak heran. 

"Muridku si geblek Wiro Sableng itu!" jawab Tua Gila. 

"Kau ini ada-ada saja!" 

"Hai, kau mau berkirim salam atau tidak?" 

"Apa dia mau menerima salamku?' ujar Andini. 

"Kalau kau yang berkirim tentu dia akan menerima dan gembira! Jadi kusampaikan salammu 

padanya?""Baiklah kalau kau mau menyampaikan...." 

"Akan kusampaikan. Salamnya salam apa cucuku?" 

Maksudmu?'' tanya Puti Andini tidak mengerti. 

"Salam itu banyak macamnya. Salam rindu, salam kangen, salam mesra, salam...." 

"Kek. pantas kau disebut orang Tua Gila. Dalam keadaan seperti ini kau masih bisa bersenda 

gurau!" 

Tua Gila tertawa mengekeh. "Hidup musti begitu cucuku. Gembira setiap saat di kala duka, 

kesusahan apa lagi di waktu senang! Hik... hik... hik!" 

Tua Gila menotok tubuh Puti Andini dua kali berturut-turut. Gadis ini roboh ke atas pasir 

tanpa bisa bersuara maupun bergerak. Sepasang matanya yang bening memperhatikan Tua Gila 

mengayuh perahu menjauhi pantai di bawah hujan yang mulai mereda. 

Ketika perahu yang ditumpangi Tua Gila hampir lenyap di kejauhan tiba-tiba terdengar suara 

menegur kerat. 

"Anak gadis murid Sabai Nan Rancak! Apa yang terjadi dengan dirimu?!" 

"Hemmm.... Salah seorang dari mereka berhasil menemuiku. Untung Tua Gila sudah berada 

jauh di lengah lautan." 

Sesosok tubuh membungkuk di samping tubuh Puti Andini yang terbujur di atas pasir dalam 

keadaan lertotok tak bisa bersuara tak bisa bergerak. 

"Anak cantik.... Apa yang terjadi dengan dirimu?" 

"Itu suara si Magek Bagak Baculo Duo..." pikir Puti Andini yang mengenali suara orang. 

Tubuh si gadis bergeletar ketika tiba-tiba betisnya yang tersingkap diusap orang. Usapan itu naik 

sampai ke paha. 

"Bangsat jahanam! Apa yang kau lakukan ini." teriak si gadis. Namun teriakan itu hanya 

menggema di tenggorokannya.


SEBELAS


RANGSANGAN nafsu bejat membuat Magek Bagak Baculo Duo semakin berani. Dia memang 

sudah lama mendendam selera terhadap murid Sabai Nan Rancak ini. Tangannya menjalar ke 

balik pakaian Puti Andini. Ciuman bertubi-tubi mendarat di wajah si gadis. 

Tiba-tiba satu bayangan hitam berkelebat. "Manusia jahanam! Apa yang kau lakukan terhadap 

muridku?!" 

"Bukkk!" 

"Krakkk!" 

Tulang bahu sebelah kanan Magek Bagak Baculo Duo remuk. Tubuhnya mencelat masuk ke 

dalam air laut. Termiring-miring dia keluar dari dalam air dan memandang mendelik pada Sabai 

Nan Rancak, Pakaian bagusnya basah kuyup. 

"Kau sudah gila menyerang teman sendiri?" sentak lelaki yang keningnya ada dua benjolan itu. 

"Kau belum menjawab pertanyaanku manusia culasi Apa yang kau lakukan terhadap 

muridku?" hardik si nenek muka putih. 

"Apa yang aku lakukan? Memangnya aku melakukan apa?" 

"Jahanam! Jangan berani dusta!" 

"Aku menemukannya dalam keadaan seperti itu. Aku berusaha menelitinya...." 

"Menelitinya dengan jalan menciumi? Setan!" 

"Aku tidak menciuminya. Aku mendekatkan kepala karena Ingin melihat mengapa wajahnya 

bengkak. Hari masih gelap! Kalau kepalaku tidak aku dekatkan mana mungkin aku bisa me-

nyelidik!" 

"Begitu?! Bukankah sudah ada kata sepakat? Siapa saja yang menemukan sesuatu harus 

memberi tanda dengan suara suitan!""Itu betul! Tapi aku mementingkan keselamatan muridmu. Memeriksa keadaannya lebih 

dulu. Setelah itu baru aku bermaksud memberi tanda." 

"Begitu?" Si nenek menyeringai angker. "Baik, kita dengar apa yang bakal dikatakan muridku!" 

Paras Magek Bagak Baculo Duo jadi berubah. "Tunggu dulu Sabai!" katanya. 

Tapi si nenek telah melepaskan totokan di tubuh muridnya. Begitu dirinya bebas Puti Andini 

langsung melompat dan menyerang Magek Bagak. Dari mulutnya keluar kutuk serapah. 

"Tua bangka busuk! Kau berserikat dengan guruku! Tapi berbuat keji menggunting dalam 

lipatan!" 

Sabai Nan Rancak cepat menyelak diantara kedua orang itu. Mukanya yang putih kelihatan 

merah sekail. 

"Sekarang apakah kau masih bisa berdalih manusia sundal?" bentak Sabai Nan Rancak. 

"Tunggu dulu Sabai!" 

"Nasibmu menyedihkan sekali Magek. Aku sudah terlanjur bersumpah akan membunuh 

semua lelaki yang melakukan kekejian terhadap kaum perempuan!" 

"Sabai! Urusan besar kita belum selesai! Biar aku memberi keterangan lebih dulu!" Sabai Nan 

Rancak menyeringai. 

"Keteranganmu itu bisa kau berikan nanti pada malaikat maut!" jawab si nenek muka putih. 

"Kalau kau beritikad jahat padaku, terpaksa aku menghabisimu!" mengancam Magek Bagak 

Baculo Duo. 

"Keluarkan semua ilmumu. Cabut sepasang keris saktimu itu. Aku cuma mengandalkan ini!" 

kala si nenek pula. Kedua tangannya dipukulkan ke depan. Dua larik sinar merah menderu lalu 

menebar menjadi dua kipas api mengerikan. 

"Pukulan Kipas Neraka!" teriak Magek Bagak. Dia cepat menyingkir. Tapi terlambat. 

Tubuhnya terkutung putus pada dua bagian. Dua potongan mencelat ke dalam laut. Potongan 

ketiga yaitu pinggang ke bawah terbanting di atas pasir. Melejang-lejang beberapa lama lalu diam 

tak berkutik lagi. Puti Andini berbalik dan memeluk gurunya lalu menangis sesenggukan. 

"Hentikan tangismu! Ceritakan apa yang terjadi!" kata Sabai Nan Rancak setengah 

membentak.Sebelum Puti Andini membuka mulut. Datuk Angek Garang berkelebat muncul di tempat 

itu. 

"Apa yang terjadi? Apa Tua Gila sudah ditemukan...." 

Ucapannya terhenti ketika sepasang matanya melihat potongan tubuh Magek Bagak yang 

terkapar di pasir. Seperti tak percaya dia mendekati potongan tubuh itu. Lalu tersurut sendiri 

karena bergidik ngeri. Tubuh Magek Bagak laksana disayat gergaji raksasa namun bagian yang 

terpotong gosong hitam seperti dipanggangl 

"Sobat kita telah berlaku culas! Dia berusaha menggerayangi muridku!" Menerangkan Sabai 

Nan Rancak. 

"Bagaimana hal itu bisa terjadi?" tanya Datuk Angek Garang. 

"Puti, ceritakan apa yang terjadi!" perintah si nenek muka putih pada muridnya. 

"Seperti yang diperintahkan, aku menunggu di sini. Tiba-tiba kakek keparat itu muncul sambil 

menggendong muridnya. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa lolos. Lantas saja aku menyerangnya. 

Tapi dia terlalu kuat bagiku...." Puti Andini memperlihatkan mukanya yang babak belur seperti 

kena hantaman. 

"Aku tidak mengira! Walau sudah diketahuinya kau adalah cucunya mengapa dia setega itu 

memukulimu! Apa yang terjadi selanjutnya Puti?" ujar Sabai Nan Rancak. 

"Mungkin takut hari keburu siang atau kawatir guru dan kawan-kawan muncul di sini maka 

dia menotok tubuhku. Kakek keparat itu kemudian melarikan diri dengan perahu bersama 

muridnya..." 

"Jahanam betul!" rutuk Datuk Angek Garang. "Lalu bagaimana sampai Magek Bagak 

mengalami nasib seperti ini?" tanyanya. 

"Dia pertama sekali muncul di tempat ini! Menemui diriku dalam keadaan tidak berdaya, 

bukannya menolong tapi malah pergunakan kesempatan menggerayangi tubuhku!" 

"Kalau aku tidak keburu datang mungkin muridku ini sudah dirusaknyal" kata Sabai Nan 

Rancak pula."Jika memang begitu ceritanya pantas orang gila satu ini dihabisi dengan pukulan Kipas 

Neraka!" kata Datuk Angek Garang pula. Hanya satu hal yang aku tidak mengerti, bagaimana Tua 

Gila bisa meloloskan diri dari ikatan Benang Kayangan...?" 

"Itu juga yang aku rasa aneh," menyahuti Sabai Nan Rancak. "Tapi jangan lupa, bangsat tua itu 

punya seribu satu pengalaman dan seribu satu akal. Dia pura-pura tak berdaya. Begitu kita lengah 

dia melarikan diri. Membawa serta muridnya!" 

"Tua bangka itu tidak tahu. Ketika muridnya kubantingkan ke tanah, anak itu sebenarnya 

sudah tidak bernafas lagi!" 

Sabai Nan Rancak tenang saja mendengar ucapan orang itu seolah nyawa si anak tidak lebih 

berharga dari nyawa binatang. Sebaliknya Puti Andini terpaksa palingkan kepalanya ke jurusan lain 

untuk menyembunyikan perubahan pada wajahnya. 

"Apa yang harus kita lakukan sekarang Sabai?" tanya Datuk Angek Garang. 

"Aku dapat menduga ke mana kaburnya tua bangka keparat itu. Pasti dia kembali ke tanah 

Jawa. Datuk Angek Garang, harap kau segera melakukan pengejaran! Aku dan muridku akan 

melakukan suatu di pulau ini!" 

"Hemmm, apakah yang hendak kalian laku kalau aku boleh bertanya!" 

"Kau ingat kisah setahun silam ketika Datuk Tinggi Raja Langit saudaramu itu berusaha 

menjebak Tua, Gila dan Pendekar 212 Wiro Sableng di pulau ini?' 

"Tentu saja aku ingat. Terlebih karena adikku tak pernah kembali ke utara. Aku yakin dia 

memang sudah menemui k e matian di tangan tua bangka jahanam itu!" 

"Itulah yang akan kuselidiki Datuk. Biar ada kejelasan. Aku tak tahu berapa lama akan berada 

di pulau ini. Itu sebabnya kuminta bantuanmu untuk mengejar Tua Gila. Aku dan Andini akan 

menyusul kemudian...." 

"Kalau cuma hendak menyelidik apa perlunya? Datuk Tinggi jelas-jelas sudah jadi mayat. 

Setelah setahun tak pernah muncul setelah berhadapan dengan seorang sakti seperti Tua Gila, 

apakah seseorang masih bisa dikatakan hidup? Aku menaruh curiga, jangan-jangan ada sesuatu 

yang lain yang ingin dicari perempuan bermuka putih ini!" 

"Apa jawabanmu Datuk Angek Garang? Kau seperti memikirkan sesuatu!"Datuk Angek Garang anggukkan kepala. "Aku akan menuruti apa kemauanmu. Apapun yang 

terjadi aku akan menunggumu hari tujuh bulan tujuh di bukit Tegalrejo di timur Candi Mendut. 

Jika sampai hari ke lima belas kau tidak muncul aku tak akan menunggu. Berarti kita mencari jalan 

sendiri-sendiri." 

"Setuju!" kata Sabai Nan Rancak. Kedua orang itu saling menjura. Datuk Angek Garang 

melangkah cepat ke balik kerumpunan semak belukar di mana tersembunyi dua perahu layar 

cukup besar. Dibantu oleh si nenek dan muridnya sang Datuk menarik satu dari dua perahu itu 

menuju ke laut.

DUABELAS


TUA GILA bersimpuh di depan gundukan tanah merah makam Malin Sati. Dia berada di sebuah 

pulau yang tidak diketahuinya pulau apa. Ketika dia menyadari muridnya itu ternyata tidak ber-

nafas lagi Tua Gila meraung keras. Setengah harian dia meratap seperti anak kecil. Kemudian dia 

sadar sekalipun dia menangis sampai keluar air mata darah, sang murid tidak akan bisa hidup lagi. 

Di saat matahari bersinar terik di puncak kepalanya Tua Gila putar perahunya ke arah timur 

dimana dilihatnya sebuah pulau di kejauhan. Di pulau inilah kemudian jenazah Malin Sati 

dikuburnya "Muridku, aku bersumpah akan membunuh manusia-manusia celaka penyebab kcmatianmu! 

kata Tua Gila. Perjalananku masih jauh. Aku terpaksa meninggalkanmu Malin. Aku harus pergi 

sekarang...." 

Dengan mata berkaca-kaca si kakek bangkit berdiri. Pada saat itulah baru diketahuinya kalau 

tempatnya berada itu telah dikurung oleh dua lusin orang bersenjata tombak, berpakaian dari kulit 

kayu. Di kepala masing-masing mereka mengenakan topi berbentuk mahkota terbuat dari daun 

nangka hutan. Mata mereka rata-rata berwarna merah dan selalu bergerak liar kian kemari. Hak... 

huk... hak... huk! 

Salah seorang dari penduduk pulau maju mendekati Tua Gila. Mengeluarkan ucapan hak-huk 

hak-huk yang tidak dimengerti Tua Gila sambil menunjuk-nunjuk ke arah puncak sebuah bukit di 

kejauhan. 

"Aku tidak mengerti apa yang kalian ucapkan!" -Hak... huk... hak... huk!" Orang tadi kembali 

berhak-huk hak-huk sambil menunjuk ke arah bukit. Lalu dia ulurkan tangan memegang lengan 

Tua Gila dan menarik si kakek. 

Saat itu Tua Gila sedang kalut pikiran. Ditambah dengan bara dendam kesumat yang 

membakar dirinya. Kalau saja dia tdak menyadari tengah berhadapan dengan penduduk pulau 

yang bahasa dan adat sikapnya berlainan mungkin orang yang menarik lengannya itu sudah 

ditendang atau dipukulnya sampai terjengkang. 

Tiba-tiba ada derap kaki kuda mendatangi. Tak lama kemudian seorang pemuda berkulit 

sawo matang bertampang gagah muncul di tempat itu. Dia juga mengenakan pakaian dari kulit 

kayu. Memakai topi daun berbentuk mahkota. Bedanya pemuda ini bertubuh bersih penuh otot, 

tidak dicoreng moreng. Dia segera melompat turun dari tunggangannya dan mengatakan sesuatu 

dalam bahasa yang tidak diketahui Tua Gila. Mendengar ucapan anak muda itu orang yang 

memegang tangan Tua Gila segera melepaskan pegangannya lalu melangkah mundur. Si anak 

muda cepat menemui Tua Gila. Orang tua harap maafkan sikap para perajurit Kerajaan. Mereka 

selalu bersikap seperti itu terhadap orang luar yang tidak dikenal... 

Tua Gila mengangguk. "Untung dia bisa bicara yang aku mengerti. Kalau tidak apa jadinya." 

Dalam hati dia merasa heran. "Perajurit Kerajaan...? Memangnya di sini ada Kerajaan? Kerajaan apa? Namaku Datuk Pangeran Rajo Mudo. Aku Putera Mahkota di pulau ini dan pulau 

sekitarnya. Kedua orang tuaku Raja dan Permaisuri Kerajaan sedang sakit keras. Dukun Kerajaan 

telah coba mengobati tapi tidak berhasil. Apakah kau tahu ilmu pengobatan, orang tua?" Tua Gila 

menggeleng. 

"Maukah kau melihat dan memeriksa Raja serta Permaisurinya?" 

Tua Gila berpikir sejenak baru menjawab. "Aku akan penuhi permintaanmu. Tapi jika aku 

tidak bisa menyembuhkan penyakit mereka apakah aku diperbolehkan pergi dengan bebas dari 

pulau ini?'' 

"Tentu saja orang tua.... Jadi kau mau ikut bersama kami ke Istana?" 

"Ya... ya.... Aku mau!" 

"Istana kami sangat besar. Kau pasti akan mengaguminya." 

"Apa Istanamu punya nama?" 

'Tentu. Raja memberinya nama Istana Sipatoka...." 

Terkejutlah Tua Gila mendengar nama yang disebutkan itu. Si pemuda sendiri tampak heran 

melihat perubahan wajah si kakek. "Apakah Raja ayahandamu itu punya hubungan dengan Datuk 

Sipatoka yang pernah menjadi Raja di Raja di Tambun Tulang beberapa tahun silam?" 

"Nama mungkin bisa sama. Tapi Kerajaan kami tidak ada sangkut pautnya dengan Datuk 

Sipatoka yang kau sebutkan itu." 

Tua Gila menjadi lega. "Aku siap mengikutimu." 

"Sebelum kita menuju ke Istana Sipatoka aku harus tahu lebih dulu, siapa yang kau kuburkan 

di tempat ini?" 

"Muridku. Dia meninggal dunia di tengah laut. Aku terpaksa membawa dan menguburnya di 

sini. Ini adalah pulau terdekat dalam perjalananku...." 

"Sebetulnya ada larangan keras bagi seseorang untuk menginjakkan kaki di pulau ini. Apalagi 

menggali tanah menanam bangkai...." 

"Jangan kau sebut muridku bangkai. Dia manusia! Namanya jenazah bukan bangkai!" kata 

Tua Gila setengah berteriak.Si pemuda yang mengaku Putera Mahkota bernama Datuk Pangeran Rajo Mudo tersenyum. 

"Bagi kami manusia atau binatang kalau sudah mati sama saja. Kami sebut bangkai. Itu sebabnya 

semasa hidupnya manusia harus berperilaku benar-benar seperti manusia, karena kalau sudah mati 

dia bukan manusia lagi! Orang tua, kau telah berbuat dua kali pelanggaran. Memasuki pulau kami 

secara diam-diam. Menggali tanah menguburkan muridmu secara diam-diam...." 

Tua Gila tertawa mengekeh. Yang disebut para perajurit Kerajaan di sekelilingnya berseru 

hak-huk hak-huk. "Rupanya begitu menginjakkan kaki di pulau ini aku harus berteriak-teriak. 

Ketika menggali kubur juga harus berteriak-teriak! Edan! Bumi dan langit serta laut adalah milik 

Tuhan! Siapa saja boleh pergi kemana dia suka! Anak muda, kau mulai bicara dengan lidah berkait. 

Tadi kau bilang jika aku tidak bisa menyembuhkan Raja dan Permaisuri aku boleh pergi dengan 

bebas. Tapi aku punya firasat kau dan orang-orangmu akan melakukan sesuatu padaku! Dengar 

baik-baik anak muda. Jika hal itu kau lakukan terhadapku kau dan semua yang ada di pulau ini 

akan kujadikan bangkai! Lalu aku akan berteriak-teriak menguburkan bangkai kalian!" 

Habis berkata begitu Tua Gila dekati sebatang pohon kelapa. Dengan tangan kirinya batang 

pohon itu dihantamnya. 

"Kraaak!" 

Perajurit-perajurit Kerajaan berteriak kaget dan lari menjauh berserabutan, takut tertimpa 

tumbangan pohon kelapa yang jatuh bergemuruh. Datuk Pangeran Rajo Mudo sendiri tetap tak 

bergerak dari tempatnya. Padahal tumbangan pohon kelapa itu jatuh tepat ke atas kepalanya. Dua 

jengkal lagi batang kelapa akan menghantam kepalanya, Datuk Pangeran Rajo Mudo melompat ke 

atas sambil angkat tangan kirinya. Dengan tangan kirinya itu dia menahan batang kelapa lalu 

perlahan-lahan dia melayang turun dan lemparkan batang kelapa itu ke tanah. 

"Hak... huk... hak... huk!" Para prajurit Kerajaan Sipatoka berseru dan bertepuk tangan 

melihat kehebatan Putera Mahkota mereka. 

Tua Gila diam-diam merasa kagum melihat kekuatan tenaga si pemuda walau dia tahu yang 

diperlihatkannya tadi adalah kekuatan tenaga luar atau kekuatan otot, bukan kekuatan tenaga 

dalam."Orang tua, kau berada di tempat kami. Jadi harap kau mengikuti segala aturan di sini. Kalau 

kau macam-macam aku akan buat lehermu seperti ini!" Datuk Pangeran Rajo Mudo lalu 

hantamkan tumit kirinya ke batang kelapa yang tergeletak di tanah. 

"Kraakk!" 

Batang kelapa itu hancur putus berkeping-keping. 

Tua Gila tersenyum-senyum. "Katamu Raja dan Permaisuri sedang sakit keras. Apakah kau 

akan terus pamer kekuatan di tempat ini dan membiarkan mereka lebih cepat menemui 

kematian?" 

"Orang tua, kau boleh naik kudaku. Aku akan berlari di depanmu! Kha segera berangkat 

menuju Istana Sipatoka!" 

"Bagaimana kalau kau yang naik kuda di sebelah depan dan aku yang mengikuti di sebelah 

belakang?" ujar Tua Gila pula. 

"Orang tua sombong, jika kau menantang jangan-jangan kau yang harus diobati sesampainya 

di istana. Bukan Raja dan Permaisuri!" 

Tua Gila tertawa mengekeh. Begitu Datuk Pangeran Rajo Mudo naik ke atas punggung kuda, 

digebraknya pinggul binatang itu keras-keras. Kuda melompat dan menghambur lari laksana 

dikejar setan. 

"Hak... huk... hak... huk!" Para perajurit berteriak-teriak. 

Datuk Pangeran memandang ke belakang karena menyangka si kakek sudah jauh tertinggal. 

Tapi alangkah terkejutnya dia ketika dapatkan Tua Gila berada persis di ekor kudanya. Berlari 

enak-enakan sambil bernyanyi-nyanyi kecil!


TIGABELAS


YANG disebut Istana itu ternyata adalah satu bangunan kayu besar sepanjang puluhan tombak 

dan dibangun bertopang pada pohon-pohon besar yang tumbuh di sekelilingnya. 

"Ini Istana kami. Semua rakyat tinggal jadi satu di sini. Di paling ujung sana ruang kediaman 

Raja dan Permaisuri, menerangkan Datuk Pangeran Rajo Mudo. Lalu dia mempersllahkan Tua 

Gila menaiki tangga aneh, terbuat dari kayu lentur semacam rotan setinggi belasan tombak tanpa 

pegangan. Di bangunan Istana Sipatoka terdapat sepuluh tangga seperti itu. 

Tua Gila kernyitkan kening melihat bentuk tangga Hu. Dia lebih terperangah ketika melihat 

para penghuni Istana Sipatoka enak saja turun naik tangga seperti beruk memanjat dengan lincah 

dan cepat 

Melihat si kakek ragu mau menaiki tangga, Datuk Pangeran Rajo Mudo tertawa lebar. 

"Orang tua, biar aku membantumu naik ke atas sana!" lalu pemuda itu menangkap pinggang 

Tua Gila dan siap hendak mendukungnya. Ketika dia hendak dilarikan menaiki tangga, Tua Gila 

cepat meronta dan melompat ke tanah. 

"Datuk Pangeran, kau saja duluan naik ke alat. Aku akan memperhatikan dan nanti 

menyusul," kata si kakek pula. 

"Kalau kau naik sendiri setengah jalan mungkin kau sudah terkencing-kencing! Tapi kalau 

kau keras kepala aku tidak memaksa!" 

Pemuda itu melompat ke arah tangga. Cekatan sekail dia menaiki tangga hingga dalam waktu 

singkat sudah berada di ambang pintu bangunan rumah kayu di atas tana. 

"Orang tua, ayo lekat naik ke atas!" berseru Datuk Pangeran Rajo Mudo karena menyangka 

Tua Gila masih berada di bawah "Aku sudah berada di sini, Pangeran..." Satu suara terdengar di belakang Datuk Pangeran Rajo 

Mudo. Dia cepat berpaling dan jadi ternganga ketika melihat Tua Gila sudah tegak di depannya. 

"Orang tua, bagaimana kau tahu-tahu sudah ada di sini?" 

"Tadi aku mengikutimu dari belakang. Cuma waktu hendak melewatimu aku jadi bingung. 

Lantas aku melompat saja di sebelah atasmu...." Tua Gila tertawa mengekeh. 

Si pemuda jadi bingung sendiri. "Orang tua ini seorang saktikah atau dia tengah mempermain-

kanku?" pikir Datuk Pangeran, 

"Waktuku tidak lama. Lekas antarkan aku ke tempat Raja dan Permaisuri..." 

Datuk Pangeran mengangguk. Dia memberi isyarat pada si kakek untuk mengikuti. Berjalan 

di bangunan tinggi dan sangat panjang itu Tua Gila melihat kamar berderet-deret di kiri kanan. 

Akhirnya dia sampai di ujung bangunan. Ruangan di sini jauh lebih besar dan bertingkat dua. 

Menaiki sebuah tangga kayu Tua Gila sampai di tingkat atas. Di sini terletak dua buah 

pembaringan besar. Di sebelah kanan terbaring seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun. 

Keseluruhan rambutnya sudah putih dan mukanya pucat cekung. Bibirnya kelihatan kebiruan. 

Begitu juga cekungan yang melingkari sepasang matanya yang lerpejam. Tubuhnya tertutup sehelai 

kain berwarna hijau. Hanya kepalanya saja yang tersembul. Inilah Raja Kerajaan Sipatoka yang 

sedang menderita sakit. 

Di pembaringan sebelah kiri terbaring sang Permaisuri. Seperti raja tubuhnya juga tertutup 

kain hijau. Kepalanya tersembul tampak pucat walau telah diberi hiasan mencolok. Bibirnya 

tampak biru. Warna biru juga kelihatan selingkar ke dua matanya. 

"Lekas kau periksa kedua orang tuaku. Jika kau sudah tahu penyakitnya lekas kau carikan 

obati." berbisik sang Putera Mahkota. 

Tua Gila masih tetap berdiri di tempatnya. Hidungnya mencium berbagai macam bau. Yang 

pertama adalah bau aneh yang keluar dari kepulan asap pendupaan yang terletak di sudut ruangan. 

Dekat pendupaan itu duduk sesosok tubuh berjubah hitam. Rambutnya putih panjang menjulai 

sampai ke dada dan menutupi sebagian wajahnya yang penuh corengan-corengan hitam. Kedua 

matanya terpejam, sedang dari mulutnya tiada henti keluar suara meracau seperti orang membaca 

mantera.Tua Gila tidak dapat menerka apakah orang berjubah hitam ini lelaki atau perempuan. Dia 

mendekati Datuk Pangeran dan berbisik. "Siapa orang yang duduk dekat pendupaan itu?" 

"Dukun Sakti Langit Takambangl Dia adalah wakil raja dalam segala perkara merangkap tabib 

atau dukun Kerajaan..." 

"Kalau kalian sudah punya dukun mengapa masih meminta bantuan orang lain?" ujar Tua 

Gila. 

"Sekali ini Dukun Sakti Langit Takambang tidak mampu mengobati Raja dan Permaisuri. Itu 

sebabnya kami mencari siapa saja yang sanggup menyembuhkan." 

Tua Gila melirik ke sudut ruangan sebelah kiri. Dia melihat sebuah gentong besar berwarna 

coklat. Dari dalam gentong ini mengepul keluar asap tipis dan bau yang tidak sedap. 

"Apa isi gentong tanah itu Pangeran?" tanya Tua Gila. 

"Ramuan obat yang dibuat Dukun Sakti untuk diminumkan pada Raja dan Permaisuri, jawab 

Datuk Pangeran Rajo Mudo. 

Tua Gila usap-usap janggut putihnya. 

"Kau masih belum hendak memeriksa ke dua orang tuaku?" Si pemuda bertanya dengan suara 

agak keras. 

"Apakah Dukun Sakti tidak akan tersinggung kalau aku melangkahinya?" 

"Lakukan apa yang aku suruh! Jangan perdulikan siapapun!" 

Tua Gila lalu melangkah ke pembaringan sebelah kanan. Tangannya ditempelkan di atas 

kening Raja. Terasa hawa panas sekali. Lalu dia membungkuk memperhatikan wajah Raja. 

Suara meracau si Dukun Sakti Langit Takambang mendadak berhenti. Tua Gila melirik. 

Orang tua itu mendongak ke atas. Matanya masih terpejam dan rambutnya riap-riapan menutupi 

wajahnya. "Ada yang tidak beres dengan makhluk satu ini! Aku akan segera mengetahuinya!" kata 

Tua Gila dalam hati. Dia kembali memeriksa keadaan wajah Raja. 

"Aku bukan tabib bukan dukun, bukan ahli pengobatan. Tapi aku hampir yakin orang ini 

menderita sakit akibat racun ular!" 

Tua Gila berpaling pada Datuk Pangeran dan bertanya dengan sangat perlahan. "Apakah Raja 

pernah dipatuk ular berbisa?""Dipatuk ular?" Si pemuda gelengkan kepala. 

"Kau pasti?" 

"Tentu saja aku pasti karena aku tahu betul." 

"Kalau begitu izinkan aku memeriksa sekujur tubuhnya. Harap kau membantu meneliti. 

Maklum mata tua ini tidak setajam mata orang seusiamu..." Maka Tua Gila lalu memeriksa setiap 

sudut tubuh, tangan dan kaki Raja. Dia sama sekali tidak menemukan luka sekecil apapun bekas 

gigitan atau patukan ular. 

"Kau tidak akan memeriksa Permaisuri?" tanya Datuk Pangeran sang Putera Mahkota. 

"Tidak perlu. Aku sudah tahu penyakitnya. Sama-sama terkena racun ular.... Antar aku 

memeriksa isi gentong tanah itu." 

Kedua orang itu melangkah mendekati gentong tanah di sudut ruangan. Tiba-tiba dari mulut 

Dukun Sakti Langit Takambang kembali terdengar suara meracau seperti membaca jampal-jampal. 

Ketika Tua Gila hanya tinggal beberapa langkah saja lagi dari gentong besar, sang dukun mendadak 

melompat dan tegak menghadang. Kepalanya ditundukkan. Wajahnya tidak kelihatan. Lalu 

terdengar suaranya melengking tinggi. 

"Pelanggaran telah terjadi di Kerajaan dan Istana Sipatoka! Orang luar menginjakkan kaki di 

pulau, masuk ke dalam Istana tanpa izin aku penguasa Kerajaan setelah Raja. Orang luar telah 

diminta untuk mengobati Raja dan Permaisuri tanpa persetujuan aku Dukun Sakti Langit 

Takambang! Pantangan telah dilanggar. Hukuman akan segera jatuh! Mati bagi orang luar!" 

"Dukun Sakti Langit Takambang!" Datuk Pangeran membuka mulut. "Angkat kepalamu dan 

lihat padaku!" 

Perlahan-lahan Dukun Sakti itu angkat kepalanya. Wajahnya tetap saja tidak terlihat jelas 

karena penuh corengan hitam dan tertutup rambut putih. Hanya sepasang matanya kelihatan 

memandang menyorot ke depan. 

"Aku Putera Mahkota Kerajaan Sipatoka. Yang sakit adalah ayah dan ibukul Aku punya 

tanggung jawab dan kekuasaan untuk mencari jalan penyembuhan bagi mereka. Orang luar ini aku 

yang membawanya ke sini...." 

"Orang luar tidak berhak mengobati Raja! Itu sudah jadi ketentuan!""Persetan dengan ketentuan! Kau sendiri selama dua bulan tidak mampu mengobati Raja dan 

Permaisuri. Penyakit mereka semakin parah hari demi hari!" 

Dukun Sakti berpaling pada Tua Gila lalu berkata. "Orang luar, lekas tinggalkan pulau ini 

sebelum kutuk jatuh atas dirimul" 

"Jangan perdulikan orang ini!' kata Datuk Pangeran pada Tua Gila. Lalu dengan tangan 

kirinya pemuda itu mendorong Dukun Sakti hingga terjajar ke samping. 

Tua Gila melangkah cepat mendekati gentong. Di dinding tergantung sebuah gayung. Dengan 

gayung ini dia menciduk cairan dalam gentong lalu diperhatikan dan diciumnya berulang kali. 

Cairan itu berwarna coklat butak kehitaman. Baunya anyir sekali. Ketika dia berpaling ke kanan 

Dukun Sakti itu tak ada lagi di tempat itu. 

Kemana perginya orang tadi?" tanya Tua Gila. "Jangan perdutikan dia. Yang penting apakah 

kau sudah tahu apa adanya cairan dalam gentong itu." 

"Sebelum aku katakan apa adanya cairan ini, lebih baik kau memberi perintah pada perajurit 

Kerajaan untuk mengawasi Dukun Sakti itu. Jangan sampai dia melarikan diri..." 

"Eh. apa maksudmu orang tua?" 

"Cairan obat ini mengandung racun ular mematikan. Takarannya sengaja dibuat encer hingga 

orang yang meminumnya akan menemui ajal dalam jangka waktu lama secara perlahan-lahan!" 

Berubahlah paras Datuk Pangeran. Dari saku celananya dikeluarkannya sepotong bambu. 

Lalu ditiupnya kuat-kuat berulang kali. Belasan perajurit Kerajaan menghambur masuk ke atas 

bangunan. Datuk Pangeran mengatakan sesuatu. Mereka cepat tinggalkan tempat itu sambil 

berteriak hak ...huk...hak ..huk dan acung-acungkan tombak di tangan masing-masing. 

"Orang tua, kau harus membuktikan bahwa cairan dalam gentong ini benar-benar 

mengandung racun mematikan. Kalau tidak terbukti dan ternyata kau menebar fitnah, kau akan 

kupancung sebelum matahari tenggelam!" 

"Dalam perjalanan ke sini aku banyak melihat tikus hutan berkeliaran di tengah jalan. Harap 

perintahkan orang-orangmu menangkapnya barang seekor dan bawa ke sini!" 

Datuk Pangeran kembali meniup peluit bambunya. Belasan perajurit berdatangan dengan 

cepat. Setelah mendengar ucapan sang Putera Mahkota mereka segera pergi. Tak berapa lama kemudian lima orang muncul membawa masing-masing seekor tikus hutan. 

"Dasar manusia-manusia geblek! Diminta seekor dibawa sampai lima tikus!" kata Tua Gila 

mengomel dalam hati. 

Tua Gila mengambil seekor tikus yang paling besar. Dia memegang binatang ini pada bagian 

lehernya lalu dipencetnya kuat-kuat. Begitu tikus mencicil dan membuka mulutnya lebar-lebar 

Tua Gila segera guyurkan cairan dalam gayung ke dalam mulut binatang itu. Tikus hutan 

menggelepar-gelepar beberapa kali. Tua Gila meletakkan binatang ini di lantai. Tikus ini berlari 

kencang. Tapi cuma setengah jalan. Dekat tangga menuju ke tingkat bawah tikus hutan ini 

menggelepar dan terkapar tak berkutik lagi! Tua Gila berpaling pada Datuk Pangeran. 

"Dukun Sakti Langit Takambang! Manusia jahanam! Dia meracuni Raja dan Permaisuri!" 

teriak Datuk Pangeran marah. Dia kembali tiup peluit bambunya. Ketika sembilan perajurit 

muncul dia segara memberi perintah agar mencari Dukun Sakti itu dan menangkapnya hidup-

hidup. 

"Orang tua, kau sudah tahu obat yang diberikan Dukun Sakti itu ternyata adalah racun untuk 

dipakai membunuh kedua orang tuaku! Yang aku perlukan sekarang adalah ramuan obat untuk 

menyembuhkan mereka!-

Dari balik pakaian putihnya yang robek Tua Gila keluarkan sebuah kantong kecil lalu 

menyerahkannya pada si pemuda."Di dalam kantong kain Ini ada enam butir obat penangkal segala macam racun. Minumkan 

pada Raja dan Permaisuri masing-masing satu butir selama tiga hari." 

"Aku berterima kasih. Tapi kalau kau berhasrat hendak meninggalkan pulau saat ini aku 

terpaksa menahanmu sampai tiga hari. Sampai hari terakhir obat ini diberikan pada kedua orang 

tuaku!" 

"Kau sengaja menahanku karena tidak percaya aku benar-benar memberikan obat 

penyembuh?" Tua Gila melotot. "Kalau begitu berikan enam butir obat itu. Biar aku tenggak 

semua sekaligus!" 

"Orang tua. Jangan kau salah sangka. Aku menahanmu karena begitu Raja dan Permaisuri 

sembuh kami akan mengadakan pesta besar tanda bersyukur!" 

"Memanjatkan syukur dan terima kasih pada Tuhan tidak perlu pakai segala macam pesta. 

Cukup bersujud padanya dan mengucapkan terima kasih dengan hati yang suci!" 

"Aku sangat terkesan pada ucapanmu itu orang tua! Tapi aku tetap tidak mengizinkanmu 

pergi. Aku ingin agar Raja dan Permaisuri mengucapkan terima kasih mereka langsung padamu 

begitu mereka sembuh." 

"Ah, Aku mau cepat ternyata malah jadi berlama-lama di tempat ini!" gerutu Tua Gila dalam 

hati.



EMPAT BELAS


DATUK Pangeran Rajo Mudo melangkah di samping Tua Gila. "Pesta besar akan dilangsungkan 

besok. Apa salahnya kau menunggu satu hari lagi. Sulit diduga kapan kau akan kembali ke pulau 

ini." 

Tua Gila tersenyum. "Bukan aku, tapi kau yang harus keluar dari pulau ini Pangeran. Kau 

masih muda. Sebelum menjadi raja kau harus melihat dunia dan mencari pengalaman hidup...." 

Sang Putera Mahkota terdiam mendengar kata-kata Tua Gila itu. Sebelum dia sempat 

menyahuti mereka sudah sampai di hadapan Raja dan Permaisuri yang duduk di sebuah kursi 

panjang besar. Di hadapan mereka ada sebuah meja kecil. Di atas meja ini terletak satu kotak kayu 

dalam keadaan tertutup. 

Raja Kerajaan Sipatoka memeluk Tua Gila erat-erat. Kami ingin kau tinggal lebih lama di 

tempat ini. Permaisuri bahkan mengusulkan sejak Dukun Sakti Langit Takambang tidak diketahui 

ke mana raibnya, kau diharapkan akan jadi penggantinya...." 

Tuga Gila tertawa mengekeh. "Kalian Raja dan Permaisuri serta Putra Mahkota sama baiknya. 

Aku mengucapkan terima kasih...." 

"Tidak... Tidak, bukan kau yang mengatakan hal itu. Kami yang telah ditolong yang harus 

menghaturkan ribuan terima kasih. Sebagai tanda terima kasih yang harap jangan dilihat dari 

pemberiannya, kami ingin menyampaikan satu bingkisan kecil untukmu. Ini bingkisan tanda 

persaudaraan dari aku, Raja dan rakyat Kerajaan pulau Sipatoka. Aku Rajo Tuo Datuk Paduko 

Intan menyerahkan dengan takzim, harap kau sudi menerima...." Lalu Raja yang baru sembuh dari 

sakit akibat obat yang diberikan Tua Gila Ku mengambil kotak kayu yang terletak di atas meja, 

membuka tutupnya dan menyodorkannya pada Tua Gila. 

Si Kakek bungkuk berpakaian putih itu tampak terkesiap. Semua orang menyangka dia 

terkesiap melihat isi kotak yaitu dua potong besar emas dan sebutir berlian sebesar Ibu jari kaki. 

Padahal Tua gila terkesiap mendengar nama yang disebutkan sang Raja. 

"Raja Tuo Datuk Paduko Intan.... Datuk Paduko Intan. Aku pernah mendengar nama itu. 

Tapi lupa di mana dan kapan.."Raja Tuo Datuk Paduko Intan, aku tidak berani menerima hadiahmu. Aku menolong tanpa 

pamrih. Bahkan sebelumnya aku telah berbuat kesalahan karena menginjakkan kaki ke pulau ini 

tanpa izin...." 

Raja Sipatoka tertawa gelak-gelak. "Kejadian itu membuat aku lebih membuka mata bahwa 

kehidupan manusia ini saling berkaitan satu sama lain. Segala aturan dan larangan yang keliru akan 

ku-pupus habis dari Kerajaan Sipatoka. Kau tahu. Putra Mahkota malam tadi datang 

menghadapku meminta ijin untuk mengembara barang setahun dua tahun di luar pulau. Nah, 

terimalah bingkisan ini..." 

"Terima kasih Rajo Tuo. Tapi aku tak dapat menerimanya. Aku hanya bisa menyampaikan 

rasa terima kasih besar atas kebaikanmu...." 

Raja Sipatoka geleng-gelengkan kepala. Semua orang yang ada di situ tentu saja tak dapat 

mempercayai kalau si kakek menolak hadiah yang begitu besar. 

"Orang tua, aku jadi ingat pada cerita yang pernah kudengar dari istri pertamaku dulu sebelum 

dia meninggal dunia waktu melahirkan. Dia sering menceritakan kehebatan seorang jago tua 

berkepandaian tinggi yang adalah ayahnya sendiri. Orang tua itu punya sifat aneh yaitu sering 

menolong tapi selalu menolak apa saja yang diberikan orang padanya. Dia begitu mengagumi sang 

ayah tapi sekaligus juga sangat membencinya. Menurut istriku karena ayahnya itulah maka ibunya 

menderita seumur hidup. Dan kau percaya atau tidak, istriku itu seumur hidupnya tidak pernah 

melihat atau mengenal ayahnya!" 

Tua Gila mendadak merasakan lututnya bergetar. Dia punya firasat aneh. Maka dia membe-

ranikan diri bertanya. "Kalau aku boleh tahu siapakah nama mendiang istrimu itu Rajo Tuo?" 

"Andam Suri." 

Getaran di lutut Tua Gila menjalar naik ke dada. Tengkuknya terasa dingin. Dia kembali 

bertanya. "Apa kau tahu siapa nama ayah istrimu itu Rajo Tuo?" 

"Kalau aku tidak salah istriku pernah menyebut namanya. Aku hanya ingat nama depannya, 

lupa nama belakangnya. Namanya Sukat...." 

Dada Tua Gila berguncang keras. Parasnya yang pucat seperti mayat itu tampak bertambah pucat


"Sukat apa aku lupa..." menyambung Rajo Tuo Datuk Paduko Intan. "Tapi aku ingat benar 

beberapa gelar yang diberikan orang padanya. Ada yang menyebutnya Pendekar Gila Patah Hati. 

Ada yang menggelarinya Iblis Gila Pencabut Jiwa. Tapi dia lebih dikenal dengan Julukan Tua 

Gila." 

Keringat memercik di kening Tua Gila. "Ya Tuhan apa betul saat ini aku berhadapan dengan 

menantuku sendiri?! Suami dari anak yang tidak pernah aku lihat seumur hidupku?" 

Menggemuruh suara hati Tua Gila. 

"Agaknya kau kurang senang mendengar kisah hidupku di masa lalu." kata Rajo Tuo. "Biar 

kita lupakan si Tua Gila itu. Sekarang aku mohon kau menerima hadiah ini." 

"Maafkan aku Rajo Tuo. Aku benar-benar tidak bisa menerima pemberianmu ini. Biarlah 

kebaikanmu tetap menjadi pahala yang besar di hari kemudian." 

Rajo Tuo menghela napas dalam. Kotak kayu itu ditutupnya kembali dan diletakkannya di 

atas meja. Dia memandang pada Tua Gila lama sekali hingga si kakek menjadi kecut kalau-kalau 

sang raja tahu bahwa dialah Tua Gila yang disebut-sebutnya tadi. 

"Orang tua. Jika kau tidak mau menerima hadiah itu, kuharap kau jangan menampik 

pemberianku yang satu ini," Rajo Tuo berkata sambil berpaling pada istrinya. Permaisuri Kerajaan 

Sipatoka menanggalkan sebuah kantong kecil yang tergantung di pinggangnya lalu diserahkannya 

pada suaminya. Rajo Tuo membuka kantong itu. Dari dalam kantong dikeluarkannya sebuah 

kotak kecil terbuat dari perak. Dia membuka kotak sambil melangkah mendekati Tua Gila. 

Dari dalam kotak diambilnya seuntai kalung perak bermata sebuah batu hijau yang redup dan 

buruk bentuknya. 

Barang ini bernama Kalung Permata Kejora. Bentuknya buruk tapi mengandung kekuatan 

dan khasiat kesaktian luar biasa. Kalung ini diberikan oleh ibu Andam Suri kepada puterinya itu 

melalui seseorang disertai pesan bahwa dia harus mencari Tua Gila dan membunuhnya dengan 

kalung ini. Hanya kalung ini yang bisa menewaskan orang tua penyebab segala derita dan penimbul 

segala bala itu!"Tua Gila ternganga. Sepasang matanya yang tebar memandang tak berkesip. Dalam hati dia 

berkata, "Aku pernah mendengar riwayat kalung ini. Kukira hanya cerita kosong belaka tetapi kini 

aku berhadapan dengan kenyataan...." 

"Orang tua, kulihat kau diam saja. Apa kau juga menolak menerima barang pusaka sakti ini?" 

Tua Gila mendehem beberapa kali. "Aku orang tolol. Bagaimana membuktikan kalung ini 

memiliki kekuatan dan khasiat serta kesaktian seperti yang kau katakan itu Rajo Tuo?" 

"Aku memang tidak pernah membuktikannya. Tapi aku percaya pada kesaktian yang 

dimilikinya. Jika kau tidak percaya silahkan kaupegang kalung Ini!" Rajo Tuo lalu menyerahkan 

kalung perak bermata batu hijau itu kepada Tua Gila. Si orang tua segara mengambilnya. Tapi dia 

berseru kaget. Begitu kalung dan matanya berada dalam genggamannya dia merasa seolah 

memegang sebuah batu raksasa. Tak ampun lagi tubuhnya tertarik daya berat luar biasa dan 

terbanting ke lantai. Kalung Permata Kejora jatuh di depan kakinya. 

Tua Gila mengerenyit menahan sakit. Telapak tangannya terasa pedas seperti terbakar. Kedua 

lututnya seolah remuk. 

"Sekarang apakah kau percaya pada kesaktian yang terkandung dalam kalung itu?" Tua Gila 

meringis dan mengangguk. 

"Kalau begitu harap kau ambil kalung itu kembali!" 

Dengan tangan gemetar Tua Gila mengambil kalung yang tercampak di lantai. Astaga! Kalung 

itu kini ternyata ringan sekali dan dengan mudah diangkatnya. Lalu dia berdiri. Rajo Tuo 

mengambil kalung itu dari tangan Tua Gila, memasukkannya ke dalam kotak perak. Setelah itu 

kotak perak dimasukkannya lagi ke dalam kantong kain dan akhirnya kantong kain diserahkannya 

pada Tua Gila. 

"Orang tua, dengar baik-baik. Aku meminta bantuanmu untuk mengembalikan Kalung 

Permata Kejora itu pada ibu mendiang istriku...." 

Tua Gila jadi terbelalak. Tapi karena matanya memang sudah lebar maka tidak ada yang mem-

perhatikan kelainan wajahnya. 

"Perempuan itu sekarang sudah menjadi seorang nenek-nenek kira-kira seusiamu. Namanya 

Sabai Nan Rancak. Aku menylrap kabar selama bertahun-tahun mertuaku itu berusaha mencari dan membunuh Tua Gila, ayah dari anaknya sendiri yang kini jadi musuh besarnya. Setahuku dia 

punya satu kendala besar. Tua Gila demikian saktinya hingga tidak bisa dibunuh kalau tidak 

dengan kalung sakti Ini. Walau kemudian aku menylrap kabar bahwa Sabai Nan Rancak telah 

memiliki satu ilmu kesaktian yang disebut pukulan Kipas Neraka yang akan sanggup menghabisi 

Tua Gila, namun aku merasa mempunyai kewajiban untuk mengembalikan Kalung Permata 

Kejora kepadanya. Nah, maukah kau menolong aku mencari perempuan itu dan menyerahkan 

kalung ini padanya?" 

Tua Gila tak bisa menjawab. Bernapaspun rasanya dia jadi merasa kecut! Sabai Nan Rancak 

telah menjadi musuh besarnya yang kini tengah mengejarnya dan ingin membunuhnya dengan 

segala cara! Sekarang Rajo Tuo meminta dia menemui si nenek untuk menyerahkan Kalung 

Permata Kejora itu! 

"Urusan gila! Apa aku jelaskan saja terus terang padanya bahwa aku adalah si Tua Gila itu?" 

"Sobatku orang tua, kau belum menjawab permintaanku. Bersediakah kau menolongku 

mencari Sabai Nan Rancak lalu menyerahkan benda pusaka sakti ini padanya?' 

"Rajo Tuo. Kau adalah menantu Sabai Nan Rancak. Mengapa tidak kau saja yang pergi 

mencari dan menyerahkan benda ini?" ujar Tua Gila berusaha mencari jalan untuk melepas diri 

dari tugas gila itu. 

"Di Kerajaan pulau Sipatoka ini kami punya aturan yang tak boleh dilanggar. Siapapun yang 

jadi Raja tidak boleh meninggalkan pulau dengan alasan apapun." 

"Kalau begitu mengapa tidak puteramu yang gagah ini yang melakukan?" 

Rajo Tuo Datuk Paduko Intan tersenyum dan gelengkan kepala. Dia masih terlalu muda. 

Dunia luar apalagi yang disebut rimba persilatan penuh dengan seribu satu macam tipu daya yang 

bisa menimbulkan bencana. Aku tak ingin terjadi apa-apa dengan Putera Mahkota Kerajaan 

Sipatoka.... Lain dengan kau. Kau tentu manusia penuh pengalaman dan sanggup menghadapi 

segala macam tangkal." 

Tua Gila menarik napas dalam. "Bagaimana lagi caraku menolak?" pikirnya. 

Tiba-tiba Datuk Pangeran Rajo Mudo mengambil kantong kain berisi kotak perak dari 

tangan Raja lalu memasukkannya ke dalam genggaman tangan kanan Tua Gila. Lalu pada ayahnya pemuda ini berkata. "Raja, sahabat kita telah bersedia membawa kalung itu. Tak ada yang perlu kita 

risaukan lagi...." 

"Terima kasihku orang tua..." kata Rajo Tuo pula. 

"Mampus akui" keluh Tua Gila dalam hati. "Rajo Tuo. Bagaimana kalau aku tidak berhasil 

menemukan Sabai Nan Rancak atau siapatahu dia sudah meninggal?" 

"Jika dalam tiga ratus hari kau tidak berhasil menemui perempuan tua itu, Kalung Permata 

Kejora menjadi milikmu," jawab Rajo Tuo yang disambut Tua Gila tanpa rasa gembira sama sekali. 

Setelah menghela napas panjang sekali lagi, Tua Gila lalu meminta diri. 

"Rajo Tuo Datuk Paduko Intan dan Permaisuri, jika diizinkan selagi hari masih pagi aku ingin 

minta diri untuk meneruskan perjalanan." 

"Kami melepas kepergianmu dengan rasa sedih tapi juga suka cita. Selamat jalan sahabatku. 

Setiap saat kausuka kau boleh datang ke pulau kami ini.... Putera Mahkota dengan segala kebesaran 

akan mengantarkanmu sampai naik perahu. Kami telah menyediakan satu perahu yang lebih besar 

untukmu. Lengkap dengan pakaian untuk bersalin dan makanan." 

'Terima kasih, terima kasih..." kata Tua Gila dengan tersenyum walau hatinya sangat galau dan 

pikirannya sangat kacau. Setelah menjura dua kali dia memutar tubuh. Baru tiga langkah berjalan 

tiba-tiba terdengar Rajo Tuo berseru. 

"Orang tua sahabatku, kau belum mem berilahu kami siapa namamu!" 

Tua Gila tercekat hentikan langkah. "Celaka, bagaimana aku harus menjawab?" Dia batuk-

batuk beberapa kali. 

"Sahabatku...?" 

"Ah.... Ooooh harap maafkan sampai aku lupa memberitahu nama. Namaku Wiro Sableng..." 

jawab Tua Gila seenaknya. Entah pikiran apa maka meluncur saja lidahnya menyebutkan nama 

murid Sinto Gendeng itu. 

"Wiro Sableng..." mengulang Rajo Tuo. "Kami akan mengenang namamu selama hayat 

dikandung badan...." 

Tua Gila menjura sekali lagi lalu cepat-cepat meninggalkan tempat itu diiringi oleh Datuk Pageran Rajo Mudo.


HAMPIR seluruh penghuni pulau itu memenuhi pantai melepas kepergian Tua Gila yang 

mereka kini kenal dengan nama Wiro Sableng. Semua mereka membawa ranting-ranting berdaun 

dan melambai-lambaikan daun itu begitu perahu yang ditumpangi Tua Gila bergerak menjauhi 

pantai. 

"Hak... huk... hak... huh!" 

"Wiro! Wiro! Wiro Sableng!" Seruan itu menggema di tepi pantai tiada henti-hentinya sampai 

akhirnya perahu lenyap. Beberapa kali ditepuknya keningnya. Bekas luka hantaman ekor buaya di 

pelipis dan pipinya terasa mendenyut kembali. 

"Bagaimana aku harus menghadapi urusan gila ini?" pikirnya. Lalu menarik napas panjang 

berulang-ulang. Angin bertiup menghembus layar perahu. Perahu meluncur lancar di permukaan 

laut berombak tenang. 

Tanpa setahu Tua Gila, di dalam laut, sesosok tubuh yang sejak tadi bergelantungan di dasar 

perahu perlahan-lahan bergerak ke arah haluan. 


*** 



                           TAMAT

PENULIS : BASTIAN TITO

CREATED : MATJENUH CHANNEL

BLOG : https://matjenuh-channel.blogspot.com



Baca Episode TUA GILA Selanjutnya ..... 

ASMARA DARAH TUA GILA



Share:

0 comments:

Posting Komentar

Post Terdahulu

https://matjenuh-channel.blogspot.com

Jumlah pengunjung

Total Tayangan Halaman

Powered By Blogger
Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Mengenai Saya

Foto saya
nama :saya matjenuh berasal dari dusun airputih desa sungainaik.buat teman teman yang ingin mengcopas file diblog ini saya persilahkan.. motto:bagikan ilmu mu selagi bermanfaat buat orang lain agama:islam.. hobby:main game

Memburu Iblis

 

Pengikut

Blog Archive